Pembukaan Bulan Maria di Gereja Santa Clara dalam Inkulturasi Jawa

Umat Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara menyambut Bulan Maria ini dengan antusias dan gembira. Pada tanggal 1 Mei 2024, bertempat di Gereja Santa Clara, umat Gereja Santa Clara dan sekitarnya mengadakan Misa pembukaan Bulan Maria secara meriah.

Misa tersebut dipersembahkan dalam nuansa budaya Jawa atau inskulturasi Jawa. Para petugas, khususnya para penari, pengusung atau penandu patung Bunda Maria, para sinden dan penabuh gamelan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap.

Mengawali Misa, Patung Bunda Maria ditandu dari Pelataran Maria yang terletak di halaman atas menuju ke dalam gereja diiringi lagu-lagu Jawa yang dinyanyikan oleh para sinden bersama penabuh gamelan.

Para penari gembira menyambut “Bulan Maria” (Foto-foto oleh Wahtu/Komsos Santa Clara)

Ketika para penari pengiring dan para penandu patung masuk ke ruangan gereja, umat menyambut Bunda Maria dengan lilin bernyala dan rosario di tangan. Mereka seakan berkata “Selamat Datang, Bunda. Berdoalah bersama kami di hadapan Putramu.” Ratusan intensi Misa yang umat minta untuk didoakan dalam Misa tersebut dibacakan oleh komentator.

Doa Rosario Lima Peristiwa Mulia kemudian didaraskan, dipimpin oleh anggota beberapa kelompok kategorial yang ada di Gereja Santa Clara.

Misa dipimpin oleh Romo Sandro Simanjorang, SVD. Dalam khotbahnya, Romo Sandro mengatakan bahwa Bulan Mei dan Oktober dipersembahkan secara khusus kepada Bunda Maria, dan pada kedua bulan tersebut gua-gua Maria di mana-mana penuh sesak oleh peziarah.

Namun, kata imam asal Medan ini mengingatkan, umat semestinya selalu berdoa Rosario setiap hari, bukan hanya pada Mei dan Oktober.

Usai Misa, Patung Bunda Maria kembali diusung ke Pelataran Maria, dan di pelataran ini umat Kembali berdoa. (EDL)