Romo Prof Dr Franz Magnis-Suseno SJ, Podium Mahkamah Konstitusi dan Enam Puluh Tiga Tahun Mengindonesia

Kemunculan Romo Franz Magnis Suseno SJ (87) di podium Mahkamah Konstitusi dalam sidang sengketa Pilpres 2024, sudah seharusnya. Melalui kata-katanya yang bernas dan straight to the point yang disampaikan penuh keyakinan, dia mengingatkan agar bangsa ini dikelola secara terukur dengan kontrol etika dan moral yang benar. Tidak didasarkan pada nafsu rendah untuk berkuasa.

Melalui podium MK pada 2 April 2024 itu Romo Magnis melakukan panggilan dan tugasnya sebagai seorang intelektual, ahli etika dan moral sekaligus. Di bidang ini, Romo Magnis sungguh bukan manusia karbitan. Sangat berbeda dengan orang-orang yang tahu-tahu sudah berada di posisi ini atau itu karena kekuatan koneksi apalagi nepotisme seperti yang sedang dipertontonkan secara telanjang dalam kepura-puraan tingkat dewa.

Akibat pilihan sikapnya tersebut, Romo Magnis menjadi sasaran hujatan, bully. Tidak sedikit juga yang mengapresiasi semangat dan keberanian pastor keturunan bangsawan dan cerdik pandai dari Jerman kelahiran 26 Mei 1936 ini.

Siapa Romo Magnis?

Enam puluh tiga tahun lalu, pada 29 Januari 1961 sebuah pesawat terbang mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta. Ketika pintunya dibuka, tampak seorang pemuda bule dengan postur tubuh tinggi keluar lalu turun. Rambutnya pirang. Dia adalah sosok yang kemudian dikenal sebagai Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ.

Hari itu adalah hari pertama ia datang dan mengawali karyanya di Indonesia. Tanggal 29 Januari lalu ia genap enam puluh tiga tahun berkarya di Indonesia. Ya, ia berkarya sebagai seorang imam Katolik, ahli Filsafat, etika politik dan etika Jawa.

Selama enam puluh tiga tahun, penyandang nama asli Franz Graf von Magnis dan anak sulung dari lima bersaudara ini mengaku menikmati hidup di Indonesia. Ia mengalami hidup dalam era tujuh presiden. “Selama hidup saya di Indonesia, banyak sekali peristiwa yang terjadi. Saya datang saat Presiden Soekarno berada pada puncak kekuasaannya,” ungkap imam Katolik kelahiran 26 Mei 1936 ini ketika dijumpai di ruang kerjanya di kampus Pasca Sarjana STF Driyarkara, Jakarta beberapa waktu lalu.

Romo Magnis di pelataran gedung Pasca Sarjana STF Driyarkara, Jakarta.

Langsung Kerasan

Sejak pertama kali menginjakkan kakinya, Magnis mendapat kesan yang baik tentang Indonesia. Ia merasa diterima dengan baik, dan karenanya ia kerasan. “Saya mendapat kesan baik dengan Pulau Jawa di mana saya mendarat. Saya cukup cepat yakin bahwa saya akan kerasan di Indonesia. Dan pengalaman itu tidak pernah terancam oleh pengalaman lain sampai hari ini,” jelasnya.

Sesampai di Indonesia, ia langsung menuju Ungaran, Jateng. Di sana ia mendapat kesempatan belajar bahasa Jawa selama 13 bulan dan bahasa Indonesia selama lima bulan. Ia menggunakan kesempatan ini dengan baik. Selain berinteraksi dengan teman komunitasnya, ia berhubungan langsung dengan masyarakat. Tidak jarang orang terkagum-kagum melihat ketekunannya, khususnya ketika ia mempelajari bahasa Jawa. Selama empat bulan ia tinggal di desa di Kulon Progo untuk belajar langsung dari masyarakat.

Dari ketekunan inilah kemudian Magnis fasih berbahasa Jawa dan kemudian terkenal sebagai ahli etika Jawa, bahkan menghasilkan beberapa buku tentang etika Jawa. Dalam upayanya belajar bahasa dan kebudayaan Jawa, ia menyebut nama Romo Kuntoro SJ dan Mgr. Leo Soekoto sebagai orang-orang yang banyak membantunya. Selain itu ia banyak membaca buku tentang kebudayaan Jawa.

Mendirikan STF Driyarkara

Pada tahun 1969, meski masih sangat muda Romo Magnis muda, sudah dipercaya ikut mendirikan STF Driyarkara. Dari sini dia berkenalan dengan banyak orang Indonesia seperti Fuad Hasan yang menjadi dosen pertama STF Driyarkara. “Sampai dia meninggal tentu saja saya sangat dekat dengan beliau,” kenang Magnis.

Tahun 1973 dia bertemu dengan Cak Nur yang masih muda. “Saya minta Cak Nur mengajar Islamologi. Dari situ terbangun hubungan yang sangat erat dan kritis di antara kami,” ungkap pria kelahiran Eckersdorf, Silesia, Kabupaten Glatz, Jerman ini singkat.

“Dan yang paling berarti adalah Gus Dur. Saya mengenal Abdurachman Wahid muda pada tahun 70-an, lalu sering ketemu sama-sama di Forum Demokrasi. Gus Dur kadang-kadang orang yang nganeh-anehi. Setiap kali bertemu, saya merasa diperkaya. Dari Gus Dur saya belajar mengenai wawasan, kemanusiaan,” jelas pria yang resmi menjadi WNI sejak 1977 ini.

Magnis mengaku banyak belajar tentang Islam dari Gus Dur dan Cak Nur. ”Jadi pandangan saya tentang Islam tidak ditentukan oleh sedikit studi yang saya lakukan, tapi oleh perjumpaan saya dengan banyak orang termasuk Gus Dur, Cak Nur dan Pak Syafii Maarif,” jelas guru besar Filsafat pada STF Driyarkara ini.

Dalam berbagai perjumpaan dengan banyak orang, Magnis mengalami pandangan-pandangannya tentang banyak hal selalu dihormati meskipun ia tidak selalu sependapat dengan mitra-mitra diskusinya. Karena perjumpaan-perjumpaan itu, Magnis pernah beberapa kali diminta menjadi saksi ahli dalam perkara mahasiswa yang dicap komunis oleh Orde Baru karena aksi mereka menentang SDSB. Mereka antara lain berasal dari Partai Rakyat Demokrat.

Oleh karena keahliannya pula, Romo yang pada masa mudanya gemar naik gunung menjadi saksi ahli untuk Barada E dengan kasus yang sangat terkenal itu.

Pengalaman Paling Lucu

Senang atas perlakuan yang baik adalah hal biasa. Namun, Magnis merasa menikmati aksi aliansi komunis yang membakar bukunya tentang Marx pada tahun 2001. “Saya anggap lucu bahwa mereka membakar buku yang sebetulnya mengeritik Marx. Jadi ini peristiwa paling lucu. Mereka tidak bisa membedakan antara orang kiri dan orang yang menulis tentang kiri. Pimpinan aliansi itu pernah datang ke kantor saya. Saya memberikan mereka masing-masing 1 eksemplar buku dengan tandatangan saya sambil berpesan, ‘buku ini bisa dipakai untuk bungkus nasi, atau untuk api-api atau bisa juga untuk dibaca. Mereka bilang, kami akan baca. Saya lalu bilang syukur alhamdulillah. Tapi kalau mau bakar juga boleh”.

Katanya lagi, “Saya ini Yesuit. Yesuit punya motto ‘Harus tahu bagaimana lawan berpikir’. Komunisme kami anggap lawan dan paling serius juga lawan gereja Katolik. Saya sangat anti komunis dan karena itu kami atau saya mempelajarinya,” jelasnya lagi.

Nilai Tinggi Presiden Habibie

Meski Magnis mengalami enam presiden Indonesia, namun tidak semua presiden pernah ia jumpai secara langsung. “Yang sangat pasti, saya tidak pernah bertemu langsung dengan Bung Karno. Tapi saya banyak mendengar tentang beliau,” akunya. Ia paling banyak berjumpa dengan Gus Dur. Dengan B.J. Habibie ia mengaku pernah berkenalan namun tidak pernah bertemu saat mantan Menristek zaman Orba itu menjadi Presiden. “Namun saya punya penilaian tinggi terhadap Pak Habibie,” aku Magnis.

Di mata Magnis, sebagai presiden, B.J. Habibie memiliki beberapa jasa yang luar biasa. Yang pertama, meskipun dianggap tokoh khas Orba, dalam waktu singkat Habibie membuka kran demokrasi. Ia juga yang membebaskan para tahan politik. Hanya selang waktu satu minggu kekuasaannya ia telah membebaskan para tahanan politik. Sensor pers dibubarkan dan membuka kesempatan berdirinya partai politik yang baru.

“Saya pernah tanya kepada Pak Habibie, kenapa bisa begitu? Dia bilang, saya harus cepat-cepat. Kalau tidak, perlawanan akan terlalu besar”. Dia begitu cepat sehingga militer tidak bisa menghentikannya.

Kedua, kesediaan untuk memberikan kemerdekaan kepada Timor Timur Magnis nilai sebagai sikap legowo. “Klaim bahwa kita berhak atas Timor-Timur adalah salah satu kebohongan Orba,” jelas Magnis.

Ketiga, Habibie turun tahta in style, artinya ia memberi contoh bagaimana seorang penguasa berhenti apabila waktunya sudah datang. Dia tidak mengerutu. “Hal ini yang paling saya hargai,” tegas Magnis.

Keempat, meski dia ketua ICMI dan dalam kabinet Habibie banyak orang ICMI, namun kebijakan politiknya tidak anti minoritas atau anti kristiani. “Dan sebetulnya di bawah Habibie ketegangan antara ICMI dan minoritas berkurang. Ini karena Habibie terbuka.

Lanjutnya, memang banyak serangan kepada Habibie karena dianggap masih Orba dan mau disapu bersih tapi sebetulnya dia membawa diri secara excellent. Dia punya karakter. Dia orang berkuasa di bawah Pak Harto tapi tidak haus kuasa. Dia presiden ketiga republik ini yang bagus,” aku penulis  lebih dari 40 buah buku dan 700-an artikel yang tersebar di berbagai media baik di dalam maupun luar negeri.

Buku-buku Magnis antara lain adalah Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi, Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Kuasa dan Moral, 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani sampai Abad ke-19, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, 13 Model Pendekatan Etika, Mencari Makna Kebangsaan, Filsafat Kebudayaan Politik, Dalam Bayangan Lenin: Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka.

Ketika diajak berbicara tentang pengalaman uniknya sebagai seorang bule di Indonesia, Magnis bercerita bahwa masih ada orang bertanya, “How long you have been in Indonesia atau can you speak Indonesian?” padanya. Biasanya orang lain yang sudah mengenalnya langsung tertawa lebih dahulu dengan suara keras sambil mengatakan, “Ini orang lebih lama di Indonesia dari saya,” ungkap pria yang pada bulan Mei nanti genap berusia 87 tahun ini sambil tertawa menirukan.* (EMANUEL DAPA LOKA)

SISI LAIN ROMO MAGNIS, Dikira Hantu https://www.tempusdei.id/2024/04/11360/sisi-lain-romo-magnis-suseno-pernah-dikira-hantu.php