Ganjar Pranowo, Lisa Tirto, Korupsi dan Matinya Partisipasi Publik

47
Emanuel Dapa Loka

Oleh Emanuel Dapa Loka, Lakawa Piero, Wewewa Barat, SBD

Segera setelah terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo cepat-cepat menghadap Ibunya untuk memberi laporan, walau dia tahu bahwa sang ibu sudah tahu informasi  keterpilihannya itu media. Ganjar mau, informasi itu sang ibu dengarkan langsung dari mulutnya. Itulah salah satu cara sederhana Ganjar menunjukkan hormatnya pada sang ibu sekaligus menjadi sebentuk syukur kepada Tuhan.

Dia memeluk ibunya sambil memberitahukan berita keterpilihannya itu. Ketika itu sang ibu tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Dia memeluk Ganjar erat-erat dan menepuk-nepuk punggung putranya itu sambil berkata, ”Layani rakyat dan jangan korupsi”.

Tentu saja pesan sang ibu bukan asal pesan atau pesan asal-asalan. Menariknya, dia menggandeng dua pesan tersebut menjadi serangkai. Pengandengan tersebut, tepat! Sebab, bagaimana mungkin seorang koruptor bisa diharapkan menjadi pelayan yang setia bagi rakyat.

Tidak bisa diharapkan ikhtiar melayani yang all out darinya sebab dia sudah mencadangkan hati, pikiran dan daya-daya kreatifnya untuk hal-hal yang menggerus hati, pikiran dan moralnya.

Bagaimana mungkin seorang yang berjiwa koruptor mau benar-benar hadir di tengah rakyat yang dipimpinnya untuk memberi hati, pikiran dan seluruh dirinya?

Hal semacam ini yang juga bersemayam dalam nurani, jiwa dan pikiran Lisa Tirto, pendiri sekaligus pemilik perusahaan air mineral Aqua.

Suatu pagi, Lisa Tirto memanggil salah seorang manajernya bernama Laurensius Jumadi ke ruang kerjanya.

Lisa mengajak manajer lulusan Fakultas Filsafat Teologi Universitas Sanara Dharma Yogyakarta itu untuk berdiskusi tentang berbagai hal menyangkut kehidupan dan keberlangsungan perusahaannya.

Salah satu yang menjadi perhatian Lisa adalah berbagai tindakan korupsi yang seakan tidak pernah berhenti di negeri ini.

Lisa tampak sedih atas berita kejahatan luar biasa atau extraordinary crime itu. Salah satu hal yang paling dia khawatirkan dari tindakan korupsi itu adalah hilangnya kepercayaan publik dan selanjutnya menggerus semangat, atau pada gilirannya memberangus partisipasi masyarakat.

”Laurens, ciptakan kontrol agar jangan ada yang korupsi. Berikan pengaruh positif, dan semua yang saya maksudkan itu pasti kamu tahu,” kata Lisa.

Kata-kata dalam tanda petik tersebut serta-merta muncul dalam ingatan Laurens ketika Ibu Lisa meninggal 31 Juli 2023 lalu.

Tidak sekadar teringat. Laurens dalam kerja-kerjanya kian terajak menghidupi untuk dirinya sendiri, lalu melalui kata-kata dan tindakan berusaha mengingat rekan-rekan kerja atau bawahannya.

Bagi Laurens sendiri, akar dari sikap dan tindakan koruptif itu adalah rasa tidak cukup dan tidak bersyukur. Jika kedua ”penyakit” tersebut sudah ada dalam diri seseorang kata Jumadi, maka apa pun akan dilakukan. Yang bukan milik pun diambil, dirampas bahkan dirampok tanpa rasa bersalah.

Orang semacam ini sadar atau tidak, berusaha mematikan imajinasinya atas nasib orang lain akibat tindakan korupsinya. Jabatan atau posisi yang semestinya untuk melayani akan dia pakai untuk bersiasat bagi keuntungan pribadinya memenuhi keinginan yang tiada batasnya.

Tentang korupsi, Lord Acton dari Inggris sudah mengingatkan untuk berhati-hati dengan dalam hubungannya dengan kekuasaan yang ada di tangan.

Kata Lord, Power Tend to corrupts, and absolute power, corrupt absolutely – kekuasaan itu cenderung korup, dan kekuasaan absolut akan korup secara absolut.

Secara puitis petinju legendaris Muhammad Ali mengatakan, The man who has no imaginations, has no wings to fly—manusia yang tidak memiliki imajinasi, tidak memiliki sayap untuk terbang.

Menurut saya, koruptor adalah manusia tanpa imajinasi. Jika ia memiliki imajinasi, maka dia bisa membayangkan nasib orang-orang lain akibat tindakan korupnya.

Dengan bayangan itu, dia tidak akan tega melakukan korupsi. Sebab dengan imajinasinya, dia bisa membayangkan betapa banyak orang terjerembab dalam kemiskinan, tak bisa bersekolah, menanggung derita dan sebagainya.*