Perlawanan untuk Kerajaan Allah

Pater Kimy Ndelo, CSsR, Dari Pulau Sumba, Indonesia Selatan

Istilah “perumpamaan” berasal dari kata Yunani “parabole“. Artinya meletakkan dua hal secara berdampingan untuk membandingkan atau mempertentangkannya.

Yesus selalu menggunakan perumpamaan untuk mengajar tentang Kerajaan Allah agar para pendengarnya memahami secara lebih konkret. Dalam masyarakat dengan latar belakang hidup bertani, Yesus menggambarkan Kerajaan Allah sebagi benih yang ditaburkan oleh penabur.

“Dan sebagian jatuh di tanah yang baik dan berbuah. Ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat 13:8). Injil Markus mengurutkan terbalik, tiga puluh, enam puluh dan seratus (Mar 4:8).

Perumpamaan tentang benih yang tumbuh subur di tanah yang baik dengan hasil yang berlipat ganda, nampaknya bagai sebuah mukjizat. Sepertinya Yesus melebih-lebihkan. Akan tetapi hal ini sesungguhnya sebuah peristiwa alam atau fenomena biologis pertanian yang biasa-biasa saja. Dan para pendengarnya saat itu sungguh paham.

Sebutir benih ketika jatuh dalam tanah dan tumbuh, awalnya satu anakan tapi kemudian dia bisa beranak dua atau bahkan lebih anakan pada usia tertentu. Ketika sudah keluar bulirnya, tiap anakan bisa menghasilkan 30 butir gandum. Jika ada dua anakan maka hasilnya 60 butir gandum. Tiga anakan menghasilkan 90 atau 100 butir gandum.

Bayangkan dengan sistem pertanian modern sekarang, satu biji padi yang tumbuh bisa menghasilkan anakan sebanyak 20 atau lebih. Bisa dihitung berapa biji padi yang dihasilkan oleh 20 batang padi. Ini jumlah yang berlipat ganda, lebih dari yang dikatakan oleh Yesus.

Hal inilah yang diibaratkan oleh Yesus dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah diwartakan seperti benih yang ditaburkan. Hambatan atau penolakan pasti ada. Ada musuh yang tidak menginginkan hal ini terwujud. Tetapi realitas juga menunjukkan bahwa di tempat dan waktu lain Kerajaan Allah itu terus berkembang dan menghasilkan buah. Bahkan buah yang berlipat ganda.

Benih Kerajaan Allah itu bukan hanya akan mendapatkan perlawanan dari luar. Perlawanan atau penolakan juga bisa terjadi dalam diri seorang murid Yesus. Musuh Kerajaan Allah yang pertama-tama seringkali adalah diri sendiri.

Seorang pribadi bisa memiliki empat karakter “lahan” tempat jatuhnya benih Kerajaan Allah. Dia bisa menjadi “pinggir jalan”, bisa menjadi “tanah yang berbatu-batu”, bisa juga menjadi “semak duri”. Dan tentu saja bisa menjadi “tanah yang subur”. Dia bisa memiliki empat karakter sekaligus atau hanya satu atau dua karakter.

Karena itu penting sekali bagi setiap orang Kristiani untuk menguji kesadarannya sendiri. Pribadi macam apakah aku ini bagi benih Kerajaan Allah? Buah-buah rohani macam apakah yang telah kuhasilkan setelah mendengarkan warta tentang Kerajaan Allah?

Seorang kepala suku Indian kuno di Amerika bercerita kepada para anak mudanya bagaimana perjuangan di dalam diri seseorang.

“Perjuangan itu bagaikan dua ekor anjing yang berkelahi,” katanya. “Satu anjing ingin melakukan yang baik. Anjing yang lainnya ingin melakukan yang jahat. Mereka menggonggong dan menggeram satu sama lain sepanjang waktu”.

“Lalu siapa yang akhirnya menang?”, tanya seorang anak muda. “Anjing yang kamu beri makan”, begitu jawab kepala suku.

Sifat atau karakter apa pun yang selalu dipupuk, entah baik atau jelek, itulah yang akan menang dan menguasi diri kita masing-masing.

Salam hangat dari Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris Weetebula, Sumba, NTT