Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga?

330

Oleh Bartholomeus Boli, Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik Unika Weetebula, Sumba – NTT

Judul tulisan ini, terinsiprasi dari lirik lagu Harry Tjahjono dalam sinetron lama Keluarga Cemara. Benarkah keluarga yang paling berharga? Hemat saya, yang paling berharga adalah “perhatian”.  Perhatian itu berakar pada hidup. Kita sebagai makhluk sosial berakar pada kesadaran sebagai sesama manusia.

Perkembangan karakter anak remaja di zaman ini, menjadi tanda tanya besar, persis karena  banyak keluarga tidak memiliki perhatian dengan berbagai alasan.

Orang tua memang mempunyai harapan yang besar pada masa depan remaja. Sayangnya, aca kali harapan berada di satu sisi, sedangkan perhatian di sisi lain. “Kacaunya” lagi, jembatan yang menghubungkan keduanya rapuh.

Idealnya, perhatian yang baik harus tumbuh dalam keluarga. Jangan sampai keluarga justru menjadi tempat yang tidak nyaman bagi anak, dan karenanya, sang anak selalu menghindari rumahnya sendiri.  Tidak bisa tidak, keluarga harus terasa sebagai rahim yang memberi perlindungan dan kenyamanan.

Pada dasarnya seorang remaja dalam perkembangan karakternya mengalami berbagai hal baru. Misalnya perasaannya mudah berubah-ubah.

Bisa saja sang remaja merasa senang, sedih dan kadang takut, dan semuanya dalam interval waktu yang cepat (Bdk. Susanto, 2018).

Oleh karena itu dalam bimbingan, seorang konselor harus memahami situasi dan kejiwaan anak bimbingannya.

Keluarga berperhatian adalah mutiara.

Beberapa hal ini bisa menjadi tools dalam meningkatkan kematangan emosi remaja. Pertama,  perhatian. Keluarga adalah sekolah umum atau sekolah pertama tempat anak-anak menimba pengetahuan pertama.

Karena itu, orang tua harus selalu membiasakan remaja untuk menjaga diri, jujur dan bertangggungjawab.

Apabila perhatian orang tua kendor (tidak sama dengan mengekang), maka terbuka kemungkinan anak salah jalan. Untuk itu, arahkanlah perhatian pada hal-hal yang positif.

Kedua, komunikasi. Komunikasi yang baik dan benar dalam memberikan motivasi seperti teguran dan nasihat yang proporsional akan berdampak baik. Suasana komunikasi yang baik bisa muncul saat makan bersama, atau nonton bersama.

Di saat-saat inilah remaja merasa ada kedekatan batin dengan orang tua. Upayakan komunikasi yang ramah. Jangaan sampai anak merasakan acara makan bersama atau nonton bersama itu sebagai ruang “pengadilan” yang  menegangkan. Dan kondisi ini sangat tidak baik.

Ketiga, emosi dan daya kontrol diri. Jika hal ketiga ini tidak terperlihara, pikiran yang jernih akan tertutup. Emosi seseorang bisa selalu berubah; kadang tenang damai dan kadang juga kacau.

Emosi dan pikiran yang tidak terkontrol mengguncang batin. Iyulah sebabnya, kadang terjumpai orang yang marah dan sedih tanpa alasan yang berarti. Ini bisa memicu konflik di dalam keluarga. Dan remaja yang hidup dalam tekanan seperti ini perlu mendapat perhatian ekstra. Di sinilah seorang konselor perlu cermat.

Empat, kesalahpahaman tentang arti pikiran dan emosi di dalam diri. Emosi adalah pikiran dengan daya rasa yang lebih kuat. Emosi harus dipahami sebagai kabut yang datang dan pergi.

Sampai di sini semakin jelas bahwa harta yang paling berharga adalah “Perhatian”. Karena dengan memberi perhatian yang baik kepada remaja, karakter dan mental mereka akan tumbuh dengan baik.

Tanpa perhatian, remaja akan kehilangan arah hidup. Orang tua adalah kompas penunjuk arah masa depan remaja.  Karena itu, tanpa harus berlebihan atau ikut-ikutan dengan cara orang lain, orang tua harus memberikan perhatian pada remaja.

Yakinlah! Sang remaja, dengan daya serap dan daya kritis yang terasa akan menunjukkan respons yang baik dan kerap  mengagetkan.

Jika hal yang mengagetkan itu bersifat “negatif” itu berarti orang tua sedang menghadapi ujian. Jalani, akan tiba saatnya orang tua yang bersangkutan naik kelas dengan mata berbinar karena  mendapatkan hasil yang menggembirakan.

Jadi benarlah bahwa perhatian adalah mutiara paling berharga, dan idealnya, perhatian itu tumbuh dan bertunas dalam keluarga.*