Pentakosta, Hari Ulang Tahun Gereja Semesta, Mengapa?

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Dari Pulau Sumba, Indonesia Selatan

L ebih dari seabad yang lalu, sebuah kapal layar besar terdampar di lepas pantai Amerika Selatan.

Hari demi hari kapal itu tertahan di perairan yang tenang tanpa sedikit pun angin sepoi-sepoi. Kapten putus asa,  crew sekarat karena kehausan.

Tak lama kemudian, di cakrawala jauh, sebuah kapal uap muncul, langsung menuju ke arah mereka.

Saat semakin dekat, kapten berteriak, “Kami butuh air! Beri kami air!” Kapal uap itu menjawab, “Turunkan embermu di tempatmu.” Sang kapten sangat marah atas tanggapan yang angkuh ini tetapi berseru lagi, “Tolong, beri kami air.” Tetapi kapal uap itu memberikan jawaban yang sama, “Turunkan embermu di tempatmu!” Dan dengan itu mereka pergi!

Kapten kapal berdiri sendirian  marah dan putus asa. Kemudian dia pergi ke bawah. Tapi beberapa saat kemudian, ketika tidak ada yang melihat, seorang anak buah kapal (ABK) menurunkan ember ke laut dan kemudian mencicipi apa yang ditimbanya.

Ternyata, airnya sangat tawar dan segar! Tanpa sadar, kapal itu berada di mulut sungai Amazon. Karena sungai sangat lebar maka sulit dibedakan mana sungai dan mana laut. Dan selama hari-hari itu mereka sangat kehausan sementara di kapal berlabuh tepat di atas air segar yang mereka butuhkan!

Hari Ulang Tahun Gereja Semesta

Hari ini orang Kristen merayakan hari Pentekosta. Kata “pentekosta” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kelima puluh.” Hari raya itu menerima nama ini karena dirayakan lima puluh hari setelah Hari Raya Paskah.

Nama lain untuk Pentekosta Yahudi adalah Shebuot atau “Hari Raya Mingguan” (“minggu” ketujuh yakni Sabat antara Paskah dan Pentekosta).

Awalnya hari itu adalah hari syukur atas selesainya panen. Kemudian, orang-orang Yahudi menambahkan pada Hari Raya Pentekosta unsur Perjanjian Yahweh dengan Nuh, yang terjadi lima puluh hari setelah air bah besar dan berkembang lagi sebagai syukur atas perjanjian Yahweh dengan Musa di gunung Sinai. Diyakini itu terjadi 50 hari setelah keluar dari Mesir.

Bagi orang Kristen, Pentekosta menandai akhir dari masa Paskah. Ini adalah peringatan hari Roh Kudus turun ke atas para rasul dan Perawan Maria dalam bentuk lidah api yang menyala, sebuah peristiwa yang terjadi lima puluh hari setelah Kebangkitan Yesus.

Pesta ini juga memperingati kelahiran Gereja Kristen yang ditandai dengan khotbah apostolik Santo Petrus, yang menghasilkan pertobatan 3.000 orang Yahudi menjadi Kristen.

Pentekosta lalu menjadi hari kelahiran Gereja yang didirikan Yesus hampir 2.000 tahun yang lalu.

Pada masa ini, Pentekosta bukan sekadar merayakan sebuah peristiwa iman di masa lalu, melainkan terutama merayakan apa yang sudah ada dalam diri setiap orang beriman yang dibaptis dalam Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Dengan Pembaptisan dan Krisma, setiap orang beriman dirasuki Roh Kudus yang memungkinkannya hidup dari Roh dan untuk Roh.

Dengan Roh Kudus di dalam dirinya, setiap orang hidup bukan lagi bagi dirinya dan dunia sendiri melainkan bagi Allah. Apa yang berkenan bagi Allah, itulah hidup yang menjadi mimpi dan cita-citanya.

“Jika Roh Kudus mengambil alih alam bawah sadar, dengan persetujuan dan kerjasama kita, kita akan mempunyai Kuasa kekal yang bekerja di dalam diri kita, kita dapat melakukan semua yang harus kita lakukan, kita dapat pergi ke mana kita harus pergi, kita dapat menjadi pribadi yang semestinya bagi kita”. (E. Stanley Jones).

Roh Kudus berkata kepada kita saat ini dari lubuk hati kita, “Turunkan embermu di mana pun kamu berada. Cicipi dan lihat!”.

Kita hanya perlu menyadari bahwa Roh Kudus selalu ada di saat kita membutuhkan-Nya.

Salam dari Kodi, Sumba tanpa wa