Kampus Unika Weetebula di Pulau Sumba “Bersehati”

P aus Fransiskus, pada Mei 2015 mengeluarkan seruan Laudato Si agar semua umat di dunia merawat lingkungan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan alam.

Ensiklik dengan judul” Care for our common home“ tersebut menyerukan agar setiap umat manusia mengambil peran dalam menyelamatkan  bumi dari pemanasan global, perubahan iklim, polusi dan kerusakan ekologis lainnya.

Universitas Katolik Weetebula, di Pulau Sumba secara aktif terus mendukung kampanye merawat bumi dan menjaga lingkungan lewat berbagai kegiatan “Kampusku Bersehati”.

Bersehati adalah singkatan dari Bersih, Sehat dan Indah.

Tanggal 24 Mei nanti adalah tepat 8 tahun diserukannya ensiklik Laudato Si. Dalam rangka menyongsong minggu Laudato Si tersebut, 343 mahasiswa Unika Weetebula mengikuti kegiatan Kampusku Bersehati untuk kampanye  “No Plastic” di aula kampus setempat pada Sabtu, 20 Mei 2023.

Kegiatan bersehati ini diadakan secara rutin setiap tahunnya di kampus Unika Weetebula.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada civitas academica agar mengambil peran dalam menjaga lingkungan dan melindungi bumi.

Kekuatiran akan dampak pencemaran lingkungan yang semakin meluas, menjadi alasan dirasa perlu untuk melaksanakan kampanye ini.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa diingatkan kembali akan bahaya sampah plastik, pentingnya melakukan 3 R (Reduce, Reuse and Recycle) dan melaksanakan tindakan-tindakan konkrit menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Unit Lembaga Pengembangan Pembelajaran (LP2) Unika Weetebula,  Yulita Adelfin Lede, M. Pd., menceritakan keprihatinannya tentang beberapa pulau plastik yang telah terbentuk di bumi akibat banyaknya sampah plastik di lautan lepas.

Yuluta mengharapkan agar hal ini ditanggapi secara serius karena kondisi lautan yang semakin berbahaya dan tidak kondusif bagi ekosistem laut.

Selain itu, Melkianus Suluh, M. Pd sebagai  salah satu pemateri, berbagi pengalaman tentang tindakan kecil yang berdampak yang ia lakukan semenjak di bangku kuliah.

Melki menegaskan bahwa ”jika ada yang mau ikut serta dalam mengurangi sampah plastik, kita akan sangat bersyukur, akan tetapi jika tidak ada yang mau ikut ambil bagian, cukup pastikan dirimu sendiri melakukannya”.

Beberapa mahasiswa menyatakan antusiasme dalam mengikuti kegiatan ini.

Alpi, mahasiswi semester 2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, menyatakan bahwa akan lebih sering membawa botol minum ke kampus setelah  kegiatan ini.

Sedangkan Eti, dari Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, mendukung kampanye ini dan berterima kasih karena diberikan botol yang bisa dibawa sehari-hari.

Sementara itu, Toni, juga seorang mahasiswa PGSD, bercerita bahwa ia jarang membawa air minum sendiri.

Toni lebih senang membeli air kemasan yang ada di kantin karena alasan praktis. Untuk botol kemasan kosong yang ia gunakan akan ia buang di kotak sampah di kampus atau ia bawa pulang ke tempat tinggalnya untuk nanti dibakar bersama sampah lainnya.

Toni menyatakan bahwa akan baik sekali jika botol plastik sekali pakai yang sering ia beli dapat dibuat menjadi suatu karya yang memiliki fungsi dan menarik seperti yang sering dilihatnya  di media sosial. Beberapa mahasiswa juga menimpali dengan menyatakan ketertarikan mereka untuk belajar membuat kerajinan dari sampah plastik.

Kegiatan dikemas secara sederhana, dengan beberapa games menarik bertemakan lingkungan.

Besar harapan bahwa kegiatan ini menginspirasi mahasiswa Unika Weetebula dan seluruh civitas academica untuk bergiat dalam merawat bumi, mengurangi pemakaian sampah plastik, dan menjadi agen penyebaran kampanye “no plastic” di rumah, komunitas dan dimanapun mereka berada.

Kegiatan- kegiatan Kampusku Bersehati untuk selanjutnya di antaranya adalah membuat video dan poster tentang lingkungan, penanaman pohon serta workshop pemilahan sampah dan pemanfaatan limbah plastik. (tD/Yanto)