Pesawat Mendarat Darurat

Pater Kimy Ndelo, CSsRdari Mangganipi, Sumba, Indonesia Selatan

Sebuah pesawat Air Canada, Boeing 767, pada tahun 1991, sedang dalam penerbangan. Semua penumpang sedang menikmati penerbangan.

Tiba-tiba mesin pesawat mati. Pilot pesawat mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat darurat di bandara terdekat.

Sontak terjadi keheningan yang mencekam. Kecanggihan teknologi pesawat tidak mampu membuat pesawat tetap di udara.

Semua penumpang ketakutan membayangkan kematian di depan mata. Ketakutan makin menjadi ketika pesawat mendekati landasan. Beruntung pesawat berhasil mendarat dengan selamat.

Yang terjadi sesungguhnya sebuah kesalahan kecil tapi fatal. Kru pengisi bahan bakar salah menghitung jumlah bahan bakar yang dibutuhkan sehingga pesawat kehabisan bahan bakar sebelum tiba di bandara tujuan.

Sebuah pesawat seharga milyaran rupiah, dengan tujuan yang benar tapi kehabisan bahan bakar bisa menjadi sumber malapetaka.

Begitulah hidup banyak orang di dunia saat ini. Segala sesuatu dimiliki untuk bepergian tetapi pada suatu titik mereka kehabisan “bensin”: terjadi kekosongan. Mereka tidak tahu mengapa mereka hidup.

Dalam amanat perpisahan-Nya dengan murid-murid Yesus menjanjikan Parakletos yang akan menyertai para murid-Nya (Yoh 14:15-21).

Dalam bahasa Yunani, Parakletos berarti Pembela, penasihat hukum atau atau advokat di sidang pengadilan. Parakletos bisa juga berarti penghibur atau yang menguatkan di kala menghadapi kesulitan.

Janji akan Roh Kudus bukan hal baru bagi para murid Yesus. Nabi Yehezkiel sudah mengungkapkan janji Allah kepada umat-Nya jauh sebelum Kristus:

“Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” (Yeh 36:27).

Pembela Pertama

Yesus adalah Pembela pertama kita. “Jika kita seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang Pembela pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil (1 Yoh 2:1).”

Karena peran Yesus yang terbatas oleh waktu di masa hidup-Nya, maka Dia mengutus Roh Kudus yang berperan sebagai pembela dan penghibur, tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Roh Kudus bagaikan mesin cadangan yang menggantikan peran mesin hidup kita manakala kehabisan bahan bakar. Roh ini tidak kelihatan dan banyak orang tidak percaya kepada-Nya.

Ukuran untuk menilai adanya Roh Kudus dalam diri orang adalah apakah dia mengasihi Kristus dan Allah atau tidak.

Kasih oleh karena bantuan Roh, bukan dalam bentuk perasaan atau emosi manusiawi yang biasanya muncul secara spontan.

Kasih itu diungkapkan dalam ketaatan kepada kehendak Allah Bapa, seperti ketaatan Yesus sampai akhir hidup-Nya. Kasih kepada Allah berarti melakukan segala perintah Allah tanpa keraguan dan syarat.

Orang yang mengasihi Allah dan karenanya mengasihi juga sesamanya adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus.

Seorang yang tidak membiarkan Roh bekerja dalam dirinya bagaikan seekor elang yang dibesarkan di lingkungan ayam, dan tidak menyadari siapa dirinya, dan karenanya tidak mau terbang sekalipun dia mampu.