SuaraTuan Kopong dari Manila: Pilpres 2024 adalah “Emaus Indonesia”

P aling tidak sudah ada tiga calon presiden yang siap bertarung di panggung demokrasi Indonesia, Pilpres 2024. Dan hari-hari ini masyarakat Indonesia mulai ramai membicarakan calonnya masing-masing.

Ada yang membanggakan calonnya dengan menyudutkan calon lain, ada pula yang masih kecewa, sedih dan marah dengan calon lain yang dinilai menjadi alasan pembatalan Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia U-20.

Semua cerita dengan segala narasi bangga, bahagia, sedih, kecewa bahkan menghakimi calon lain menjadi cerita para pendukung dalam perjalanan menuju “Emaus-Pilpres 2024”.

Semua kisah itu terutama kisah pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia menutupi semua kisah kelam perjalanan republik ini yang masih rakus dengan korupsi, yang masih penuh dengan pengrusakan lingkungan dan keutuhan ciptaan, yang masih takut dengan perbedaan dan yang masih suka menjadikan agama sebagai alat politik paling ampuh.

Kita tidak sadar bahwa kisah-kisah kelam ini justru lebih berbahaya dan membuat Indonesia menjadi semakin terpuruk dan terpecah belah daripada pembatalan piala dunia U-20.

Kita kecewa karena pembatalan piala dunia U-20, tapi kita menjadi orang-orang saleh yang munafik ketika korupsi merajalela, pengrusakan keutuhan ciptaan terus berlangsung, penyegelan dan pelarangan pembangunan rumah ibadah masih tumbuh subur, kita semua diam walaupun berbicara hanya mengatakan, “Ya, Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Kita semua sudah mengetahui sepak terjang dan kerja para capres yang sudah dideklarasikan.

Semua cerita kelam selama perjalanan kita menuju Emaus-Pilpres 2024 menjadi sebuah harapan yang membahagiakan dan menguatkan ketika secara akal sehat dan hati nurani yang jernih memikirkan perjalanan bangsa Indonesia ke depan sebagai Emaus yang mendamaikan tanpa ada politik indentitas atas nama agama, tanpa perpecahan di antara kita hanya karena perbedaan agama dan pilihan dan tanpa ada penggusuran dan pengrusakan keutuhan ciptaan.

Bangsa Indonesia menjadi Emaus bagi semua kalangan bukan karena para Capres, melainkan karena pilihan kita untuk menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama dan bukan rumah bagi sekelompok orang yang menggaungkan agama dan kitab suci.

Indonesia menjadi Emaus NKRI yang menyejukkan kalau kita tidak hanya mengisahkan kekecewaan, kesedihan dan kemarahan kita, melainkan mengisahkan harapan untuk menjaga pekerjaan-pekerjaan Presiden sebelumnya dan memikirkan keberlangsungan amanah yang mendamaikan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita pulang dan sampaikan kabar gembira, berita pengharapan bahwa ada satu sosok berpeci hitam yang masih menjadi harapan yang membawa sukacita dan kedamaian bagi kita semua.

Ada satu sosok yang memang sebelumnnya mengecewakan kita namun membawa harapan bagi NKRI sebagai Emaus kita bersama yang tidak merusak namun merawat, yang tidak memecah belah namun menyatukan.

Ingat!! Indonesia adalah Emaus pengharapan dan perdamaian serta sukacita bukan ada pada tangan para Capres, tapi ada pada kisah dan pilihan kita.

Masih menjadikan kisah kelam pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 sebagai alasan untuk tidak memilih yang sudah kelihatan kerja baiknya itu artinya kita sedang mengantar Indonesia menuju Kalvari.

Manila: 23-April, 2023