STOLA DAN HANDUK, SERTA MAKNA KEDUANYA

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Dari Pulau Sumba, Indonesia Selatan

S eorang Uskup Italia bernama Tony Bello meninggal karena kanker pada usia 58 tahun.

Pada hari Kamis Putih tahun 1993, menjelang saat ajalnya, di tempat tidur dia mendiktekan surat pastoral kepada para imam di keuskupannya.

Dia mengajak mereka untuk selalu terikat pada “Stola dan Handuk”.

Stola adalah simbol kesatuan dengan Kristus dalam Ekaristi. Handuk adalah simbol kesatuan dengan umat manusia melalui karya pelayanan.

Para imam dipanggil untuk mengikatkan diri dengan Tuhan dalam ekaristi dan dengan orang-orang di mana dia adalah hamba mereka.

Perayaan Kamis Putih atau peringatan Perjamuan Malam Terakhir Yesus  mengandung dua pesan simbolis yang sangat kuat.

Pertama, kesatuan dengan Kristus. Hal ini terungkap dalam pesan Yesus sendiri ketika membagikan roti dan anggur kepada para murid-Nya: Inilah tubuh-Ku! Inilah darah-Ku! Makanlah dan minumlah.

Setiap orang yang memakan roti dan meminum anggur dalam perayaan ekaristi mewujudkan kesatuan dirinya dengan Kristus.

Baginya berlaku kata-kata Yesus: “Kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 14:20).

Tanpa memakai stola, sebagai simbol Imamat, orang-orang Kristen pun memiliki panggilan untuk selalu bersatu dengan Yesus.

Kesatuan itu merupakan wujud hakiki dari identitas kita sebagai orang Kristen, baik Katolik maupun Protestan, karena kekristenan bukan sesuatu yang dipakai dan bisa dilepas kapan saja.

Kekristenan itu bagaikan melebur diri dengan Kristus.

Karena itu sejatinya tidak pernah ada orang yang disebut “mantan kristen”. Orang-orang seperti ini, mungkin pernah dibaptis, tetapi belum pernah menyatukan diri dengan Kristus.

Kekristenannya selama ini hanya pakaian luar atau “chasing” saja. Itu bisa dilepas karena macam-macam alasan yang sifatnya duniawi.

Barangsiapa sudah bersatu dengan Kristus, dia tidak akan pernah terpisah dari-Nya.

Kedua, kesatuan dengan sesama manusia khususnya mereka yang dilayani.

Simbol pelayanan itu berupa kain lenan yang dipakai oleh Yesus untuk menyeka kaki para murid yang baru saja dibasuh-Nya. Kain lenan biasanya berupa kain lap, taplak meja atau handuk.

Membasuh kaki orang lain normalnya dilakukan oleh tuan rumah kepada tamu terhormat atau oleh budak kepada tuannya.

Yesus memilih cara ini untuk menunjukkan siapa diri-Nya bagi manusia sekaligus mengajar mereka bagaimana harus bersikap terhadap sesama.

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14).

Pelayanan semacam ini adalah wujud kasih. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34).

Mengasihi itu bukan hal yang baru. Kebaruannya terletak pada cara Yesus yang menjadi teladan: mengasihi dengan kerendahan hati dalam tindakan melayani.

Mengasihi seraya turun dari ketinggian kedudukan, kekuasaan, status, untuk melakukan pekerjaan yang biasa dianggap rendahan.

Meneladani Yesus berarti mengenakan stola dan handuk sekaligus. Dan ini bisa berlaku bagi siapa saja. Tidak hanya bagi para Imam.

“Jangan pernah kuatir dengan jumlah. Bantulah seorang pada satu waktu, dan mulailah selalu dengan orang yang paling dekat” (Santa Teresa dari India)

Salam dari Paroki Ngallu, Mangili, Sumba Timur, Indonesia Selatan.