Risiko Terbesar adalah Tidak Mengambil Risiko

156
Pater Kimy Ndelo, CSsR

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR

Pada tanggal 14 Desember 164 SM, Yudas Makkabe dan para pasukannya memasuki Yerusalem sambil membawa daun palma dengan seruan “Hosanna” yang berarti “Selamatkan Kami, Ya Allah”.

Mereka menyucikan kembali Bait Allah yang sudah dinodai oleh Antiokhus Epifanes IV pada tanggal yang sama tahun 167 SM. Mereka baru saja memenangi peperangan dan memasuki Yerusalem dengan gagah perkasa (1 Mak 13:51).

Pada suatu hari, 170 tahun kemudian,  Yesus memasuki Yerusalem dengan cara yang nyaris sama. Diiringi para pengikut-Nya dengan sorak sorai “Hosanna Putera Daud, dengan lambaian daun palma, dan sambil menunggang keledai, Dia memasuki Yerusalem bagaikan seorang pemenang perang. Ada suasana politis yang sangat kental.

Umat Stasi Santo Agustinus Piero, Paroki Kristus Raja, Waimangura, Sumba, NTT.

Masuknya Yesus ke Yerusalem jelas bermakna ganda. Bagi para pengikut-Nya, Dia adalah Mesias yang selama ini dinanti-nantikan. Mesias yang siap memimpin mereka kepada kerajaan baru yang jaya sentosa.

Di sisi lain, bagi para penguasa saat itu, baik pemimpin agama Yahudi maupun penguasa Romawi, Yesus merupakan ancaman keamanan. Dengan satu juta atau lebih peziarah yang datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, ada potensi kerusuhan di depan mata. Tentu mudah saja untuk dihancurkan, tetapi bagi Pilatus ini akan menjadi catatan hitam untuk karir militer dan politisnya.

Begitu pula untuk para pemimpin agama. Yesus menjadi batu sandungan yang bisa menggerogoti kekuasaan mereka. Mereka bisa dianggap tidak becus mengendalikan warganya.

Atas dasar ini, keputusan pun diambil: Yesus harus dilenyapkan! Kayafas sudah mengatakan: “Lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita, daripada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yoh 11:50).

Pilihan Yesus ini bukan tidak disadari akibatnya. Dia tahu apa yang akan terjadi di depan mata. Tapi Dia harus memasuki Yerusalem dengan cara ini, apa pun risikonya karena sudah saatnya Dia menunjukkan identitas yang sesungguhnya di pusat agama orang-orang Yahudi. Dia bisa mengajar terus di sekitar Galilea dan aman-aman saja, tapi itu tidak akan memberi pengaruh sebesar pengaruh ketika tampil terbuka di Yerusalem.

Di sinilah keberanian Yesus sungguh-sungguh diuji. Yesus maju bagai menantang badai. Tidak bisa dikatakan Dia sedang mencari mati. Dia tidak sedang memancing kemarahan. Dia hanya menggenapi panggilan hidup-Nya. Dia menjalankan takdir-Nya, Dia sedang menjawab “ya” kepada Bapa-Nya.

Yerusalem adalah puncak sekaligus akhir perjalanan hidup Yesus. Di situ Dia memeteraikan seluruh karya dan pewartaan-Nya. Di situ Dia memakai mahkota sebagai Raja yang sesungguhnya, Penyelamat dunia.

Kematian yang ada di depan mata adalah risiko yang harus diterima oleh Yesus.

Hidup bukan sekadar berjalan maju ke depan. Pilihan-pilihan sulit seringkali berarti mengambil risiko. Dalam sejarah umat manusia, perubahan besar di dunia justru diawali oleh orang-orang yang berani menghadapi risiko. Keberanian Yesus menerima risiko kematian di Yerusalemlah yang mengubah dunia menjadi seperti sekarang ini.

“Risiko paling besar adalah tidak mengambil risiko. Dalam dunia yang berubah begitu cepat, satu-satunya strategi yang menjamin kegagalan adalah tidak mengambil risiko” (Mark Zuckenberg).

Salam dari Pastoran Pasar Minggu, Jakarta Selatan