Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta, Prodi Pariwisata Tuai Pujian Saat KKN di Sumba

564
Dua dari peserta KKN berpose di Kampung Adat Pariijing. (Foto: Anggi)

Lima orang mahasiswa dari Prodi Pariwisata Universitas Nasional Jakarta menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) sejak 16 September 2022 sampai 22 Februari 2023 di Kampung Praiijing, Desa Tebara, Waikabubak, Sumba Barat, NTT.

Kampung Praiijing, sebuah kampung adat sekaligus situs budaya, terletak di pinggir Kota Waikabubak (sekitar  2 km dari pusat kota), Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat. Berbeda dengan sebuah kampung adat sejenis, yakni Kampung Tarung yang terletak di tengah-tengah Kota Waikabubak.

Seperti diakui Anggita Theresia Gultom, salah satu peserta KKN, saat KKN itu, dia dan teman-teman membantu warga membersihkan dan mengecat ulang toilet umum, membantu memperbaiki homestay di Praiijing, mengikuti kegiatan di kantor desa.

Mereka ikut serta dalam pesta-pesta adat. (Foto: Anggi).

Selain itu, bekerjasama dengan platform Atourin, salah satu perusahaan di Jakarta,  mereka membuat e-ticketing masuk Kampung Adat Praiijing.

E-ticketing tersebut diluncurkan pada 23 Januari 2023 dan mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade.

Menurut Bupati, e-ticketing akan berdampak baik bagi kemajuan pariwisata di Sumba Barat karena memberi kemudahan pemesanan tiket dan pembukuan yang otomatis di website Atourin.

Para mahasiswa juga melatih masyarakat menggunakan  e-ticketing, mengajari anak-anak cara memandu turis atau menjadi tourist guide.

Keseharian masyarakat setempat. (Foto: Anggi)

Menyatu dengan Masyarakat

Sesungguhnya, menjalankan pekerjaan-pekerjaan tersebut sudah merupakan kewajiban sebagai mahasiswa KKN. Banyak mahasiswa dari berbagai kampus lain juga melakukan hal-hal yang hampir sama.

Lantas, mengapa mereka menuai pujian? Karena mereka yang datang dari Kota Metropolitan Jakarta bisa menyatu dengan masyarakat, pandai membawa diri dan mengambil hati.

Mereka pun diterima dengan baik dan oleh masyarakat setempat dan diperlakukan tak ubahnya keluarga sendiri.

Dengan itu, mereka leluasa pergi ke mana-mana atau berkunjung ke rumah warga di kampung-kampung baik pada siang maupun malam hari menggunakan senter,  dan diterima dengan baik.

Baca Juga: Destinasi Wisata Populer Di Bandung

Dapat Nama Sumba

Uniknya, masing-masing dari mereka disemati nama Sumba, khususnya Loli. Anggita Theresia mendapat nama Rouna Bela, Maharani Indira Ravi (Magi Loda), Muhammad Deo Zidane (Jawu Tema), Putra Setiawan (Mori Sabba) dan Nawina Sharen (Seingu Liku).

Selama menjalani masa KKN, mereka juga menghadiri berbagai pesta adat seperti “pesta pemakaman” dan Wulla Poddu atau Bulan Suci atau Bulan Keramat.

Dalam pesta-pesta tradisional tersebut, mereka hadir dan menyatu dengan masyarakat, mengenakan kain sarung. Khusus untuk laki-laki selalu membawa parang di pinggang. Seorang lelaki Sumba, ke mana pun dia pergi selalu dengan parang di pinggang.

Salah satu pemandangan di salah satu pantai di Sumba yang mereka kunjungi. (Foto: Anggi).

Salut untuk Mereka

Dengan pakaian ala Sumba itu, tanpa canggung mereka ikut serta menari di pelataran kampung dan menyanyi serta mengikuti berbagai ritual dengan baik.

Seorang warga bernama Beko Djaga menaruh salut kepada mereka.

“Mereka tahu betul membawa diri di tengah masyarakat, dan mereka disayang oleh masyarakat. Bahkan ada yang sudah fasih bicara Bahasa Loli. Yang laki-laki itu ke mana-mana taruh parang di pinggang terus, sudah seperti orang Sumba betul,” kata Beko Djaga kagum sambil tertawa.

Anggi mengaku sangat berkesan Wulla Poddu. Bagi Anggi tradisi ini sangat unik dan memiliki makna mendalam bagi masyarakat Kampung Adat Praiijing.

Bersama masyarakat setempat. Beko Djaga paling kanan. (Foto: ist).

Culture Shock

Kepada media ini Anggi mengaku, untuk bisa menyatu dengan masyarakat, masing-masing dari mereka mengalami kesulitan sendiri-sendiri. Ini terutama  karena perbedaan budaya dan suasana yang sangat besar antara Jakarta dan Sumba.

“Banyak sekali perbedaan antara Jakarta dan Sumba. Selain itu, bahasa Sumba sendiri susah sekali dipelajari. Awalnya, kami terkena semacam culture shock.  Namun kesan saya pribadi, orang-orang sangat baik. Mereka menerima kami semua seperti keluarga sendiri walaupun baru saling kenal,” aku Anggi, mahasiswi asal Pulau Samosir, Sumatera Utara ini. (tD/EDL)