Tidak Ada Korelasi Positif Antara Masuk Sekolah Pukul 5 Pagi dan Keberhasilan Tembus ke Kampus-kampus Favorit

Mampirlah sejenak di LAPIERO TV

Oleh Emanuel Dapa Loka

Setelah kebijakannya pada 23/2 untuk memajukan jam masuk sekolah siswa SLTA menjadi pukul 5.00 Wita mendapat reaksi keras dan penolakan massif dari berbagai kalangan di NTT, “konon” Gubernur NTT Dr. Victor B. Laiskodat membuat “klarifikasi”.

Tidak ada bukti bahwa “klarifikasi” benar datangnya dari Victor. Memang ada catatan pada bagian berita beredar di grup-grup WA yang coba meyakinkan bahwa “klarifikasi” itu dari pria yang jago bela diri itu.

Dikatakan pada bagian bawah “klarifikasi” itu dikatakan bahwa “Klarifikasi ini (untuk) menjawab permintaan Ketua MS GMIT utk kaji ulang kebijakan tersebut,” demikian keterangan termaksud.

Kalau “klarifikasi” itu bukan dari Victor, anggap saja datangnya  dari orang iseng. Jadi biarkan saja sebagai angin lalu yang bertiup kian ke mari di padang sabana. Apalagi saat ini angin memang berembus tak tahu arah dan bikin gundah.

Namun, jika butir-butir itu benar dari Victor, saya tidak melihat adanya relevansi atau korelasi positif antara kebijakan masuk sekolah pukul 5.00 pagi dengan esensi masing-masing poin itu.

Kita mulai dari poin pertama: “50% alokasi APBD Propinsi ada di dinas Pendidikan NTT”.

Benar bahwa 50 persen bahwa 50% alokasi APBD Propinsi ada di dinas provinsi. Lalu apa yang mau dikatakan dengan dana yang 50 persen itu dengan kebijakan masuk sekolah pukul 5 pagi?

Apakah karena 50 persen dana tersebut, lalu orang provinsi boleh dan bisa membuat kebijakan “seenaknya” tanpa menimbang berbagai hal ikutan dari kebijakan tersebut?

Pemerintah provinsi rupanya mau menyelesaikan persoalan pendidikan di NTT hanya dengan “menyentuh” hilir.

Karena itu “orang provinsi” merasa bahwa masalah atau kualitas pendidikan di NTT cukup diselesaikan hanya dengan memajukan jam masuk sekolah.

Mereka lupa bahwa banyak masalah terkait lain yang “membelit”. Semuanya tidak berdiri sendiri-sendiri.

Kedua, “NTT butuh sekolah unggul yg bisa persiapkan calon mahasiswa yg bisa kuliah di UI, UGM dan Harvard University.”

Poin kedua makin tidak masuk akal. Apa hubungan antara masuk sekolah pukul 5 pagi dengan calon mahasiswa yang tembus ke UGM, UI bahkan ke Harvard University?

Apakah kita bisa mengharapkan anak-anak yang kurang tidur, yang letih berjalan kaki berkilo-kilo dan yang penuh kekhawatiran bisa selamat atau tidak dalam perjalanan menuju sekolah, bisa belajar dengan baik lalu mengantar mereka tembus ke kampus-kampus favorit, bahkan tidak main-main sampai ke Harvard University, sebuah universitas terbaik di dunia?

Ketiga: “Pemprov minta 2 SMA di Kota Kupang jadi sekolah unggul spy menjawab poin nomor 2. Alokasi anggaran pendidikan dgn porsi terbesar akan diarahkan ke 2 sekolah unggul itu yg salah satu syaratnya ada bersedia memulai sekolah jam 5 pagi.”

Keunggulan sekali lagi tidak punya korelasi positif dengan masuk sekolah pukul 5 pagi. Para siswa justru stress dengan masuk sekolah pagi-pagi sekali. Pertanyaannya? Anggaran yang ada itu akan diapakan dengan masuk sekolah pukul 5 pagi?

Kita lewatkan untuk memberi catatan pada poin keempat dan kelima.

Poin keempat:  “Dlm rapat Dinas Pendidikan dgn Kepsek di Kota Kupang, ada beberapa sekolah lain yg tawar diri utk ikut dimasukkan dlm program ini. Akhirnya yg terakomodir ada 10 sekolah.”

Poin kelima: “Tapi kalau dalam perjalanan, ada sekolah yg tdk mampu jalankan program ini, dipersilahkan mundur. Yg tetap karena sudah punya komitmen bersama hanya SMAN 1 dan SMAN Kupang.”

Poin keenam: “Evaluasi dan kajian akan terus dilakukan tapi program tdk akan mundur lagi.”

Nah! Ungkapan populer yang tepat untuk menggambar tekad di balik kebijakan tersebut: “Kebijakan Masuk Sekolah Pukul 5 Pagi adalah Harga Mati”. Artinya, tidak ada langkah mundur terhadap program tersebut. Ibaratnya, the show must go on.

Apakah kemajuan pendidikan di NTT akan dicapai hanya dengan memajukan jam masuk sekolah?

Rasanya di dunia ini, jam masuk sekolah bukan semakin dimajukan justru semakin dimundurkan.

Anak usia 12-18 membutuhkan waktu tidur yang sehat adalah 8-9 jam. Lalu, kapan anak-anak ini istirahat? Belum lagi kalau asupan gizinya kurang.

Ini semua akan sangat berpengaruh terhadap kebugaran jiwa dan raga. Sekali lagi, masalah pendidikan tidak berdiri sendiri. Lebih dari itu, banyak hal yang saling membelit.*