Salman Habeahan: Frans Seda Milik Bangsa dan Layak jadi Pahlawan Nasional

75
Salman Habeahan

 

Ketika moderator seminar bertajuk “Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa” memintanya  memberi tanggapan terhadap sosok Frans Seda, Salman Habeahan mengatakan, “Frans Seda, milik seluruh rakyat Indonesia”.

Dalam perjalanan hidupnya tambah Salman, Frans Seda  banyak mewariskan “masa depan” bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan, pembangunan ekonomi dan media.

Seminar digelar Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM Jaya) di Hotel Grand Sahid Jaya-Jakarta, Jumat, 20 Januari 2023.

Salman (berdiri) saat memberi tanggapan.

Seminar menghadirkan pembicara Blasius Bapa, Adrianus Mooy, Romo Frans Magnis Suseno, Rikard Bagun, Mikhael Dua, Melchiades Mekeng dengan moderator Gusti Tetiro.

Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dijadwalkan menjadi Keynote Speaker tidak bisa hadir, tapi mengirimkan video penyampaian materinya.

Lebih lanjut kata Salman, Frans Seda meninggalkan banyak legacy penting dalam perjalanan pembangunan Bangsa Indonesia. Ia bukan sekadar teknokrat sejati, tetapi perannya sangat dirasakan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Lebih jauh, Dr. Salman Habeahan menegaskan bahwa keutamaan yang diwariskan oleh Frans Seda dalam sejarah pembangunan bangsa Indonesia, bukan hanya dalam bidang ekonomi, pendidikan dan media, tetapi warisan keutamaan (virtus) dalam kehidupannya.

Dalam hidup dan karya Frans Seda, kata Salman, selalu tampak nilai-nilai integritas, etika dan estetika.

“Ini harus dirawat sebagai bagian dari proses pendidikan politik bagi generasi muda Indonesia. Frans Seda adalah tokoh bangsa persembahan harum masyarakat NTT untuk pembangunan Bangsa Indonesia. Semangat perjuangan  bangsa dan pengabdian untuk Gereja (Pro Ecclesia et Patria) tercermin dalam jejak-jejak kehidupan Frans Seda,” kata Salman.

Tambahnya lagi, legacy yang Frans Seda tinggalkan penting dirawat dan ditumbuhkembangkan. Tidak berhenti pada pemberian Gelar Pahlawan Nasional yang sedang diperjuangkan, tetapi melalui seluruh cita-cita dan perjuangan hidupnya.

Nilai-nilai keutamaan Frans Seda dalam menata kemajuan bangsa, lanjut Salman lagi,  penting dan sangat relevan digelorakan kembali di tengah defisitnya nilai-nilai keteladanan dari para pemimpin nasional di Indonesia.

“Frans Seda secara fisik boleh tidak ada, tetapi legacy dan nilai-nilai keutamaan yang telah diwariskan untuk generasi muda Indonesia harus tetap hidup,” pungkas Salman. (tD)