Pria Miskin di Melbourne dan Santa Teresa

70

 

Pater Kimy Ndelo, CSsR, dari Biara Novena MBSM, Kalembu Nga’a Bongga (KNB), Weetebula, Sumba “tanpa wa”

S anta Teresa memberi contoh yang indah tentang seorang pria yang dibawa keluar dari kegelapan menuju terang.

Suatu hari di Melbourne, Australia, dia mengunjungi seorang pria miskin yang tak seorang pun tahu keberadaannya. Kamar tempat dia tinggal berada dalam keadaan sangat berantakan dan terabaikan. Tidak ada cahaya di ruangan itu.

Pria itu hampir tidak pernah membuka tirai. Dia tidak punya teman di dunia ini.

Ketika Bunda Teresa datang, ia mulai membersihkan dan merapikan kamar.

Awalnya, dia memprotes dengan mengatakan, “Biarkan saja. Tidak ada apa-apa, biarkan apa adanya.” Tapi Bunda tetap membersihkan.

Di bawah tumpukan sampah, dia menemukan lampu minyak yang indah, tetapi tertutup debu. Dia membersihkan dan memolesnya.

Kemudian dia bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak pernah menyalakan lampu ini?” “Mengapa saya harus menyalakannya?” dia membalas. “Tidak ada yang pernah datang menemui saya. Saya tidak pernah melihat siapa pun.”

“Maukah engkau berjanji untuk menyalakannya jika salah satu saudari perempuanku datang menemuimu?” “Ya,” jawabnya. “Jika saya mendengar suara manusia, saya akan menyalakan lampu.”

Dua suster Bunda Teresa mulai mengunjunginya secara teratur. Segalanya berangsur-angsur membaik untuknya.

Lalu suatu hari dia berkata kepada para biarawati, “Saudari, mulai sekarang aku akan bisa mengaturnya sendiri. Tapi tolonglah aku. Beri tahu Saudari pertama itu, yang datang menemui saya, bahwa cahaya yang dia nyalakan dalam hidup saya masih menyala.

Keempat Injil melukiskan secara mirip bagaimana panggilan menjadi murid Yesus. Akan tetapi Injil Matius, yang kita dengar hari ini memiliki kekhasan tersendiri.

Sementara Injil lain memberi ruang dan waktu untuk persiapan sebelum ditetapkan sebagai Rasul, Injil Matius tidak demikian.

Di sini panggilan terjadi serta merta tanpa persiapan yang cukup untuk mengenal Yesus.

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat 4:19). Dia tidak memberikan petunjuk akan jadi seperti apa pekerjaan mereka dan ke mana mereka akan pergi.

Andreas dan Petrus yang pertama dipanggil, kemudian menyusul Yakobus dan Yohanes.

Tujuan utama panggilan mereka adalah menemani Dia memulai pelayanan publik untuk menjadi “terang yang besar” yang bersinar atas orang-orang yang dilayani.

Dalam tradisi kuno, “menjadi penjala manusia” (terjemahan lurusnya “memancing orang”) adalah sebuah ungkapan metafora yang mengandung dua pengertian.

Pertama, mencari orang dari tempat persembunyiannya dan membawanya ke sidang pengadilan. Ini ada kaitannya dengan tindakan kejahatan.

Kedua, mengajar orang dari kebodohannya untuk membuat dia menjadi bijaksana. Rupanya pengertian ini yang lebih tepat untuk panggilan para murid.

Panggilan para murid berarti mengajar mereka dengan pemahaman dan pengertian yang baru sehingga ketika saatnya tiba mereka juga mampu menjadi “terang” bagi orang-orang di sekeliling mereka.

Kedua pengertian ini mempunyai corak yang sama, yakni sebuah perubahan radikal. Dari cara hidup yang lama kepada cara hidup yang sungguh baru.

Hal ini sejalan dengan seruan awal Yesus untuk pertobatan atau metanoia yang mengadaikan sebuah revolusi hidup secara radikal, bukan sekadar pengakuan dosa.

Para murid yang dipanggil Yesus adalah orang-orang dengan latar belakang sederhana.

Mereka adalah penjala ikan yang sehari-hari bergulat dengan kerasnya kehidupan. Hidup mereka bergantung pada alam dan keberuntungan.

Keutamaan mereka terletak pada sikap dan keputusan mereka: serta merta mereka meninggalkan segalanya.

Mereka meninggalkan pekerjaan, kampung halaman, dan sekaligus sanak-keluarga mereka.

Mereka tidak tahu ke mana mereka akan dibawa. Prinsipnya, mereka meletakkan segala kepercayaan mereka pada Yesus yang baru saja mereka jumpai.

Seperti para murid pertama, yang dibutuhkan Yesus saat ini adalah orang-orang biasa yang mau memberikan dirinya.

Yang dibutuhkan Yesus saat ini bukanlah kemampuan tetapi kemauan. Bukan ability tapi availability.

Kita tak selamanya bisa mengontrol hidup kita. Kita sering bagaikan ikan yang tertangkap dalam jaring atau jala. Tetapi jika itu adalah jaring kasih Tuhan, maka kita boleh yakin bahwa kita akan hidup dan bahkan dibantu dan diajar menjadi saksi terang Tuhan di tengah dunia.