Paradoksal Ajaran Yesus

Pater Kimy Ndelo CSsR, dari Biara Novena Maria Bunda Selalu Menolong (MBSM), Kalembu Nga’a Bongga (KNB), Weetebula Sumba “tanpa wa”

A jaran Yesus seringkali bersifat paradoks. Cara berpikir-Nya dan memandang dunia, baik hidup sosial maupun iman, terkadang mengejutkan karena bertentangan dengan cara pandang manusia pada umumnya.

Kadang begitu kontras sehingga menimbulkan penolakan dan resistensi.

Khotbah di bukit dalam Injil Mateus (5:1-12) yang sering dikenal sebagai Sabda Bahagia atau Makarios/Beatitude adalah salah satu contoh.

Apa yang nampak dalam sabda bahagia ini merupakan cara penginjil Matius menampilkan Yesus sebagai Musa baru. Seperti Musa, Dia memberikan hukum barunya dari atas bukit.

Tentu saja Sabda Bahagia ini diucapkan dalam bahasa Aramaic, dan nadanya bukan sekadar pernyataan, tetapi sebuah seruan.

“O Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (5:3).
Berbahagialah yang berdukacita…
Berbahagialah yang lapar dan haus…

“Miskin di hadapan Alllah”, (aslinya “miskin dalam roh”), berarti seseorang tidak punya apa-apa yang bisa dianggap sebagai miliknya di hadapan Allah. Semua yang dia punyai diyakini sebagai karunia Allah semata.

Yesus tidak sedang memuji kemiskinan tetapi yang dipuji adalah ketergantungan pada Allah; iman dan kepercayaan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu.

Artinya, miskin di sini sebagai sebuah pilihan hidup, bukan karena dipaksa oleh situasi yang tidak adil, bukan akibat dari eksploitasi dan penjajahan.

Sabda bahagia selanjutnya merujuk pada yang pertama ini. Berdukacita, misalnya, akan mendapatkan penghiburan dari Allah, bukan dari dunia.

Yang lapar dan haus akan kebenaran mendapatkan keadilan dari Allah sendiri. Semua yang dibutuhkan manusia akan datang dari Allah sendiri.

Cara pandang macam ini menjadi kontradiktif dengan pandangan dunia pada umumnya.

Orang bekerja sedemikian kerasnya seolah-olah semua kesuksesan hanya datang dari kerja keras itu.

Orang mencari kebahagiaan dengan macam-macam cara dan sarana. Orang mencari keadilan dari berbagai lembaga dunia.

Hidup menjadi begitu sistematis, diatur sedemikian rupa, seolah-olah kebahagiaan bisa diproduksi dan tinggal dipakai. Kenyataannya hidup tidak sesederhana itu.

Pastor Louis Everly, seorang teolog, pendeta, dan penulis terkenal Belgia berkata bahwa begitu banyak orang tidak pernah menemukan kebahagiaan karena mereka tidak tahu ke mana harus mencarinya.

Terlalu banyak orang membuat kesalahan dengan mencari di tempat yang salah. Yang satu mencarinya lewat materi, yang satu lewat kenaikan gaji, satu lagi melalui promosi kenaikan jabatan, yang lain lagi lewat masalah yang terselesaikan, atau lagi cacat yang teratasi. “Kalau saja saya punya itu,” mereka sering berkata, “Saya akan bahagia.”

Terlambat mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak datang dari luar tetapi dari dalam.

Howard Hughes adalah salah satu orang terkaya yang pernah hidup tapi dia tidak bisa membeli kepuasan atau ketenangan pikiran.

Itu adalah hal pertama yang terbukti saat kita melihat Sabda Bahagia. Kebahagiaan tidak identik dengan mengejar kesenangan.