Benarkah Tradisi Natal Berasal dari Tradisi Kafir Romawi Kuno?

173
Festival warna-warni meriahkan Natal.

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Orang-orang Kristen, baik Katolik, Protestan maupun Ortodox dan Gereja-Gereja kuno lainnya seperti Gereja Maronit, Gereja Syria, Gereja Koptik di wilayah Arab-Timur Tengah, merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Gereja Ortodox atau Ritus Timur merayakan pada 6 Januari.

Pada saat ini selalu saja ada orang Non-Kristen yang merasa sok tahu, mengajarkan bahwa tradisi Natal datang dari tradisi Romawi Kuno, penyembahan dewa tertentu. Benarkah demikian? Mari kita lihat sejarah secara jernih.

Satu hal yang pasti, Kitab Suci Perjanjian Baru tidak mencatat tanggal, bulan dan tahun yang pasti kapan Yesus lahir. Patut diingat bahwa dalam dua abad pertama kekristenan, yang namanya perayaan kelahiran para martir, termasuk Yesus, ditolak oleh para Bapak Gereja karena dianggap tradisi kafir. Yang dirayakan adalah hari kematian para martir dan santo-santa. Perayaan penting orang Kristen masa awal adalah Paskah.

Penjelasan Jernih

Tentang Natal itu sendiri, tradisi agama Kristen mempunyai sekurang-kurangnya dua penjelasan yang jernih sebagai asal-usul Hari Raya Natal (Christmas) pada tanggal 25 Desember.

Pertama, Sextus Julianus Africanus (lahir tahun 180 dan meninggal tahun 250), seorang sejarawan Kristen. Pada tahun 221 dia menyebutkan bahwa kelahiran Yesus terjadi pada tanggal 25 Desember.

Sextus menulis buku sejarah “Chronographiai” pada tahun 221. Buku tersebut terdiri dari 5 jilid tentang sejarah suci dan profan, mulai dari penciptaan (yang disebutnya terjadi tahun 5499 SM) sampai tahun 221.

Di dalam buku inilah dia menyebutkan bahwa Yesus lahir tanggal 25 Desember, sebuah tanggal yang diakui dan diterima oleh orang Kristen selanjutnya.

Kedua, tanggal 25 Desember diterima sebagai tanggal kelahiran Yesus dengan alasan di bawah ini.

Ada yang disebut vernal equinox, titik balik musim semi, dua momen dalam satu tahun ketika Matahari tepat berada di atas khatulistiwa. Saat itu siang dan malam memiliki panjang yang sama. Juga, salah satu dari dua titik di langit tempat ekliptika (jalur tahunan matahari) dan ekuator langit berpotongan.

Di Belahan Bumi Utara titik balik musim semi jatuh sekitar tanggal 20 atau 21 Maret, saat Matahari melintasi ekuator langit menuju ke utara. Saat itulah yang diyakini orang Kristen awal mula penciptaan langit dan bumi dimulai.

Pada hari keempat langit diciptakan, dan itu terjadi kira-kira tanggal 25 Maret. Tanggal 25 Maret ini dirayakan sebagai hari Yesus mulai dikandung oleh Maria atau Hari Raya Kabar Sukacita.

Menghitung maju 9 bulan dari 25 Maret sejak dikandung, maka Yesus lahir tanggal 25 Desember.

Sejak abad keempat, Pesta Kabar Sukacita sudah dirayakan, bahkan lebih dahulu daripada perayaan Natal.

Adopsi Dies Solis Invicti Nati?

Seringkali ada yang mengatakan bahwa tanggal 25 Desember adalah kristenisasi (adopsi) dari perayaan “dies solis invicti nati” (hari kelahiran matahari yang tak terkalahkan.

Ingat, ini bukan tentang dewa atau putra dewa matahari. Ini disebut hari Saturnalia. Perayaan ini oleh orang-orang Romawi kuno merupakan simbol bangkitnya kembali matahari, terdepaknya musim dingin, dan munculnya musim semi dan musim panas (summer).

Pada musim dingin (winter) memang nampaknya matahari kalah karena dingin lebih terasa daripada panas. Pada saat yang bersamaan orang Romawi, khususnya para petani, juga membawa persembahan kepada dewa pertanian dan waktu.

Pada awal mula hanya berlangsung sehari, tetapi sejak zaman Republik (133-131 SM), pesta ini dijadikan hari libur selama seminggu dan biasanya dimulai pada tanggal 17 Desember. Atau menurut kalender Julian jatuh pada tanggal 25 Desember.

Macam-macam Fesival

Pada saat perayaan ini, macam-macam festival diadakan, misalnya saling berbagi hadiah, rumah dihias warna-warni, memakai pakaian  warna-warni juga, bahkan budak-budak tidak perlu bekerja.

Sekolah dan sidang pengadilan diliburkan. Ada juga permainan judi, menyanyi dan bermain musik meriah. Ini adalah pesta paling menggembirakan bagi orang Romawi.

Pada abad keempat, sebuah kuil Saturnalia dibangun di Roma sebagai pusat pemujaan. Pada hari pertama perayaan, seekor babi dikorbankan di kuil itu, yang letaknya di sebelah utara Forum Romana.

Apakah hari Natal sendiri ada hubungannya dengan perayaan kafir Romawi kuno? Hubungannya jelas ada. Tapi harus dicatat, perayaan Natal tidak mengadopsi atau mengambil alih tanggal 25 Desember untuk dijadikan hari kelahiran Yesus.

Penetapan 25 Desember oleh Sextus Julianus Afrikanus terjadi jauh sebelum Gereja Kristen menjadi agama resmi yang diterima oleh kekaisaran Romawi.

Benar bahwa sejak pertengahan abad pertama orang-orang Kristen sudah ada di Roma, tapi jumlahnya masih sangat sedikit, dan mereka masih tercampur dengan orang-orang Yahudi. Artinya, belum ada pemisahan jelas antara kelompok orang Yahudi dan orang Kristen.

Sejak penetapan oleh Sextus Julianus pada tahun 221 sampai abad keempat, belum ada perayaan Natal oleh orang Kristen.

Perayaan Natal 25 Desember ditetapkan secara resmi oleh Paus Julius I pada abad keempat, sesudah agama Kristen diakui sebagai agama resmi oleh negara pada zaman Kaisar Konstantinus Agung.

Maka yang diadopsi di sini bukanlah tanggalnya, karena sudah ditetapkan sebelumnya di Yerusalem.

Bisa jadi kesamaan tanggal hanya kebetulan. Yang jelas diadopsi orang Kristen dari perayaan Saturnalia adalah tradisi perayaan-perayaan dengan aneka kegiatan dan warna-warni.

Ini adalah salah satu cara juga agar agama Kristen mudah diterima oleh masyarakat Romawi sebab di dalamnya ada inkulturasi budaya.

Dalam sejarah agama-agama modern, “perkawinan campur” dengan agama dan tradisi kuno (kafir) macam begini adalah hal yang biasa. Agama dan kitab yang diakui turun dari langit sekalipun, tidak melayang-layang di bumi. Pasti menjejakkan kaki di bumi, dan saat itulah terjadi percampuran dan saling memengaruhi.

Jadi, tidak ada yang salah dengan Hari Raya Natal 25 Desember!

Selamat Hari Raya Natal bagi semua yang merayakan dan yang tidak merayakan (Selamat Hari Lahir Isa Almasih).