Selamat Pulang, Alex Japalatu, Engkau Pasti Berjumpa Fyodor Dostoevsky di Surga

1151

Oleh Emanuel Dapa Loka

Hari ini (8/12), satu lagi sahabat berpulang. Yang ini teman bercanda, bergurau dan juga teman baku maki. Malah sangat jarang kami berbicara atau berdiskusi tentang dunia tulis-menulis, yang sama-sama kami geluti.

Jarang pula kami saling mengomentari tulisan. Hanya kalau ada tulisan kami yang muncul di koran besar baru muncul ungkapan: kau keren!

Yang pasti, Alex Japalatu, adik kelas saya di SMA Anda Luri, Waingapu ini adalah penulis cerdas, lincah. Tulisan-tulisan kisahnya memikat. Dia pandai mengolah kata dan memberi makna pada sebuah peristiwa.

Kegemarannya membaca novel membuat perbendaharaan katanya terbilang kaya. Maka jadilah, membaca tulisannya seperti mendengarkan dia bercerita dengan lincah dan asik.

Sejak masih remaja, menjadi penulis atau wartawan hebat memang telah menjadi cita-citanya. Ketika masuk ke SMA Katolik Anda Luri, Waingapu, Sumba, NTT, keinginannya menjadi wartawan semakin tinggi.

Maklum di sana ada beberapa guru yang memiliki minat yang tinggi terhadap dunia menulis. Salah seorang, yakni Frans Wora Hebi adalah wartawan Surat Kabar Mingguan DIAN.

Hampir pasti, setiap kali mengajar baik mengajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Jerman, FWH tidak pernah alpa bercerita tentang asiknya menjadi wartawan. Tidak hanya asik, tapi unik, menantang, bikin terkenal. Dengan profesi sebagai wartawan katanya, seseorang bisa membela orang-orang kecil sambil ngerjain pejabat yang pongah.

Selepas dari SMA Anda Luri, Alex kuliah di Yogyakarta. Minatnya pada dunia menulis terus meluap. Ketika masih kuliah itu, beberapa tulisannya tembus baik media lokal maupun nasional. Dia pun sempat bersama saya menulis di Majalah PRABA, sebuah Majalah dwi-bahasa: Jawad an Indonesia di Yogyakarta. Ketika itu, saya menjadi Redaktur Pelaksana di Majalah ini.

Mungkin karena obsesinya yang tinggi pada dunia menulis dan kewartawanan, dia “tidak begitu serius” ketika kuliah di jurusan pertanian, lalu akhirnya kuliah jurnalistik di sebuah akademi komunikasi di Jogja.

Gaya Story Telling

Alex, pada sebuah pelataran kampung di Sumba.

Sambil kuliah, Alex mengembangkan gaya menulisnya yang bersifat story telling. Gaya ini dia bawa terus dan sangat jelas terlihat baik dalam tulisannya di media cetak, online atau di wall face booknya. Dia gemar menulis panjang di wall FB-nya, dan selalu memikat.

Terakhir (7 Desember 2022) dia menulis di kompasiana tentang kunjungannya ke rumah arsitek Friedrich Silaban (alm), sahabat Soekarno itu. Friedrich terkenal sebagai arsitek Masdjid Istiqlal Jakarta. Gaya menulis yang sama  tersua pada tulisan ini.

Pukul 20.28 WIB pada 8/12, sangat mengejutkan ketika sahabat saya Lorens Jumady tiba-tiba mengabari saya tentang berita kepulangan Alex, yang dia terima dari kerabat di Sumba. Dia pergi hanya dalam sekelebat usai menikmati makan malam penghabisannya.

Alex, kepergianmu terasa terlalu cepat. Engkau masih lincah menulis. Juga masih lincah bepergian hampir ke seluruh pelosok negeri ini. Tiba-tiba engkau sudah di sana, tiba-tiba lagi engkau sudah tempat lain lagi. Seringkali juga secara tiba-tiba engkau posting cover buku karyamu. Dan tiba-tiba hari ini engkau sudah pulang ke rumah Penciptamu. Ah!

Selamat pulang, Adik.

Semestinya kami tidak perlu kaget dengan kepulanganmu, sebab dua buah ring sudah terpasang pada jantungmu oleh karena sakit jantung yang engkau alami beberapa tahun lalu. Dan oleh karena sakit jantung ini juga, engkau pernah bercerita bahwa engkau sudah sempat “off” atau “mati suri, tapi “hidup kembali”. Meski begitu, kami tetap saja tidak menduga dan kehilangan engkau.

Sejak pengalaman itu, engkau bukannya was-was dan mengurangi aktifitas, malah pergi ke mana engkau suka layaknya orang yang sehat walafiat. Saya pun sering mengingatkan untuk waspada. Tapi, memang itulah jiwamu yang suka berkelana. Engkau juga acapkali berkata bahwa kapan saja Tuhan memanggil, tinggal berangkat saja.

Kini Tuhanmu, Tuhan kita bersama telah memanggilmu pulang usai engkau bersantap malam. Selamat pulang. Tetaplah nikmati kopi, musik dan bacaan-bacaan kesukaanmu. Ah! Di sana engkau pasti berjumpa dengan novelis Rusia Fyodor Dostoevsky (1821-1881) yang selalu engkau bangga-banggakan itu.  Requiescat in Pace!