Melukis Wajah Yesus

42

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

L eonardo da Vinci melukis “The Last Supper” (perjamuan malam terakhir) di Gereja Santa Maria delle Grazie, Milano.

Ketika melukis wajah Yudas Iskariot, dia memakai wajah seorang musuhnya sebagai bentuk ejekan.

Selesai menggambar wajah semua murid lain, tiba giliran wajah Yesus. Berulangkali dia melukis wajah Yesus tapi selalu gagal. Dia tidak bisa fokus.

Akhirnya dia sadar, kegagalan disebabkan oleh permusuhan dan kebencian terhadap orang lain.

Dia lalu berdamai dengan orang. Setelahnya dia bisa melukis wajah Yesus tanpa hambatan.

Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini berbicara tentang pengampunan dan pertobatan. Pengampunan datang dari Allah dan tidak ada orang yang merasa itu adalah haknya.

Sementara itu dari sisi manusia dituntut bertobat agar layak menerima pengampunan itu.

Relasi dua pihak inilah yang membuat pengampuan dan pertobatan mempunyai efek yang hidup.

Pertobatan berarti membersihkan hati dari segala hal buruk dan jelek. Pertobatan berarti berdamai dengan Tuhan dan sesama.

Yesus menyerukan pertobatan karena hanya dengan cara itu manusia bisa hidup selayaknya manusia; tanpa kebencian dan permusuhan, tanpa iri dan dengki, tanpa kemarahan dan dendam.

Pertobatan berarti menghapus masa lalu yang kelam dan menatap masa depan dengan cahaya yang cerah bersinar penuh harapan.

400 tahun lamanya tak ada nabi di Israel. 400 tahun langit tertutup. Kehadiran Yohanes Pembaptis dan peristiwa pembaptisan Yesus yang ditandai oleh “langit terbuka”, mengawali kembali komunikasi antara Allah dan manusia. Langit terbuka adalah istilah tentang baiknya kembali sinyal surga dan bumi.

Untuk menandai mulainya kembali relasi antar Allah dan manusia maka perubahan harus terjadi dari pihak manusia. Itu bukan sekedar perubahan sesaat melainkan terjadi hari demi hari. Sebuah tugas dan usaha yang terus menerus.

Pesan kenabian Yohanes memang keras dan terasa menyakitkan. Betul bahwa orang baik dan orang jahat akan terus hidup bersama, bahkan kadang orang jahat bisa bertahan hidup lebih lama daripada orang baik.

Tetapi pada saatnya nanti “gandum akan dikumpulkan dalam lumbung dan debu jerami akan dibakarnya”.

Ada saat orang baik akan mendapat tempat yang layak dan orang jahat pun di tempat yang sesuai dengan kejahatannya.

Pesan yang sama terus berlaku sampai saat ini bagi siapa pun.

Mengubah yang nampak jauh lebih mudah daripada mengubah yang tidak nampak.

Karena itu “hasilkanlah buah sesuai dengan pertobatan” (Mat 3:9).

Orang yang bertobat adalah orang yang melukis wajah Yesus di wajahnya sendiri!

Salam dari  Biara Novena MBSM, Kalembu Ngaa Bongga (KNB), Weetebula Sumba “tanpa wa”