Paus Fransiskus: Perjalanan Bahrain adalah Langkah Baru dalam Dialog Kristen-Muslim

57
Paus Fransiskus berbicara pada audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, 9 November 2022

Pada hari Rabu, 9/11 Paus Fransiskus mengatakan, di Lapangan Santo Petrus bahwa perjalanannya ke kerajaan Teluk Bahrain (3-6/11) merupakan langkah baru dalam perjalanan menciptakan “aliansi persaudaraan” antara orang Kristen dan Muslim.

“Perjalanan ke Bahrain tidak boleh dilihat sebagai episode yang terisolasi,” katanya. “Itu adalah bagian dari proses yang diprakarsai oleh Santo Yohanes Paulus II ketika dia pergi ke Maroko.”

Inilah sebabnya, lanjutnya, “kunjungan pertama seorang Paus di Bahrain merupakan langkah baru dalam perjalanan antara umat Kristen dan Muslim — bukan untuk membingungkan atau melemahkan iman, tetapi untuk menciptakan aliansi persaudaraan atas nama Bapa kita Abraham, yang adalah seorang peziarah di bumi di bawah tatapan penuh belas kasihan Tuhan.”

“Dan mengapa saya katakan bahwa dialog tidak melemahkan [iman]?” kata Fransiskus.

“Karena untuk berdialog harus punya identitas sendiri, harus dimulai dari jati diri. Jika Anda tidak memiliki identitas, Anda tidak dapat berdialog, karena Anda juga tidak mengerti siapa diri Anda.”

Motto kunjungan Paus Fransiskus ke Bahrain adalah “Damai di bumi bagi orang-orang yang berkehendak baik.”

Perjalanan itu termasuk pertemuan dengan pejabat pemerintah, pemimpin Muslim, dan komunitas Katolik kecil, termasuk Misa dengan sekitar 30.000 orang di stadion sepak bola nasional Bahrain.

30 ribu umat Katolik di Bahrain menyambut Paus Fransiskus.

Menurut statistik Vatikan 2020, minoritas kecil Kristen di Bahrain sebagian besar terdiri dari imigran, terutama dari India dan Filipina.

Lebih dari 70% dari total populasi — 1,5 juta — adalah Muslim, sementara hanya ada sekitar 161.000 umat Katolik yang tinggal di negara itu. Paus Fransiskus mengatakan pada hari Rabu (9/11) bahwa “luar biasa” melihat banyak imigran Kristen di Bahrain.

“Saudara-saudari seiman, yang saya temui di Bahrain, benar-benar hidup ‘dalam perjalanan,’” katanya.

“Sebagian besar, mereka adalah pekerja imigran yang, jauh dari rumah, menemukan akar mereka dalam Umat Allah dan keluarga mereka di dalam keluarga besar Gereja. Dan mereka bergerak maju dengan sukacita, dalam kepastian bahwa harapan Tuhan tidak mengecewakan.”

Paus menunjukkan bahwa Kerajaan Bahrain adalah sebuah kepulauan dengan 33 pulau, yang “membantu kita memahami bahwa tidak perlu hidup dengan mengasingkan diri, tetapi dengan mendekat” – sesuatu yang membantu perdamaian.

Dia mengatakan “dialog adalah ‘oksigen perdamaian,’” tidak hanya dalam sebuah bangsa tetapi juga dalam sebuah keluarga: Dialog dapat membantu membawa perdamaian bagi suami dan istri yang sedang berjuang, misalnya.

Sepanjang kunjungannya ke Bahrain, kata Fransiskus, ia beberapa kali mendengar keinginan untuk meningkatkan perjumpaan dan memperkuat hubungan antara orang Kristen dan Muslim di negara itu.

Dia mengingat kebiasaan di bagian dunia itu untuk meletakkan tangan di hati ketika menyapa orang lain. “Saya melakukan ini juga,” katanya, “untuk memberi ruang di dalam diri saya bagi orang yang saya temui.”

“Karena tanpa sambutan ini, dialog tetap kosong, ilusi, tetap pada level ide daripada kenyataan,” katanya.

Fransiskus mendorong umat Katolik untuk memiliki “hati yang terbuka,” bukan hati yang tertutup, keras. DSia juga mengatakan bahwa dia ingin menyampaikan “kegembiraan yang sejati, sederhana, dan indah” dari para imam, religius, dan orang awam Kristen yang dia temui di Bahrain.

“Bertemu satu sama lain dan berdoa bersama, kami merasa satu hati dan satu jiwa,” katanya.

Pada awal audiensi umum, Paus Fransiskus menarik perhatian pada dua anak “berani” yang telah mendekati mimbar tempat dia duduk.

Anak-anak ini “tidak meminta izin, mereka tidak mengatakan, ‘Ah, saya takut’ – mereka datang langsung,” katanya.

“Mereka memberi kita contoh bagaimana kita harus bersama Tuhan, dengan Tuhan: lakukanlah.”

“Dia selalu menunggu kita,” lanjutnya. “Saya senang melihat kepercayaan dari kedua anak ini: itu adalah contoh bagi kita semua. Inilah cara kita harus selalu mendekati Tuhan: dengan kebebasan.”(Catholic News Agency)