Unik! Suster Jeannette Masuk Biara, lalu Keluar, jadi Pegawai Negeri, lalu Masuk Biara Lagi

2206
Suster Jeannette menyukai anak-anak

Panggilan Suster Jeannette Tumuju JMJ boleh dikatakan tidak mulus. Betapa tidak? Tahun 1988 dia  bergabung dengan Societas JMJ.

Setelah 10 tahun hidup sebagai seorang religius, dia mengalami pergulatan batin yang hebat. “Rasanya, jalan keluarnya hanya meninggalkan biara,” katanya dalam sebuah testimoni.

Dia akhirnya mengundurkan diri, meninggalkan JMJ yang dia akui sudah membekalinya dengan nilai-nilai hidup.

Setelah meninggalkan biara, dia melanjutkan kuliah di Seminari Pineleng karena dia belum menyelesaikan studinya di Seminari Tinggi Kentungan-Yogyakarta.

Setelah tamat, Jeannette bekerja sebagai guru honor. Dan ketika ada kesempatan untuk menjadi PNS, dia melamar dan diterima dengan penempatan di salah satu Sekolah Negeri di Kepulauan Sangihe Talaud. Setahun kemudian dia dipindahkan di SMA Negeri I Manado.

Sedikit waktunya dia gunakan bekerja di Kantor Departemen Agama Kota Manado, sambil mengajar di SMA Rex Mundi Manado (sekolah milik JMJ) dan Postulat JMJ.

Dalam masa “petualangan” itu, batinnya selalu terusik ketika melihat suster-suster JMJ.

Dia lalu mencoba menguji hatinya dengan berkenalan dengan kongregasi lain, tetapi hatinya tetap di JMJ.

Dengan keberanian ekstra, dia lalu menulis surat kepada Pemimpin Umum di Belanda dengan harapan diberikan kesempatan kedua untuk mengabdikan hidup di JMJ.

“Puji Tuhan, saya diterima. Tahun 2008 saya diterima kembali di postulat. Dua minggu langsung terima busana biara, kemudian menjalani masa novisiat 2 tahun, kaul sementara 3 tahun kemudian dan mengikrarkan kaul kekal pada tahun 2013,” akunya.

Pada tahun yang sama, teman-teman angkatannya ketika dia pertama kali masuk biara merayakan Pesta Perak sebagai suster JMJ.

Suster Jeannette, setia mengabdi Yesus yang tersalib

Dalam refleksinya, dia katakan, “Melaksanakan kehendak Bapa menjadi semangat P. Wolff yang diwariskan kepada Suster-Suster JMJ, termasuk saya.”

Sabda Tuhan kepada Yeremia jelasnya, meneguhkan hal ini. Kata Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan,  apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Sebagai manusia terbatas, Suster Jeannette mengakui berusaha menemukan kehendak Allah dalam hidupnya.

Kehendak Allah katanya, muncul dalam peristiwa dan suara-suara batin yang kuat menggugat kemapanan. “Pada akhirnya, kehendak Allah adalah damai sejahtera.  Saya baru memahami mengapa Pater Wolff meminta suster-suster JMJ untuk melaksanakan kehendak Allah,” katanya seperti dilansir csjmj.org.

Akunya, mengikuti kehendak sendiri membuat kita berpetualang terlalu jauh dari ruang batin yang adalah Bait Roh Kudus Allah. “Pada akhirnya kembali juga pada rancangan Allah dari semula. Tetap SJMJ!”

Sampai akhir hayatnya (27 Oktober 2022), Suster Jeanette tetap sebagai ASN yang ceria dengan pakaian biara dan dengan pelayanan-pelayanan yang khas.

BACA JUGA: https://www.tempusdei.id/2022/10/9302/selamat-pulang-sr-jeannette-tumuju-jmj-asn-yang-mencintai-panggilannya-sebagai-suster-jmj.php

Selamat pulang, Suster Jeannette! Requiescat in Pace.

Emanuel Dapa Loka