Uskup Terpilih Jayapura, Semula Dihambat Paman dengan “Radiogram Bohong” ke Rektor Seminari

517
Uskup Leo Laba Ladjar dan Pastor Yan.

Kabar gembira menyeruak di antara Umat Katolik di Papua, khususnya di Keuskupan Jayapura, pada Sabtu, 29 Oktober 2022.

Mereka menerima kabar sukacita, seorang putra asli Papua, yakni Pastor Dr. Yanuarius Teofilus Matopai You, Pr telah dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup, menggantikan Mgr Leo Laba Ladjar, OFM.

“Dia adalah putra asli Papua, yaitu Pastor Dr. Yanuarius Teofilus Matopai You, Pr,” ucap Mgr. Leo di hadapan umat Katolik di Gereja Katedral Jayapura dan disambut riuh tepuk tangan riuh. Harapan dan doa umat Katolik Papua akan tampilnya gembala pribumi Papua akhirnya terjawab.

Pastor Yan saat meluncurkan biografinya.

Siapa Dia?

Pastor Yanuaris T. Matopai You, Pr lahir di Kampung Uwebutu, Kabupaten Paniai, 1 Januari 1969.

Dia putra dari pasangan Lukas You dan Rosalina Tatogo. Ditahbiskan menjadi imam projo Keuskupan Jayapura, 16 Juni 1991 oleh Uskup Jayapura, Mgr. Herman Munninghoff, OFM di Nabire.

Saat ini, ia dipercayakan menjadi Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura.

Usai menerima Sakramen Imamat, Pastor Yan ditugaskan sebagai pastor paroki di sejumlah tempat dan karya lainnya. Ia memulai karya pelayanannya dengan menjadi Pastor Paroki Gereja Kristus Cahaya Dunia di Yiwika (1991-1997), pindah ke Gereja St. Willibrordus di Arso sekaligus Pastor Dekenat di Keerom (1998-2002), dan menjadi Vikjen Keuskupan Jayapura sekaligus pastor paroki Gereja Katedral Jayapura (2002-2006).

Sepanjang 2007-2010, ia mendapat tugas belajar di Universitas Negeri Yogyakarta untuk studi psikologi. Sekembalinya dari studi, Pastor Yan berkarya sebagai dosen di STFT Fajar Timur sekaligus berkarya di lingkup Seminari Tinggi St. Yohanes Maria Vianney Jayapura (2011-2018).

Sejak 2015, ia juga dipercayakan menjadi Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Jayapura sekaligus Ketua Yayasan STTK hingga sekarang.

Tahun 2022 hingga kini, ia juga menjabat Ketua STFT Fajar Timur sekaligus Direktur Seminari Tinggi St. John Mary Vianney.

Dalam bigrafi ini tersua kisah tentang Pamannya kirim “radiogram bohong” kepada rektor seminari.

Ditentang Keluarga

Pada usia imamatnya yang ke-25 tahun pada 2016 lalu, Pastor Yan menerbitkan sebuah biografi berjudul “Melodi Prahara: Antara Imamat dan Keluarga.”

Dalam buku yang ditulis Demitrius Namsa itu, Pastor Yan mengaku bahwa cita-citanya untuk menjadi imam atau pastor Katolik tidak langsung dimengerti keluarga.

Malah, keinginannya itu ditentang oleh keluarganya. Mereka ingin agar sesuai dengan adat istiadat Suku Mee, Yan sebagai anak laki-laki sulung menikah dan mendapat keturunan.

Bahkan, untuk menghambat, seorang pamannya bernama Maximus Tatogo, mengirim radiogram kepada pimpinan biara (rektor) tempat Yan You muda sedang dibina.

Radiogram itu berisi “pemberitahuan bohong” yang menyatakan bahwa Yan telah menghamili istrinya. Karena itu, dia diminta untuk kembali ke kampung untuk menjalani urusan adat dan menikah.

Bagi Pastor Yan, menjadi Pastor Katolik adalah panggilan hidup yang menantang. Keluarga harus ditinggalkan. Cinta harus dilupakan. Seluruh diri harus dipersembahkan untuk melayani Tuhan. Itu refleksinya di usia imamat 25 tahun.

“Jadi saya tantang adik-adik frater, saya mau bagi buku ini gratis tapi hanya kepada para frater. Dengan catatan, yang siap mau jadi pastor yang bisa terima buku ini. Kalau tidak siap menjadi pastor, jangan maju terima buku,” ujar Pastor Yan dengan nada serius, namun disambut dengan tepuk tangan riuh saat itu.

Tokoh Kerawam Katolik, drg. Aloysius Giyai, M.Kes yang turut hadir menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku Melodi Prahara yang sangat bernas bagi pertumbuhan iman Katolik, terutama anak-anak muda yang sedang ditempa di seminari.

“Kisah hidup Pastor Yan ini benar-benar menunjukkan penjelmaan diri Kristus yang telah memanggil untuk berkarya. Ia tampil sebagai guru dan nabi bagi umat di Papua dan dengan keteguhan dan kesalehannya menjalani hidupnya sebagai pastor. Saya sangat kagum pada sosoknya. Semua pastor di Papua harus mengikuti teladannya,” ujar Aloysius.

Atas keterpilihannya Pastor Yan menjadi Uskup, Alo mengaku bangga. “Kami punya lagi Uskup dari orang asli Papua. Kami bangga dan bersyukur. Semoga Uskup Yan sungguh menjadi gembala yang setia dan penuh semangat,” harap Alo.  (Gusty MR/EDL)