Dengarkan Aku, Chairil Anwar – Untuk Peringatan 100 Tahun Sang Binatang Jalang

60
Kolase padang sabana sumba dan Chairil Anwar. (ist)

Oleh Emanuel Dapa Loka, penyair kambuhan

Di pusaran padang sabana sumba berbatas langit ini,
desir angin panas menyapu wajahku,
sementara ubun-ubunku tertikam matahari garang

Ada rasa khawatir akan masa depan anak-anakku,
sebab rasanya sabana ini tidak memberi harap,
kecuali melahirkan pesona di layar Ponsel manusia sejagad.

Aku juga kadang ikut terpesona
lalu bergumang penuh kagum:
menawannya, kau negeri sabanaku!!

Tanyaku lalu,
akankah sabana ini memberi imaji baru
bagi beranjaknya denyut kehidupan
anak-anak sabana sendiri?

Padang Sabana Sumba berbatas langit. (ist)

Ataukah sabanaku ini hanya bisa memukau mata,
namun tak mampu mengenyangkan perut?

Para pelancong dating motrat-motret,
tapi aku dan kawan-kawanku dapat apa?

Mumpung kau sedang menyendengkan telinga
dan memandang dari sana,
karena para pencintamu di negeri ini
tengah mengenangkan 100 tahunmu,
tengoklah juga sejenak ke sabana kerontang ini, Chairil Anwar!

Tiupkanlah bait-bait puisimu
bersama mantra-mantra solilokui
Umbu kebanggaanku,
Umbu Landu Paranggi,
agar oleh gaib puisi-puisimu
dan getar solilokui Sang Umbu,
aku tak letih memacu kudaku di sabana ini,
walau di hadapan masa membentang
100 bahkan 1.000 tahun berikut