UNTUK 1000 TAHUN LAGI….!

56
Padang Sabana Sumba berbatas langit. (ist)

Simply da Flores, Harmony Institute

Kubaca tulisanmu, Penyair
Abangku Chairil Anwar
Aku….
kalau sampai waktu ku
Kumau…..

Aku ini binatang jalang
dari kumpulan terbuang….”

Dan kusadari aku ini Komodo, binatang purbakala jutaan tahun
menggeliat resah dan gelisah
diperebutkan nafsu jalang
oleh yang rakus tamak
demi selera raga dan rasa atas nama kelestarian kata

Kukagum gelora jiwamu
Saudaraku Umbu Landu Paranggi
“Kuingin hidupkan 1000 penyair”
dan engkau menari abadi
dalam samudera kata makna
dalam empasan angin damba
dalam derap kuda Pasola
mengawal misteri savana Sumba
sudah ribuan lembar waktu
entah sampai 1000 tahun lagi
untuk dipotret dan dikagumi
untuk dahaga lapar mata
Dan para generasi bumi Marapu
melangkah diam dibakar tanya
jalani hidup apa adanya
Engkau abadikan dalam kata

Kulihat generasi milenial
berkelana menerjang cakrawala
gerakan sanubari jiwanya
alirkan sejuta hasrat damba pada ujung jari jemarinya
leburkan seluruh raga rasanya
padatkan seluruh alam semesta
satukan semua ruang waktu
pada layar sarana maya
Sambil daraskan doa mantra
“Aku generasi pewaris digital
Aku ingin menjadi data
Aku ingin ada abadi
Aku ingin hidup selamanya”

Kolase padang sabana sumba dan Chairil Anwar. (ist)

Aku maknai kalimatmu Penyair
‘Kuingin hidup 1000 tahun lagi’
Seperti umur pasir pantai
diempas buih ombak samudera
Seperti angin di wajah lautan
Seperti ilalang di padang savana
ditemani derap damba kuda
Seperti komodo yang merana
diterjang gelombang bisa kata
Seperti karang diempas gelombang
dalam ajaibnya semesta
Napas tanya menderu abadi
Jantung harap berdetak lestari
Energi inkarnasi cahaya mentari
terus memancar tak bertepi

Kuingin hidupkan 1000 Penyair
Itu dambamu Penyair
Dan aku ingin terus menulis
1000 sejuta berjuta kata
tentang pernak-pernik hidup
yang ada dan terjadi
yang bisa dialami
yang mampu dipikirkan
yang sudah dan sedang terjadi
bahkan yang hanya dalam mimpi
karena hidup itu mimpi
karena mimpi itu abadi
lestari dan tak bertepi
jembatan misteri insani Ilahi
ada dan terus berinkarnasi
dalam kata dan literasi
termasuk tulisan sajak ini
“untuk 1000 tahun lagi”