Peran Besar Maria Louise bagi Kelahiran Novel-novel Remy Sylado

195

Pencapaian seniman serbabisa Remy Sylado dalam bidang susastra sangat meyakinkan. Puluhan novel, naskah drama, buku berisi ulasan kebahasaan telah ia hasilkan.

Untuk menghasilkan karya-karya tersebut Remy melakukan riset mendalam. Ia bahkan melakukan riset hingga ke negeri Belanda dan Prancis. Dalam hal riset ini, istrinya mengambil peran besar.

Remy selalu berikhtiar memperkaya novel-novelnya dengan aneka pengetahuan dan kisah-kisah bernas, dan dalam kemasan bahasa yang memikat.

“Remy tidak hanya mengandalkan imajinasi, tapi juga lakukan riset terlebih dahulu,” kata Maria Louise, istriya kepada tempusdei.id.

Remy Sylado

Selain mengandalkan riset, melalui karya-karyanya, pemilik nama asli Japi Abdiel Tambayong ini selalu memperkenalkan kata-kata atau ungkapan yang baru dan bernas.

“Dan memang begitulah! Tugas seorang penulis adalah memperkenalkan kata-kata yang sebenarnya ada, bahkan sudah ada dalam kamus tapi tidak pernah dipakai. Bahkan seorang penulis bisa menciptakan kosa kata baru,” ujar Remy suatu saat.

Hal yang menarik, sang istri mengambil peran cukup banyak dalam kelahiran novel-novel Remy, misalnya dalam melakukan riset dari literatur berbahasa asing, khususnya Belanda.

Pasalnya, sang istri tergolong lancar berbahasa Belanda. “Karena saya bisa berbahasa Belanda, jadi saya bantu kalau ada teks dalam Bahasa Belanda. Juga kalau tulisan sudah jadi, saya memberi penilaian atau masukan soal menarik atau tidak, wajar atau tidak dan lain-lain,” katanya.

Sastrawan Remy Sylado, di ruang kerjanya ketika masih sehat. (ist)

Remy sendiri menguasai banyak bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, bahkan Bahasa Arab, Latin dan Ibrani.

Aku Remy, ia menguasai bahasa-bahasa tersebut secara otodidak. “Dan itu karena suka. Namanya sudah suka, pasti berusaha untuk bisa,” kata Remy.

Juga katanya, “Saya ikuti anjuran teman untuk baca Alkitab dalam Bahasa Inggris kalau mau lancar berbahasa Inggris, sebab Bahasa Inggris yang dipakai dalam Alkitab itu enak. Dan ternyata benar.”

Saat ini, penulis novel antara lain Ca Bau Kan dan Namaku Matahari ini belum bisa berkarya lagi oleh karena stroke yang ia derita.

Meski begitu, semangatnya tetap tinggi. Pemilik nama samaran lain, yakni  Dova Syla ini bahkan mengaku sudah memiliki sebuah novel di kepalanya yang tinggal ia tuangkan. “Tinggal ketik saja,” ungkapnya disertai tawa kecil.

Sayangnya, stroke yang ia derita belum juga pergi. Dan karena belum terlepas dari stroke pula, seperti dikatakan sang  istri, Remy belum boleh menjalani operasi katarak.

Saat ini mata Remy tidak bisa melihat atau tidak berfungsi dengan baik karena tertutup katarak. (Emanuel D. Loka)