Dua Jam Bersama Remy Sylado, Setelah Musim Berganti Berkali-kali

511
Rindu terobati, dua jam bercengkerama.

Saya katakan, orang Manado itu seperti tidak punya harga diri. Semuanya mau tiru-tiru Bahasa Jakarta. padahal menurut saya, Bahasa Minahasa itu lebih lengkap dari Bahasa mana pun juga.

Kerinduan saya untuk kembali berjumpa dengan seniman serba bisa Remy Sylado akhirnya terpenuhi. Dalam gerimis dan bayang-bayang hujan lebat, kemarin sore (13/7) sekitar pukul 15-an, saya memasuki rumah pemilik nama asli Japi Panda Abdiel Tambajong yang didominasi warna hitam dan putih di Cipinang Muara, Kompleks PLN, Jakarta Timur itu.

Istrinya Emmy sudah memberi tahu bahwa saya akan datang setelah melakukan liputan dari pagi hingga siang.

Dan rupanya memang, pemilik nama asli Japi Tambayong itu sudah menunggu kedatangan saya. Maklum, bebarap tahun sebelum pandemi korona, saya sangat sering berkunjung ke rumahnya.

Lukisan pada dinding ruang tamu rumah Remy Sylado. (EDL)

Di rumah sederhana namun sangat indah itu, kami biasa bercerita ngalor-ngidul.

Selain untuk tugas wawancara, saya biasanya berkunjung untuk menyerap aneka ilmu yang dia miliki, khususnya dalam bidang kebahasaan dan susastra. Saya sangat menikmati obrolan dengannya, walau saya lebih banyak mendengarkan, hanya sesekali menimpali—sebab ilmu kami sangat tidak imbang. Pak Remy tahu sangat banyak. Sebaliknya saya, sangat sedikit yang saya ketahui.

Cerita tentang Sumba

Ketika saya memasuki kamarnya, istrinya katakan, “Itu Em datang…”. Saya lalu memegang tangan kanannya sambil mengucapkan salam. “Oh, Em…. Gimana kabarmu? Kampungmu Sumba sekarang terkenal dan jadi primadona, ya. Dunia sedang memandang ke sana,” katanya membuka obrolan.

Penglihatan Remy sedang tidak normal sehingga sulit melihat karena katarak. “Tidak bisa melihat, masih tunggu untuk operasi katarak,” kata Emmy istrinya.

Saya lalu menimpali, Sumba memang sedang menarik perhatian karena keasliannya. “Saking aslinya, berbagai sarana dan prasarana masih asli juga,” kataku disambut tawa Pak Remy.

Salah satu lukisan pada dinding di lantai 2. (EDL)

Penulis novel Kerudung Merah Kirmizi ini rupanya masih ingat ketika dalam perjumpaan kami beberapa tahun lalu sebelum pandemi saya berkata bahwa Sumba kaya dan indah, namun miskin akses dan prasarana.

Pria kelahiran 12 Juli 1945 itu lalu bercerita bahwa dia pernah ke Sumba pada tahun 60-an bersama seorang teman kosnya bernama Martin Weru. Dia sangat terkesan dengan batu-batu kubur megalitikum. “Ini bukti peradaban yang luar biasa,” katanya singkat.

Setelah bercerita banyak hal, termasuk tentang sebuah novel yang dia akui sudah selesai dia rancang di kepala dan sudah ia janjikan ke penerbit, jam menunjukkan pukul 16.00.

Karena saya ada acara pukul 19.30 di Bekasi, saya katakan, “Saya mau berdoa untuk Pak Remy, dan setelah itu saya pamit pulang, ada acara.”

Sontak katanya, “Kok cepat sekali. Di sini saja dulu. Memang ada acara apa?” Saya jelaskan bahwa ada Misa Novena di Gereja pukul 19.30 WIB. “Ah… Masih ada waktu… Di sini saja dulu,” katanya. Saya lalu katakan, “Kalau begitu, nanti jam 5 saya pamit, ya…”. Dengan cepat katanya, “OK”.

Obrollan kami berlanjut lagi. Saya tahu betul hal-hal yang Remy suka ceritakan; antara lain soal Kritik Bahasa, kisah dalam perpustakaan, kisahnya dengan Gerson Poyk, perkembangan Bahasa dan bagaimana ia menguasai banyak Bahasa di dunia.

Ketika saya mengumpan soal pengaruh Bahasa asing dalam perkembangan sebuah Bahasa, Remy dengan semangat bercerita, belum lama ini sebuah fakultas Bahasa mewawancarainya.

“Karena saya diminta mengeritik, ya saya kritik. Saya katakan, orang Manado itu seperti tidak punya harga diri. Iya. Semuanya mau tiru-tiru Bahasa Jakarta. Menurut saya, Bahasa Minahasa itu lebih lengkap dari Bahasa mana pun juga. Sebab Bahasa Minahasa itu mengenal bentuk kata kerja yang berbeda sesuai waktu. Seperti Bahasa Inggris, ada present tense, past tense, future tense dan ing form. Past participle ada dalam Bahasa Minahasa. Bayangkan orang Minahasa waktu itu masih pakai cawat, tapi sudah memiliki kerangka berpikir yang tidak sembarang.” Remy lalu menyebut sejumlah contoh bentuk kata yang dimaksudkan. “Orang-orang sekarang, karena sulit lalu mau gampangnya saja. Menyebalkan,” katanya gusar.

Remy Sylado ketika masih sehat. Foto diambil sekitar lima tahun lalu. (EDL)

Dia juga bercerita tentang pengalaman bersembunyi dalam perpustakaan seminari di Semarang dan melahap semua buku yang ada di sana. Uniknya, saat itu dia masih SD, dan buku-buku yang dia baca dalam Bahasa Inggris.

Kisah yang dia tidak lupa juga, cerita soal sahabatnya Gerson Poyk yang unik. Kata Remy, “Belum ada Cerpennya, Gerson Poyk itu sudah datang ambil honor…. Hahaha….”

Saya ingat dalam sebuah kesempatan Remy bercerita tentang Gerson Poyk. “Kalau Gerson datang ke kantor atau rumah, dia selalu bercerita secara dramatis. Tiba-tiba dia cerita saja…. Setelah itu dia tanya, cerita tadi bagus gak jadi Cerpen….. hahaha….. Nanti dia tulis betul”.

Setelah terdiam sejenak, Remy lalu nyeletuk, “Em, sekarang, apa kegiatanmu?” “Masih jadi wartawan dan nulis buku-buku sederhana. Belum bisa pindah ke lain hati, masih di situ-situ saja,” jawabku. Dengan cepat Remy berkata, “Bagus!”

Cerita lalu berbelok ke pengalaman Remy menjadi wartawan sejak masih remaja. Dia menyinggung pengalaman disekap PKI selama beberapa jam karena mengeritik PKI.

Meski seorang wartawan ketika itu harus bisa menulis segala bidang, Remy memang memiliki minat tersendiri pada bidang seni dan Bahasa. Ketika teman-temannya menulis yang ringan-ringan, dia sudah menulis resensi film yang membuat pimpinannya berkesan padanya. “Saya selalu mau melakukan yang orang lain tidak lakukan. Karena ambisi ingin lebih hebat saja,”akunya.

Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Matahari Jakarta mulai redup dan awan tampak menghitam, pertanda mau hujan. Saya pamit dan berjanji akan segera datang lagi.

Setelah berdoa sejenak, saya pamit dan bergegas menuju Stasiun Jatinegara untuk pulang ke Bekasi.* (Emanuel Dapa Loka)