Helena Dewi Justicia: Pejuang Keadilan

77
Helen, Requiescat in pace. (ist)

Oleh Melani Budianta *

Sesuai dengan namanya, Helena Dewi Justicia adalah seorang perempuan  pejuang keadilan. Ia tak dapat membiarkan kondisi yang membuat rasa kemanusiaannya terusik.  Itu sebabnya seringkali ia bersuara keras, menunjukkan hal-hal yang menurutnya tidak benar atau yang semestinya dilakukan.  Sesuai pula dengan nama panggilannya, Helena, ia mewujudkan sosok Santa Helena yang tabah dalam kondisi yang seberat apa pun, dan penuh iman serta semangat, mencurahkan energi dan pikiran untuk menemukan salib Kristus dalam arti harafiah maupun secara spiritual.

Itulah sosok Helena Dewi Justicia dalam berbagai kenangan para sahabat, kenalan, romo, suster, keluarga dan mereka yang pernah merasakah kehadirannya – lama ataupun hanya berpapasan.  Sehat maupun sakit, Helena digerakkan oleh roh yang memancarkan gairah kehidupan.  Perjumpaan dengannya selalu membuat hati kita menjadi hangat dan penuh semangat.

Kita mungkin bertanya-tanya dari mana ia mendapatkan “baterei” yang seakan tak pernah aus tersebut?  Romo Antonius Haryanto dalam kotbah di misa requiem Senin 6 Juni menceritakan bahwa seringkali ketika menjelang dini hari Romo menyelesaikan  sebuah makalah, ia akan meminta tolong Helena untuk membaca dan mengeditnya.  Pagi ketika Romo Harry bangun, makalah itu sudah dikirim kembali oleh Helena bersih dan rapi.  Helena tidak hanya mampu berbicara lantang, ia juga bekerja diam-diam dalam keheningan malam.

Entah dikerjakan pagi, siang atau malam, tulisan demi tulisan mengalir dari tangan Helena, yang mendapatkan pendidikan S1 di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jember (dan Program Magister Psikologi Sosial, Universitas Indonesia).  Pikiran, ulasan dan laporan Helena diunggah di laman bersatoe.com.  Ia merespons kondisi dan momen historis yang ada. Di bulan April ia menulis tentang Kartini, dan di pertengahan 2020 ia bicara tentang pandemi. Ia menceritakan berbagai pengalaman dan perjalanan yang dilakukannya, dan membuat obituari untuk sosok-sosok yang dikaguminya.

Pengagum Sapardi Djoko Damono ini adalah seorang pencinta buku. Kesukaannya membaca buku tidak dinikmatinya sendiri, tetapi ingin ditularkannya pada generasi muda. Oleh karena itu ia menjadi pegiat literasi, mengumpulkan dan mengirim buku ke berbagai pelosok.  Tulisan-tulisan Helena sendiri pun menunjukkan sentuhan sastrawi.  Bahasanya indah dan mengalir, dan pesan yang disampaikannya selalu bernuansa positif.   Mengalami pandemi, Helena bukan hanya menulis soal penderitaan dan musibah, tetapi terlebih bersaksi tentang empati dan solidaritas lintas batas.  Melalui tulisan-tulisannya Helena terus hidup dan menyapa kita semua dengan sentuhan yang menguatkan, keberpihakan pada yang lemah, perhatian dan kasih.

Mengutip obituarinya untuk Romo Yomi di dalam salah satu tulisannya, kita pun melantunkan apa yang pernah didoakannya:

“Selamat jalan, Helena, selamat menjumpai Kekasihmu yang sejati. Dia yang telah menemanimu dalam malam dan gelap, kini menyambutmu dalam terang yang kekal. Jadilah pendoa bagi kami semua. Jadilah sahabat dalam malam, gelap, gelombang dan angin kencang. Temanilah kami merindukan terang, dalam perjalanan menuju cahaya.”

* Melani Budianta,   kenalan yang pernah berpapasan dengan Helena Dewi Justicia, di Jakarta.