Pernah Dipanah Ayahnya Sendiri, Aloysius Giyai Menjelma jadi Dokter Pekerja Keras yang Inovatif

391
drg Aloysius Giyai, M. Kes: Syukur tiada henti.

TEMPUSDEI.ID-Pernah menduduki beberapa jabatan penting di lingkungan pemerintahan, khususnya Papua, drg Aloysius Giyai M. Kes, tak henti-hentinya bersyukur. Dan rasa syukurnya semakin membubung tinggi ketika dia menengok kembali perjalanan hidupnya.

Jika ditengok ke belakang, sangat beralasan Alo bersyukur. Betapa tidak? Dia terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Kedua orang tuanya buta huruf dengan sumber penghasilan dari berburu di hutan.

Tidak jarang oleh karena kemiskinan, keluarganya diremehkan, dilecehkan oleh keluarga-keluarga lain. Bahkan ketika menghadiri sebuah natal bersama, ayahnya diperlakukan secara tidak sopan oleh panitia karena tidak membawa mie dan ikan sarden yang sudah dipesan oleh panitia. Untuk bahan konsumsi acara, panitia telah menentukan “siapa membawa apa”, dan ayah dari Alo bersama beberapa keluarga lain mendapat tugas membawa mie dan ikan sarden. Namun, sadar tidak bisa membawa kedua jenis makanan yang sangat asing baginya itu, sang ayah membawa binatang hasil buruan, lebih banyak dari jumlah yang diminta panitia. “Bagaimana saya bisa bawa mie dan ikan sarden, lihat saja belum pernah,” kata sang ayah seperti dituturkan Alo dalam buku Memutus Mata Rantai Kematian di Tanah Papua.

Aloysius Giyai: berjuang tiada henti.

Bersumpah pada Ugatame

Diperlakukan tidak sopan, sang ayah mengajak keluarganya pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, dia berhenti sejenak, menengadakan kepalanya ke langit dan “bersumpah”: Ugatame….! Saya bersumpah! Saya akan menyekolahkan anak-anak saya. Bila perlu, nanti merekalah yang membuat mie dan ikan sarden itu.

Dan benar! Dia dan istrinya bekerja lebih keras lagi. Tidak kenal lelah. Dia pun menyuruh bahkan memaksa anak-anaknya untuk sekolah. Yang malas ke sekolah dia hukum dengan “kejam”.

Karena belum menyadari pentingnya sekolah, Alo tergolong anak yang ogah-ogahan ke sekolah. Sang ayah pun bertindak tegas dan keras padanya. “Pernah suatu saat, karena malas ke sekolah, Bapak memaksa dan mengejar saya. Bapak panah kaki saya, kena di tumit. Sejak itu saya rajin ke sekolah,” kenang Alo.

Alo ternyata menunjukkan prestasi belajar di atas rata-rata. Sang ayah pun mengirim Alo bersekolah di Jayapura dan tinggal di asrama yang dibina para pastor. Prestasi Alo semakin terlihat.

Aloysius Giyai (Sekda) bersama Bupati dan Wakil Bupati Pegubin, Papua.

Alo Tembus di Sekolah Favorit

Setamat SMP, dia mendaftar ke SMAN 1 Jayapura. Kala itu, tidak sembarangan anak bisa lolos ujian masuk dan bersekolah di sekolah favorit ini. “Ini adalah sekolah anak-anak orang kaya dan pejabat, tapi saya bisa lulus. Saya bangga sekali,” ujar Alo.

Untuk mendapatkan uang saku, Alo harus bekerja keras di Jayapura. Di luar jam sekolah, dia membabat rumput di halaman rumah orang dan menyedot WC mereka. “Di semua rumah itu, saya pernah babat rumput dan sedot WC untuk dapat uang saku,” ujar Alo ketika suatu saat bersama penulis melintas di ruas jalan depan Universitas Cendrawasih.

Tamat dari SMAN 1 Jayapura, oleh karena prestasi belajarnya yang gemilang, dia diterima di dua universitas. Kedua-duanya pada jurusan kedokteran. Alo kemudian memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

Meniti Karier dari Bawah

Segera setelah menyelesaikan studinya, Alo kembali ke Papua. Dia meniti kariernya mulai dari Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas, lalu mendapat tugas di rumah sakit.

Mendapatkan tugas di mana pun, Alo selalu all out dalam bekerja.

Ketika menjadi Direktur RSUD Abepura (2009-2014), sifat kerja keras penuh inovasi tetap dia bawa serta.

Ketika pertama kali ditempatkan di RSUD tersebut, kondisi rumah sakit sangat kumuh dengan fasilitas yang sangat memprihatinkan. Sampah berserakan di mana-mana, semangat kerja para pegawai sangat rendah.

Dia lalu menyusun strategi untuk mengubah wajah rumah sakit, meningkatkan kinerja para pegawai dengan pola pendekatan kekeluargaan dan manusiawi. “Siapa pun dia, jika didekati secara baik-baik dan digajak bekerja lebih rajin, teratur, pasti bisa. Dan itu saya buktikan,” ujar Alo.

drg Alo “menyulap” Rumah Sakit Umum Daerah Abepura

Menyulap Wajah dan Pelayanan Rumah Sakit

Dan benar! Hanya dalam beberapa bulan, wajah Rumah Sakit berubah total dengan semangat kerja para pegawai yang berubah drastis, berikut peralatan kesehatan yang bertambah satu demi satu.

RSUD Abepura dalam waktu singkat menjadi rumah sakit rujukan. Perubahan ini membuat masyarakat terheran-heran. Tidak hanya itu. Alo pun membebaskan biaya perawatan bagi masyarakat tidak mampu. Yang penting membawa surat keterangan tidak mampu dari RT atau pengurus gereta atau masdjid. “Saya tahu betapa sulit dan sengsaranya jika sakit di saat tidak punya uang. Saya sangat tahu juga, banyak masyarakat dalam keadaan sulit. Mereka ini tidak boleh mati karena tidak mampu membayar biaya Rumah Sakit,” kata Alo terharu.

Tuhan lalu memperluas medan pelayanan Alo. Dia kemudian mendapat kepercayaan menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua  (2014-2020) dan menjadi arsitek Grand Design penanganan kesehatan masyarakat di Papua. Berbagai program dia inisiasi untuk memberikan pelayanan terbaik.

Selain itu, dia tidak kenal lelah datang ke pedalaman-pedalaman, sering kali cuaca buruk. “Tuhan pasti peihara. Saya berangkat saja, dan benar Tuhan pelihara hingga hari ini,” ujar mantan Direktur RSUD Jayapura itu. Sekadar informasi, dia juga berhasil merombak wajah RSUD Jayapura.

Sambil mengemban jabatan Kadis Kesehatan Provinsi Papua, Alo juga menjadi Direktur Eksekutif Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP, 2013-2020).

Selain itu, di masyarakat ia juga memegang berbagai jabatan penting. Dan di kalangan suku-suku masyarakat Papua, dia adalah Ketua Lembaga Adat Masyarakat Pegunungan Tengah Papua LMPT  (16 Kabupaten, mencapai  1,7 juta penduduk dari total Orang Asli Papua (2004-2015). Sejak 2015 sampai sekarang, ia menyandang kedudukan sebagai Ketua Pertimbangan Tunggal LMPT.

Alo tidak lupa masa lalunya.

Syukur Tiada Henti

Ketika ditanyai alasan dia begitu semangat menjalankan pekerjaan dan pelayanan dengan penuh inovasi, Alo menjawab, “Itu semua sebagai ungkapan rasa syukur saya kepada Tuhan. Tuhan sudah memilih saya dan memberi kepercayaan, maka saya harus jalankan dengan baik dan bertanggung jawab. Itu semua ungkapan syukur saya yang tiada henti.”

Pria kelahiran  Onago, Deiyai, 8 September 1972 ini menunjukkan semangat kerja itu misalnya dengan selalu ke kantor pagi-pagi dan pulang paling terakhir. Tidak jarang dia pulang pukul 22 atau lewat dari itu.

“Dalam kerja dan upaya memacu semangat, orang-orang yang kita pimpin perlu contoh dari pimpinan. Dan ternyata, tanpa saya harus marah-marah, mereka berubah dengan sendirinya. Kami malu, Bapak saja datang pagi-pagi,” kata bawahan kepada Alo.

Atas kerja keras dan berbagai prestasi kerja, penulis sejumlah buku, antara lain “17 KO: Kunci Sukses Pemimpin” ini menerima banyak penghargaan dari berbagai pihak dan instansi.

Dengan rekam jejak dan semangat kerja serta pengabdian yang tinggi dan sudah teruji, sudah selayaknya Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pegunungan Bintang tersebut mendapat kepercayaan memimpin pada lingkup yang lebih luas dan menantang.

Dengan pangkat Pembina Utama Madya/IV/D dan pengalaman yang berderet-deret, Alo layak menjadi salah satu penjabat Bupati untuk salah satu kabupaten di Papua yang masa jabatan Bupatinya segera berakhir sebelum Pemilu 2024.  Selamat melayani dengan giat dan tulus.* (EMANUEL DAPA LOKA)