Dr Sandersan Onie: Orang yang Mau Bunuh Diri Butuh Ditemani, Dikasihi dan Didengarkan

135
Dr Sandersan Onie

JAKARTA, TEMPUSDEI.ID-Kian tidak jarang tendengar berita tentang orang melakukan tindakan bunuh diri. Seringkali juga, pelaku tindakan bunuh diri adalah tetangga, anggota keluarga atau sahabat kita. Cara yang dipakai bermacam-macam, tergantung akses dan mereka.

Pada awal Maret lalu, sebuah aksi bunuh diri dilakukan oleh seorang pria di Palembang, Sumatra Selatan sambil menyiarkan aksinya secara langsung di akun media sosial (Medsos) Instagram (IG) miliknya. Memprihatinkan.

Korban gantung diri itu berinisial EG (23) warga Jalan Sukarela, Lorong Sejambu 1, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Sukarami, Palembang.

Peristiwa itu diketahui setelah polisi menerima laporan dari rekan korban adanya peristiwa gantung diri pada Sabtu (5/3) siang. Rekan korban tersebut menyampaikan kepada kepolisian bahwa peristiwa gantung diri itu diketahuinya setelah menonton siaran langsung di akun Medsos Instagram milik korban.

Sandy bersama profesornya di depan kampus UNSW Sidney

Mengapa aksi bunuh diri terjadi? Banyak penyebabnya. Dr. Sandersan Onie, seorang peneliti kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri terkemuka yang berbasis di Black Dog Institute, UNSW Sydney menyebut setidaknya tiga penyebab. Ketiga hal tersebut adalah tekanan hidup, rasa putus asa dan kesepian. Sandy, demikian sapaannya, pada dasarnya, orang yang melakukan tindakan bunuh diri itu tidak mau mati, tapi hanya mau masalah yang dia hadapi selesai atau berakhir.

Usai mengikuti webinar bertema Generation Gap; Berkah atau Musibah yang diadakan oleh Komunitas Santo Thomas dan disiarkan langsung dari Puspas Samadi Klender, Jakarta Timur (4/6), TEMPUSDEI.ID berkesempatan berbincang dengan pria lajang yang juga adalah pendiri Emotional Health of All, Indonesia – salah satu yayasan pencegahan bunuh diri berbasis penelitian pertama di Indonesia.

Sandy mengatakan, orang tidak pernah bisa tahu dengan persis alasan seseorang melakukan tindakan bunuh diri. “Mungkin kita bisa mengira-ngira atau membaca alasan mereka, tapi susah sekali mengetahui kondisi yang mendorong mereka melakukan bunuh diri,” jelasnya.

Oleh karena itu kata Sandy, siapa pun tidak boleh menghakimi yang bersangkutan. “Yang kita perlu lakukan, seperti perintah Yesus, kasihi seperti aku mengasihi kamu. Kalau kita melihat orang murung, seharusnya kita tanya, kamu gak apa-apa kan? Aku di sini kalau kamu mau cerita. Saya care sama kamu, kamu ada keinginan bunuh diri gak? Kita jangan takut menanyakan hal tersebut secara terbuka. Karena kalau kita anggap menanyakan ini tabu, mereka yang alami juga anggap ini tabu. Dan ini berbahaya,” jelas penulis buku Indonesia Mental Health First Aid terbitan Penerbit Buku Kompas ini.

Dr Sandy Onie

Masih menurut Sandy, kalau benar dia ingin melakukan bunuh diri, maka yang perlu dilakukan adalah menemani dan mendengarkan. Dengan mendengarkan saja curahan isi hati, keinginan bunuh diri itu lama-lama bisa menurun. “Jadi, kita menanyakan, mendengarkan dan menemani orang tersebut. Ingat! Jangan kita ceramahi atau hakimi,” ungkap Sandy mengingatkan.

Jelas Sandy lebih jauh, dalam budaya Indonesia, orang sangat tabu kelihatan lemah. Karenanya, orang tidak mau bercerita karena takut dihakimi dan dicap: kamu kurang kuat, kamu orang lemah, kamu tidak punya iman. “Kata-kata ini tidak membantu seseorang yang punya pemikiran bunuh diri. Kita harus membuat situasi yang aman untuk terbuka sehingga orang tersebut mau sharing dengan kita,” kata Sandy lagi.

Sandy mengakui, hal yang membuat orang melakukan percobaan bunuh diri itu kompleks sekali. Tapi tiga hal yang simple adalah Pertama, keputusasaan. Orang yang melakukan percobaan bunuh diri itu sebenarnya tidak mau mati. Mereka hanya ingin masalahnya selesai, mereka begitu menderita dan merasa ini satu-satunya jalan keluar. Kedua, kesepian. Banyak sekali orang yang merasa kesepian lalu ingin bunuh diri. Kita sebagai makhluk sosial membutuhkan tempat curhat, tanpa kecuali. Kalau orang merasa kesepian, dia akan merasa tidak ada orang yang sayang, tidak ada yang mendukung, merasa tidak berguna di dunia, maka ingin hilang saja.

Ketiga, akses ke metode bunuh diri. Walaupun orang itu putus asa dan kesepian, kalau tidak ada akses untuk bunuh diri, maka tidak bunuh diri. Makanya kalau ada orang yang punya pemikiran untuk bunuh diri, penting sekali menjauhkan benda-benda yang bisa menjadi alat bunuh diri.

Menyangkut orang yang melakukan siaran langsung bunuh diri, kata Sandy, ini memang kelihatan baru, tapi bukan hal baru. “Sekarang karena perkembangan teknologi, mereka bisa live streaming, dll. Kalau dulu mereka menulis surat. Setiap orang yang begitu menderita, mereka cari bantuan. Tidak ada salahnya mencari perhatian: tolong, saya sangat menderita, tolong saya.”

Lantas, apa tanda-tanda orang yang sedang mengalami situasi berat sehingga mau bunuh diri? Ada beberapa tanda: murung, tidak mau keluar kamar, tidak mau bertemu orang atau sudah mencari cara bunuh diri, misalnya search di google cara bunuh diri.

Mungkin juga sudah mengatakan kepada orang lain: aku mau hilang saja, tidak mau hidup lagi. Ada juga orang yang sudah memberikan barang-barangnya kepada orang lain, seolah-olah dia tidak membutuhkan lagi.

“Nah kalau ada tanda-tanda begini, jangan ragu bertanya tentang bunuh diri ini. Yang penting kita tanya. Bisa saja orang itu tidak ada keinginan untuk bunuh diri. Tapi kalau ada orang yang ingin bunuh diri dan kita tidak tanya, itu bisa gawat sekali. Jadi jangan takut untu tanya dan care, karena memang perintah Yesus katakan, kasihilah sesamamu seperti Aku mengasihi kamu. Perintah ini bukan hanya untuk para psikolog, para romo melainkan kita semua,” pungkas Sandy mengingatkan lagi. (tD)