Cinta Laura, Romo Magnis, Yudi Latief akan Bicara tentang Pancasila

441
Artis Cinta Laura dan Romo Magnis

 JAKARTA, TEMPUSDEI.IF-Bekerjasama dengan Institut Filsafat Pancasila, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI)  mengadakan sarasehan bertajuk Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara dan Relevansinya dalam Kehidupan Bersama di Gedung Nusantara V, Kompleks DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (2/6/2022).

Sarasehan akan menghadirkan sejumlah pembicara antara lain Romo Franz Magnis Suseno, artis Cinta Laura, Yudi Latif, Bambang Susetyo dan Direktur Institut Filsafat Pancasila Yoseph Umarhadi.

Cinta Laura yang didapuk mewakili generasi muda akan memberikan speech tentang bagaimana menghayati dan menghidupi Pancasila sebagai generasi muda.

Yoseph Umarhadi (kiri) dan Plt. Deputi Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Konstitusi, Yana Indrawan MPR RI.

Yoseph Umarhadi menjelaskan, selain untuk memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2022, secara khusus sarasehan ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman tentang Pancasila yang selama ini lebih banyak bermuatan politis (sebagai Ideologi) menjadi pemahaman yang lebih filosofis. Sebab, kata Yoseph, sejatinya Pancasila adalah nilai-nilai dasar dan universal (filsafat) yang dihayati dan dihidupi selama ratusan tahun oleh Bangsa Indonesia.

“Para pendiri meletakkan bangunan negara ini di atas suatu dasar filsafat yang kokoh (philosophische grondslag),” ujar pria yang pernah menjadi anggota DPR/MPR RI sejak 1999 sampai 2019.

Yoseph menyebutkan, menurut penelitian, memasuki zaman reformasi pembicaraan tentang Pancasila semakin mengendor dan jauh dari kehidupan masyarakat. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia cenderung bersifat liberal dan prosedural.

Karena itu, setiap warga negara dan penyelenggara negara seyogianya memahami Pancasila dengan benar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari sehingga menjadi pandangan hidup, jiwa, dan filosofi dasar bagi Bangsa Indonesia.

Di sisi lain, Yoseph menyebutkan bahwa kesan pada umumnya menganggap Pancasila merupakan domain elit yang pembahasannya berada di istana pada Zaman Orde Baru kemudian beralih ke gedung DPR/MPR RI pada Zaman Reformasi. Karena itu, katanya, sarasehan ini berharap bisa memindahkan titik koordinat elitis (bumi yang datar) menuju ke publik atau semua warga/ rakyat (bumi yang buat) sebagai pemegang kedaulatan dan menjadi diskursus publik.

Rekomendasi untuk MPR RI

Diawali dengan pidato pembukaan oleh Ketua MPR RI H. Bambang Soesatyo, SE, MBA yang sekaligus menjadi keynote speaker, pembicara selanjutnya adalah Prof. Frans Magnis Suseno, seorang Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Romo Magnis akan bicara tentang Pancasila sebagai konsensus negara yang sifatnya mendasar. Selanjutnya Yoseph Umarhadi MSi, M.A.  Doktor Filsafat dan penulis buku Hakikat Manusia Pancasila hendak bicara tentang hakikat manusia Pancasila itu sendiri dan mantan Ketua BPIP Yudi Latief, Ph.D akan berbicara tentang Pancasila dalam kaitannya dengan ketatanegaraan.

“Kami berharap dari sarasehan ini akan ada keluaran atau output berupa rekomendasi yang tegas dan jelas serta refleksi tentang Pancasila yang menjadi dasar negara kita kepada MPR RI,” ujar Yoseph.

Selain itu, juga diharapkan terbukanya kembali kesadaran akan jati diri Pancasila sebagai filsafat negara yang seharusnya mendasari hidup bermasyarakat dan berbangsa.

Yoseph juga berharap ada buku tentang pemikiran maupun sharing pengalaman dari para pembicara maupun peserta yang disusun berdasar catatan moderator dari sarasehan ini. (tD)