Solo, pada Delapan Puluh Sembilan Tahun Silam dan Spirit Uskup Don Helder Camara

33

Oleh  Joanes Joko

Tatkala melihat upacara penyatuan tanah dan air di titik Nol Ibukota Negara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur beberapa hari lalu, cerita tentang satu tugu sederhana di Solo, tiba-tiba berkelebat kembali dari ingatan masa kanak-kanak saya.

Sebagian warga Kota Solo boleh jadi sudah mengenal baik keberadaan tugu ini. Saya pribadi merasa punya keakraban tersendiri dengan tugu ini: saat remaja hampir setiap hari berangkat sekolah melewatinya. Konon tugu tersebut dibangun dari dari tanah yang disatukan dari seluruh Indonesia.

Beberapa tahun kemudian, ketika membaca media lokal saya baru mendapat kebenaran cerita sejarah tentang bangunan berbentuk lilin ini. Sebagian orang menyebutnya Tugu Lilin atau Tugu Kebangkitan Nasional. Awalnya bernama Tugu Peringatan Pergerakan Kebangsaan. Letaknya di persilangan Jalan Kebangkitan Nasional dan Jalan Dr Wahidin, di pojok depan Sekolah Teknik Menengah (STM) Murni.

Sekolah ini milik Perkumpulan Perguruan Netral. Saat Indonesia dijajah Jepang, namanya berubah menjadi Perkumpulan Perguruan Murni. Perkumpulan ini berdiri pada 1914. Pendirinya adalah nama-nama kaliber dalam dunia pergerakan kebangsaan Indonesia: Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Rajiman Wedyodiningrat, Pangeran Wuryaningrat dan Pangeran Notodirejo.

Perkumpulan ini hadir tujuh tahun setelah berdirinya organisasi pemuda Budi Utomo. Hari kelahiran organisasi ini—28 Mei — di kemudian hari kita peringati selalu sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Tugu Pergerakan Kebangsaan

Pada 1931, sejumlah perwakilan pemuda dan aktifis pergerakan dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti Kongres Indonesia Raya di Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, ada keinginan para peserta untuk membangun tugu peringatan 25 tahun Kebangkitan Nasional di berbagai kota. Ide ini akhirnya hanya terealisasi di Solo, dieksekusi oleh Pangeran Wuryaningrat, anak mantu Paku Buwono X – raja Kasunanan Surakarta, Solo.

Sebelum tugu ini dibangun pada 1933, dimulailah upacara penyatuan gumpalan tanah dari berbagai penjuru Nusantara yang dibawa oleh para aktifis pergerakan kebangsaan ketika itu.

Peristiwa itu boleh jadi dianggap konyol dan ditertawakan oleh pihak2 yang menentang ide mewujudkan kebangsaan Indonesia. Namun meleburkan gumpalan tanah dari penjuru Nusantara di kala itu merupakan manifestasi simbolik dari keyakinan bahwa suatu saat gerakan yang mereka lakukan akan menyatukan sebuah cita-cita luhur; akan mewujudkan impian nan bercahaya tentang kelahiran bangsa merdeka bernama Indonesia

Waktu yang menjawab impian kaum pergerakan kebangsaan yang hadir di Solo. Bukan sebuah kebetulan belaka: sejarah tanah air kita mencatat, 12 tahun setelah gumpalan tanah dari penjuru nusantara dibaurkan untuk membangun Tugu Lilin Solo, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dan, sejarah seolah berulang. 89 tahun setelah Tugu Lilin dibangun dari leburan tanah Nusantara, Presiden Jokowi dan para perwakilan pimpinan 34 provinsi melakukan upacara simbolik penyatuan tanah dan air dari segala penjuru Indonesia di titik Nol Ibukota Nusantara.

Mewujudkan cita-cita kemajuan sebuah bangsa tentu bukan perkara mudah. Pasti ada pro dan kontra. Tapi bukankah para pendahulu bangsa juga tak habis-habisnya mendapat hambatan tatkala mereka merintis jalan menuju Indonesia merdeka? Termasuk tentangan hebat dari penjajah mau pun kaum sendiri yang telah terlena dalam zona nyaman menjadi agen penjajah kolonial.

***

Penyatuan tanah bukanlah sekadar seremoni penyatuan unsur-unsur fana. Melainkan manifestasi dari spiritualitas manusia. Membuat ide alam pikiran menjadi mewujud dalam tindakan. Menyatukan cita-cita, tekad, semangat dan harapan untuk meneguhkan tanah air yang satu dalam kekayaan diversitasnya. Menjadikan Indonesia negara besar yang merdeka, maju, makmur, sejahtera bagi rakyatnya.

Inilah titik awal mengobarkan semangat gotong-royong membawa Indonesia sebagai “mercusuar” peradaban dunia melalui Ibu Kota Nusantara.

Menyaksikan ritual penyatuan tanah dan air di Penajam Paser Utara –yang disiarkan sejumlah saluran televisi nasional –saya teringat kembali kutipan Dom Helder Camara. Uskup Agung Olinda dan Recife, Brazilia serta tokoh besar teologi pembebasan di Amerika Latin itu percaya bahwa suatu impian tak mustahil diwujudkan bila menjadi cita-cita bersama:

When we are dreaming alone it is only a dream. When we are dreaming with others, it is the beginning of reality.“Helder Camara