Pater Aleks Beding dan Kopo Lere

342

Oleh Pater Charles Beraf, SVD, Imam Katolik dan Sosiolog

TEMPUSDEI.ID-Pater Aleks Beding, SVD mengakhiri hidupnya pada usia yang terbilang panjang, ya 98 tahun, beberapa bulan setelah merayakan 70 tahun imamatnya di Biara Simeon, Ledalero. Karena usianya yang panjang, Pater Aleks cukup dikenal oleh beberapa generasi SVD sesudahnya.

Tapi tentu tidak hanya itu. Pater Aleks adalah ikon. Dia adalah imam pertama Tana Baja Lembata. Boleh dibilang, dialah yang membuka pintu masuk bagi banyak anak muda Lembata umumnya dan Lamalera khususnya, untuk turut memilih menjadi biarawan-misionaris.

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Pater Aleks amat rutin ke kampung Lamalera, menumpang KM, Arnoldus (entah sudah ke mana KM, Arnoldus itu), dan merayakan ekaristi di Gereja Paroki St, Petrus Paulus Lamalera. Kehadirannya menggugah dan kesahajaannya serupa guru yang mengajarkan kami bahwa untuk hidup sebagai seorang biarawan, kesahajaan hidup adalah tuntutan,  hal yang tentu makin sulit dijumpai saat ini di kalangan biarawan misionaris.

Kunang-kunang atau Kopo Lere. (ist)

Ketika merayakan misa perdana saya di Lamalera, Pater Aleks bersama Romo Yosef Gowing Bataona hadir mendampingi saya. Dalam sambutannya di Neme Levotuke, Pater Aleks menasehati saya tentang apa yang dia sendiri hidupi, ya kesahajaan. Menjadi imam, kata Pater Aleks, bukan untuk mengejar privilese religius, bukan juga untuk menaikkan status sosial di tengah masyarakat, melainkan untuk menjadi seperti Kopo Lere (Kunang-Kunang) yang terus merendah ketika terbang agar bisa menjangkau mereka yang paling bawah, yang lebih sering jauh dari perhatian dan tanggung jawab sosial.

Lalu bagaimana bisa terbang kian merendah? Pater Aleks telah membuktikan itu dalam hampir sebagian besar hidupnya dengan kerja, malah dengan kerja yang oleh banyak orang dipandang remeh temeh. Dia seorang kuli tinta yang amat setia merekam semua peristiwa dengan kronik hingga menulis buku dengan sentuhan historis yang amat luar biasa. Saya boleh bilang, di kalangan kami misionaris SVD, Pater Aleks adalah sedikit atau satu-satunya yang amat detil dalam menulis tentang masa lalu, yang menulis dengan data, yang merekam semua peristiwa dengan intuisi yang mumpuni.

Tapi tidak hanya tentang masa lalu. Pater Aleks adalah kuli tinta yang visioner. Di tangannya mingguan DIAN (yang sudah tamat riwayatnya) berkembang sebelum bertebaran surat kabar yang lain. Di tangannya, Biro Naskah Percetakan Arnoldus Janssen berbuah menjadi Penerbit Nusa Indah. Itu alasan pada tahun 2008, Presiden SBY, ketika HPN di Kupang, menganugerahkan cincin emas no.1 untuk Pater Aleks. Ketika itu, saya diminta Pater Aleks untuk menerima cincin itu mewakili dirinya –  hal, yang menurut saya tak layak pada saya untuk seorang Aleks yang terlalu amat besar di mata saya. Tetapi saya merefleksikan ini serupa kesaksiannya ketika saya masih kanak-kanak, serupa nasihatnya ketika saya merayakan misa perdana, agar saya juga belajar untuk terus terbang dengan komitmen untuk terus merendah terutama bagi mereka yang kecil dan minim perhatian.

Bahkan dari kamarnya di Biara Simeon, Ledalero, ketika tubuh kian uzur, Pater Aleks toh masih tetap terbang. Dia toh tetap membuktikan dirinya bahwa dia memang seorang kuli tinta. Masih saja membaca, pun masih saja menulis.

Seperti laut pantai selatan Lamalera yang tak kunjung berhenti berdebur, menulis, bagi Pater Aleks, adalah komitmen. Menulis bukan untuk cari nama. Menulis bukan untuk gagah-gagahan. Menulis adalah hidupnya. Aleks, seperti juga dua saudaranya Marsel Beding (wartawan KOMPAS) dan P. Bosco Beding, SVD (Badan Sensor Film), perkara menulis adalah perkara hidup itu sendiri.

Saya membayangkan bagaimana pusingnya HAKIM AGUNG membolak-balik begitu banyaknya berkas tulisan Pater Aleks  untuk kemudian menjatuhkan palu putusan padanya. Tapi saya yakin, oleh komitmen dan kesaksian hidupnya, Pater Aleks pasti mendapat lagi cincin emas no.1, yang tak lekang oleh waktu: Ya, cincin HIDUP ABADI.

Tuan Aleks, saya tak mengantarmu pergi hari ini, karena sakit semalaman. Tapi kenangan akan spirit dan kesaksian hidupmu, sepertinya membangunkan saya untuk selalu terbang  dan terus merendah seperti KOPO LERE. *