KRITIK

70

Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

TMPUSDEI.ID-Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika Serikat pernah berkata: “Hanya orang yang siap menolong yang berhak untuk mengeritik”.

Kalimat ini meringkas dengan sangat baik ucapan Yesus dalam Injil hari ini: “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:42).

Ucapan Yesus ini adalah kelanjutan dari pesan-pesan sebelumnya, yang termasuk dalam rangkaian Hukum Emas (Golden Rule). Intinya berbunyi: perbuatlah pada orang lain, apa yang engkau ingin orang perbuat kepadamu”.

Dengan kata lain, perlakukanlah orang lain dengan cara seperti engkau inginkan untuk dirimu sendiri.

Jelas ini tidak dimaksudkan agar orang diam saja terhadap kesalahan atau kejahatan. Juga bukan sebuah “relativisme moral”, di mana orang dibiarkan mempunyai standar moral sendiri. Misalnya dengan berkata; Kalau engkau anggap baik, ya sudah”. Tidak. Bukan ini maksudnya.

Tidak ada orang yang mengeritik atau menghakimi yang benar-benar fair, obyektif dan bebas kepentingan. Juga kita tidak selalu tahu motivasi, latar belakang atau apa yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu, termasuk hal yang salah.

Di sini yang mau diingatkan adalah bahwa cara kita mengkritisi atau terutama menghakimi, akan dipakai juga oleh Tuhan pada saat akhir nanti. Hanya Tuhan yang benar-benar fair dan obyektif.

Kata-kata atau ucapan adalah cara paling mudah dan paling sering bersinggungan dengan orang lain. Setiap kali berbicara, kata yang keluar pasti ditujukan kepada orang tertentu. Tidak mungkin kata-kata keluar dengan sendirinya tanpa tujuan.

Melalui kata-kata kita dapat melihat seperti apa pribadi seseorang; seperti dikatakan dalam Kitab Sirakh: “Jangan memuji seseorang sebelum ia berbicara, sebab justru itulah batu ujian manusia” (Sir 27:7).

Yesus menggunakan kata-kata-Nya untuk berktotbah, menyembuhkan, memperbaiki dan mengembalikan kehidupan, kegembiraan dan sukacita. Kata-kata-Nya tidak pernah digunakan untuk menghancurkan atau membunuh.

Dengan cara ini Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya berbicara dan bersikap.