ZAMAN EMAS SASTRA LOKAL

182
Eka Budianta, Sastrawan dan kolumnis

Oleh Eka Budianta, Sastrawan dan kolumnis

TEMPISDEI-ID (26/1/22)-Memasuki tahun 2022, pelestarian bahasa dan sastra daerah makin semarak.  Setiap hari rata-rata 7 sampai 10 postingan lagu dan puisi daerah masuk ke media sosial saya. Separuh di antaranya berupa renungan spiritual dalam bahasa Jawa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Lainnya: dalam bahasa Sunda, dari Grup WA (WhatsApp) Ngamumule yang diikuti oleh 178 peserta di Jawa Barat, dan dari pencinta Tamil Indonesia berbasis di Medan, Sumatera Utara.

Yang lebih menarik adalah buku-buku berbagai topik dan bahasa. Sebagai hadiah tahun baru, saya mendapat kiriman buku Bahasa Muhan, yang berjudul Walde Nenang Uran Wair.  Menurut penulisnya,  Agnes Bemoe, bahasa itu digunakan oleh Masyarakat Tana Ai di Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Beruntung ada terjemahan bahasa Indonesia di setiap halaman buku itu, dan lukisan ilustrasinya sangat bagus untuk dinikmati.

Penerbitan buku  memang ikut terpacu oleh wabah virus Korona  yang belum selesai. Paling sedikit, saya terlibat dalam 60 hingga 70 penerbitan swadaya selama dua tahun terkurung pandemi. Maklum, kegiatan luring (bertemu fisik) masih tertahan.  Jadinya, kegiatan sastra  dilaksanakan secara daring.  Kelompok diskusi , zoominar, webinar semakin marak.  Dalam koridor inilah tembang-tembang macapat dan geguritan dalam bahasa Jawa ikut berkembang.

Salah satu pakaian tradisional yang masih dipertahankan di Sumba, NTT. Dikenakan pada ritual tertentu. (Leo)

Tentu, ada juga buku-buku yang muncul secara tercetak.  Dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro muncul Antologi geguritan lan crita cekak Rajapati, yang mendalami Pageblug Covid-19.  Bunga Rampai (Kembang Setaman) ini tebalnya hampir 200 halaman, berisi tulisan 35 pengarang.  Penerbitan lainnya adalah Demak Bintoro yang mengambil inspirasi sejarah kerajaan Islam, dan antologi Kembang Glepang, dipicu oleh seni rakyat Banyumas.

Sebanyak-banyaknya bentuk tercetak, tentu masih banyak kegiatan lisan.  Di antara yang paling saya sukai adalah pembacaan puisi, acara tembang macapat dan diskusi kebudayaan.  Grup WA Memetri misalnya, sambung menyambung menyanyikan tembang-tembang Pangkur, Asmaradhana, Gambuh dan banyak lagi. Pendiri grup ini bernama Didik Eros Sudarjono dari Kabuh, Jombang, Jawa Timur.  Dia juga menerbitkan antologi dan membuatkan kaus seragam untuk sekitar 50 orang anggotanya.    Judulnya Mak Bedunduk – kisah Bagong yang terjerumus dalam mimpi.

Diskusi paling hangat yang pernah saya ikuti menyangkut pelestarian bahasa-bahasa daerah di tempat terpencil.  Balai Bahasa Nusa Tenggara Timur yang berpusat di Kupang, Timor; termasuk paling sukses.  Ratusan peminat dari dalam dan luar-negeri ikut memikirkan bagaimana penyelamatan bahasa dan sastra lokal yang nyaris punah.

Yang membesarkan hati dan cukup mengagetkan adalah munculnya kreativitas untuk menerjemahkan karya sastra nasional ke dalam bahasa ibu di tempat-tempat terpencil.  Demikian pula sebaliknya, menggunakan metrum (formula) sastra lokal untuk bahasa nasional.  Grup WA Mijil yang berbasis di Yogyakarta bahkan mempromosikan macapat dalam bahasa Indonesia.

Jangan kaget kalau suatu saat mendengar tembang Dandanggula, Sinom, Pocung dan lain-lain di dalam bahasa Indonesia.  Festival besarnya akan digelar setelah Maret 2022.  Sekarang sedang dipersiapkan berbagai latihan dan rekaman di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta.  Semoga jelas bahwa pelestarian bahasa dan sastra daerah sedang memasuki zaman keemasan.

Oh ya, Grup WA terindah yang saya ikuti bernama Sangsam Angupados Toya artinya “Rusa Merindukan Air”.  Dari grup ini kita mendapat akses untuk menyimak renungan rutin  dalam bahasa yang bagus dan bermacam tembang. Adminnya adalah Bruder O.C. Mungsi dari biara Karmel di Malang, Jawa Timur. ***