Tangan dan Pikiran Yusuf Sujoko Seperti “Dibimbing” Bunda Maria Saat Memahat

1804
Pematung Yusuf Sujoko sedang mengerjakan sebuah patung Bunda Maria setinggi 200 cm, pesanan dari Kediri. (Ist)
Yusuf Sujoko merasa terberkati mengerjakan benda-benda devosional yang membantu umat membangun relasi dengan Tuhan. (Foto: ist)

TEMPUSDEI.ID (30/10/21)-Yusuf Sujoko tidak ingat lagi jumlah patung yang telah ia hasilkan. “Sudah banyak sekali,” katanya singkat. Ketika tulisan ini digarap, dia tengah menyelesaikan sebuah patung Bunda Maria dari kayu jati keras, pesanan dari Kediri. Tinggi patung 200 cm, akan memakan waktu dua sampai tiga bulan pengerjaannya. Terbilang tidak mahal, sekitar 25 juta rupiah.

Hasil karyanya tergolong unik karena ia hasilkan berdasarkan “tuntunan” Bunda Baria atau Roh Kudus. “Terasa ada tekanan inspirasi yang kuat dari dalam hati dan keluar dengan sendirinya,” aku ayah dari Aprillya Ratih Kumala Sari ini.

Ada saat-saat tertentu, jika sudah dapat mood dan inspirasi, dia seakan tidak bisa berhenti memahat. Tangan dan pikirannya seperti mendapat tuntunan, bergerak sendiri sampai akhirnya menghasilkan bagian tertentu dari karyanya. Misalnya ketika sedang memahat bagian muka, berdasarkan tuntunan itu, ia hasilkan bentuk tertentu.

Aku Yusuf, tangannya kadang sampai lemas dan harus dia pijat-pijat sendiri. “Orang percaya atau tidak, inilah yang saya alami,” ujarnya kepada tempusdei.id, juga kepada Josef Jatareda, seorang peziarah yang mampir ke galerinya.

Ketika sudah dapat mood dan inspirasi, dia bisa bekerja dari pukul 7 pagi sampai malam. “Itu dia, tangan sampai lemas,” katanya.

Salib ini, salah satu karya Yusuf. (ist)

Kuli Bangunan Serabutan

Sejatinya, Yusuf adalah kuli bangunan. Dengan tenaga dan sedikit keterampilan, dia sudah berusaha melakukan hal-hal yang bisa ia lakukan. Namun, penghasilannya tidak menentu, bahkan terbilang kurang. Ayah satu ini lalu putar otak. Dia belajar memahat dari tahun 2003-2006. Dia belajar belajar sendiri di rumah  dan tanpa guru pembimbing. Sebelum itu, dia melukis krai yang terbuat dari bambu. Ini juga ia belajar sendiri mengikuti feeling dan inspirasi yang muncul.

Setelah itu, dia merasakan adanya dorongan yang cukup kuat untuk mengerjakan benda-benda rohani. “Saya merasa terpanggil, dan seperti ditunjuk untuk melayani dalam pembuatan patung rohani,” akunya.

Setelah cukup yakin dengan keterampilannya—meski tetap harus belajar terus—pada tahun 2006, dia mulai menekuni pekerjaan memahat benda-benda rohani.

Dan ketika dia sudah lebih yakin dengan keterampilannya, dia mulai mengerjakan sebuah patung salib. Patung tersebut ia selesaikan dalam waktu 3 minggu. Setelah itu, dia terus berkreasi, dan ternyata karya-karyanya disukai banyak orang.

Patung termahal yang dia telah hasilkan adalah corpus Kristus setinggi 175 cm dan salib setinggi 315 cm senilai 25 juta rupiah. Bahannya dari kayu jati. Dia kerjakan selama dua bulan.

Dalam mengerjakan benda-benda rohani, Yusuf tidak asal mengerjakan. Setiap kali akan bekerja, sedang bekerja atau setelah mengakhir pekerjaannya dia selalu berdoa. Dia sadar betul bahwa yang dia kerjakan bukanlah barang-barang biasa, tapi barang-barang devosional yang mengantar atau membawa orang semakin dekat dengan Tuhan.

Salib karya Yusuf. (Foto: Joseph Jatareda)

Dia bahkan merasa terberkati, bahwa dengan hasil tangan dan inspirasi dari Tuhan dan Bunda Maria, orang semakin bisa menghayati imannya. “Maka saya tidak mau asal-alasan atau malah main-main,” katanya kepada Josef Jatareda lagi.

Dalam upaya atau semangat “bekerjasama dengan Tuhan” dalam bekerja, setiap malam, tepat pada pukul 24.00 WIB Yusuf berdoa. Berdoa sampai jam berapa? Tentu tidak sebentar. “Sampai selesai,” kata suami dari Sumiati ini.

Lantas, apa bentuk rasa syukur Yusuf dengan keterampilan dan talenta serta aneka inspirasi yang dia miliki dan dapatkan? “Saya akan selalu sepenuh hati dalam melayani pembuatan patung-patung rohani ini. Terjadilah padaku menurut kehedak-Nya,” jelas warga Paroki Santo Vincentius, Surabaya ini. (tD/EDL)