I KNOW WHERE MY HEART IS

417
Frater Richie Fernando, SJ (foto: ist)

Dr. Yoseph Yapi Taum, Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

TEMPUSDEI.ID (7 OKTOBER 2021) – Richard Fernando, SJ (1970 – 1996) adalah seorang Jesuit muda kelahiran Filipina yang tewas dalam usia 26 tahun dalam sebuah insiden heroik di bumi bergolak Kamboja. Sebagai seorang martir,  dia memiliki banyak keutamaan.

Bulan Mei 1995, Richie –panggilan akrabnya—datang ke Kamboja untuk menjalankan Tahun Orientasi Pastoral sebelum melanjutkan studinya ke teologi dan ditahbiskan. Dia dikirim ke Banteay Prieb dekat kota Phnom Penh, ke sebuah sekolah teknik khusus para penyandang cacat. Richie dengan cepat diterima orang Kamboja. Ritchie bahkan menjadi tempat mereka berbagi beban kehidupan, kisah-kisah menyedihkan melewati regim Khmer Merah yang menyebabkan penderitaan maha dahsyat jiwa-jiwa bangsa Khmer.

Salah satu survivor bernama Sarom. Dia yatim piatu. Sejak berusia 16 tahun, dia menjadi tentara dan 2 tahun kemudian kakinya terputus karena ranjau darat. Sarom telah menyelesaikan pendidikannya di Banteay Prieb tetapi ingin tetap tinggal di sana. Karena dinilai sebagai pembuat onar, pengurus sekolah memintanya pergi. Malapetaka pun tiba. Hari itu tanggal 17 Oktober 1996, Sarom datang ke sekolah menghadiri sebuah pertemuan. Marah diminta keluar, dia mengambil sebuah granat dan bergegas menuju sebuah kelas yang dipenuhi siswa. Melihat gelagat yang tidak baik, Frater Richie menghampiri dan memeluknya. Sudah terlambat. Granat sudah diayunkan sehingga terjatuh di antara dirinya dan Richie. Dalam sekejab tubuh Frater ini terburai. Semua siswa di kelas itu selamat. Sarom sendiri juga selamat karena tubuhnya dilindungi Richie.

Aku Tahu Di Mana Hatiku Berada

Hanya 4 hari sebelum meninggal, Richie menulis sebuah surat panjang untuk rekan Jesuitnya di Filipina. “I know where my heart is,” tulisnya; “It is with Jesus Christ, who gave His all for the poor, the sick, the orphan …I am confident that God never forgets his people: our disabled brothers and sisters. And I am glad that God has been using me to make sure that our brothers and sisters know this fact. I am convinced that this is my vocation.” (“Saya tahu di mana hatiku berada. Dia bersama Yesus Kristus, yang memberikan seluruh dirinya bagi kaum miskin, orang sakit, anak yatim piatu… Saya percaya Tuhan tidak pernah melupakan mereka: saudara-saudari kita yang cacat. Saya bangga Tuhan menggunakan saya untuk meyakinkan mereka tentang hal ini. Saya yakin inilah perutusanku.”)

Tiga hari setelah kematiannya, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang merasa terpukul menguburkan mayat Richie di Filipina. Pada saat yang sama, sahabat-sahabat Khmernya juga membawa pakaian berlumuran darah itu untuk dikuburkan dengan ritual Budha. Mereka semua berkabung dan mendoakan arwah Richie yang mereka kasihi.

Richie adalah rajawali berlumuran darah yang memberi inspirasi perutusan di tengah kesibukan manusia. Di tengah gegap gempita roda kehidupan manusia, apalagi di Bulan Rosario ini, kita patut bertanya diri dalam diam, “I know where my heart is. It is with ….”