Mencerna Permohonan Maaf Yahya Waloni

1917
Yahya Waloni, tersangka kasus penistaan agama.

Simply da Flores, Direktur YA-HARMONI, Alumnus STF Driyarkara Jakarta

TEMPUSDEI.ID (29 SEPTEMBER 2021)

“Mengagumkan” ketika membaca berita-berita di media tentang “pernyataan maaf” dari Yahya Waloni, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, setelah pencabutan laporan praperadilan. Pernyataan maaf yang ditujukan kepada semua orang dan khusus untuk kaum Nasrani mengatakan bahwa dakwahnya sebagaimana yang viral di Medsos melampaui batas etika. Waloni beralasan bahwa dirinya dididik dalam lingkungan yang beretika dan bermoral, maka dia menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Ustad Waloni juga menegaskan bahwa kasusnya adalah “masalah kecil, hanya soal etika dan moral”. Sebagai warga negara, dia akan mengikuti proses hukum dengan sabar dan memohon rahmat hidayah Allah agar tabah menjalani semua akibat perbuatannya. Mengagumkan.

Karena kagum tersebut, ada sejumlah tanya yang mengusik. Mengapa Ustad yang sangat lantang berdakwah dengan segala argumentasinya, bahkan sering menantang untuk dibantah kebenaran syiarnya, mau minta maaf? Apakah etika dan moral sudah ada tempat dalam pikirannya? Bukankah  atas nama Allah dan kebenaran keyakinannya, Waloni lantang mengkafirkan penganut agama lain? Apakah kebenaran iman dalam dakwahnya melanggar etika dan moral? Masih banyak deretan tanya karena alasan “kagum” atas  pernyataan maaf Waloni. Ada fakta paradoks yang diperankan dirinya; deretan ucapan lantang syiar imannya dan sekarang pernyataan maaf atas syiar imannya juga karena melampaui etika dan moral.

Soal Konteks?

Pada saat berperan sebagai ustad, Waloni menyampaikan syiar imannya dengan lantang kepada umat kaum setia pengikutnya. Semua dilakukan sebagai seorang tokoh agama. Maka argumentasi, contoh dan pesan yang dikatakan, adalah demi mewartakan kebenaran iman yang diyakini, dan dengan nama Allah.

Ketika sebagai warga negara, ada penegakan hukum, dan Waloni menjadi tersangkanya, maka berbeda tempat dan konteks. Rupanya perbedaan tempat dan konteks ini memberi kesadaran bagi Waloni bahwa ada etika dan moral.

Lalu, terjadilah tindakan yang mengagumkan itu, yakni pernyataan minta maaf atas syiarnya yang sudah viral. Kembali pertanyaan muncul, apakah saat berdakwah, Waloni tidak tahu bahwa dirinya juga warga negara, hadir nyata di tanah air ini dengan warga lain uang berbeda imannya? Apakah publikasi media, yang sekarang jadi sangkaan baginya secara hukum, tidak diketahui Waloni?

Pertanyaan lain: Apakah syiarnya bohong? Apakah kesaksiannya palsu? Apakah dakwahnya sesat? Hanya Waloni, dan tim medianya yang tahu jawabannya.

Mendengar ucapan maaf dari seorang ustad, yang dengan yakin suara lantang saat lakukan syiar keimanannya, dengan nama Allah, maka menjadi aneh bin ajaib, karena terjadi kontradiksi. Pernyataan maaf itu, ironis dan artinya seperti dia lumuri mukanya dengan kotorannya sendiri. Waloni seperti menjilat ludahnya dari tanah dan melawan dakwahnya sendiri, kebenaran imannya sendiri.

Karena perbedaan konteks tempat dan kepentingan, maka hal ini wajar terjadi. Inilah warna-warni dinamika kehidupan. Atau seperti lirik lagu, “dunia ini panggung sandiwara…”. Mungkin ini juga yang biasa disebut “lidah tak bertulang”.

 Janji Sang Nabi Agung

Mengikuti berita maaf Waloni, saya teringat syiar seorang sepuh bijak pandai di televisi, Prof. Dr. Quraish Shihab. Beliau membahas tentang janji Sang Nabi Agung Sayidinnah Mohammad SAW, untuk kaum Nasrani. Acara dipandu oleh anaknya, Najwa Shihab. Yang saya ingat, isi penjelasan tentang janji Sang Nabi Agung, antara lain adalah “agar umat Islam selalu menghormati dan membantu kedamaian  kaum Nasrani, serta menjamin keamanan hak milik kaum Nasrani, sebagai sesama saudara insani,  sama- sama adalah makhluk ciptaan Allah.

Maka kembali muncul pertanyaan, apa agama Waloni  dan siapa Nabi junjungan imannya? Benarkah Waloni seorang penganut agama Islam?

Selain Kitab Suci Alquran, teladan hidup dan ajaran Nabi Agung Sayidina Muhamad SAW adalah sumber sakral kebenaran iman dalam Islam bagi segenap umat Islam. Maka, melawan janji Nabi Agung, adalah hal yang tidak sepatutnya bagi seorang umat dan lebih khusus ustadnya.

Mendoakan Saudara Ustad Waloni

Sebagai manusia, semua orang punya keterbatasan, bisa salah, khilaf dan berdosa. Maka kuberpikir itu lumrah manusiawi, terjadi juga pada saudaraku Waloni. Lalu, dia menyadari memiliki khilaf dan salah, maka sekarang menyatakan “Minta Maaf” kepada semua pihak, khusus kaum Nasrani, atas syiarnya yang melampaui etika dan moral. Minta maaf itu perbuatan terpuji, jika maaf itu murni dari nurani sejati jiwa insani Waloni, dari kesadaran diri pribadinya.

Harapan saya bahwa minta maaf itu bukan hanya demi sensasi atau untuk lancarnya proses hukum negara yang dijalaninya. Juga bukan sebuah skenario dan perintah sutradaranya, dan harus dilakukan Waloni sebagai aktor?

Terlintas pikiran, jangan-jangan ini hoaks, tapi seksi untuk diberitakan media sosial. Alasan kecurigaan ini, karena pernah viral berita kematian Waloni, saat dia sedang di rumah sakit beberapa waktu lalu, yang ditenggarai terpapar covid19.

Hanya pribadi Waloni yang paling tahu fakta dan kebenaran publikasi kematian itu.

Ketika berita maaf Waloni tersebar, kuingat peristiwa Yesus Golgota. Doa Yesus yang tersalib “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan kepadaKu”.

Maka sebagai sesama insan ciptaan Allah, juga secara pribadi sebagai pengikut Yesus, saya harus berdoa untuk saudaraku Waloni.

Menurut yang saya yakini, sebanyak apa pun hinaan dan hujatan kepada Yesus dan kaum Nasrani pengikut-Nya sampai sekarang di negeri ini, harus disikapi terutama dengan doa.

Termasuk, jika benar saudaraku Yahya Waloni juga melakukan penghinaan selama ini. Kalau Yesus, Tuhan dan Juru Selamatku mengajarkan dan memberi teladan untuk mengampuni musuh dan berdoa bagi yang menghina dan menganiaya kita, apakah saya pengikutNya harus berbuat lain?

Menurut saya, para penghina Tuhan Yesus dan kaum Nasrani di negeri ini – seluruh dunia, pastilah diampuni Yesus Kristus. Secara logis, jika dibandingkan dengan segala siksa dan penyaliban Yesus dahulu di Yerusalem sampai Golgota; juga diampuni dan didoakan Tuhan Yesus dari atas salib sebelum wafatNya.

Untuk saudaraku Waloni dan semua kita manusia, sebuah doa kecil kudaraskan.

“Ya Yesus Kristus,
Tuhan dan Juru Selamatku,
ampunilah salah dosaku dan dosa semua umat manusia
Berkatilah siapa pun penghina dan yang memusuhi Engkau serta kami pengikut-Mu

Ya, Tuhan Yesus
Engkau Maha Melihat
Cinta-Mu Maha Rahim
Engkau sangat tahu
apa dan siapa saudaraku Yahya Waloni, juga para sahabat dan kroni-kroninya. Saya tidak punya hak dan tidak pantas mengadili perbuatannya, sebagai sesama saudara ciptaan Allah

Ya, Yesus Kristus
Siapa pun penghina sesama
dan agama lainnya
mereka itu sesama saudaraku
bisa salah dan keliru
Sadarkanlah pikiran mereka
ampunilah dan berkatilah semua mereka itu
Berilah kami damai-Mu, dan jadikanlah kami sebagai sesama saudara di dunia ini, dengan kesadaran saling menghormati dan menyayangi, seperti Engkau Maha Cinta, Maha Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang untuk kami semua manusia. Amin”

Semoga pengalaman saudara Waloni, memberi hikmah bagi kita semua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama sebagai umat beriman, sesama saudara ciptaan Allah Sang Maha Cinta.*