Sr. Bene Xavier: Jangan Ragu dengan Kekuatan Mimpi, Rahmat Tuhan, dan Restu Semesta

557
Sr. Bene Xavier dengan lilin ukirannya.

TEMPUSDEI.ID (28 JULI 2021)

Mencermati peristiwa-peristwa yang menyertai perjalanan hidupnya, Sr. Bene Xavier selalu tergerak untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Betapa tidak? Dia merasakan Tuhan itu konkret, hadir dan setia dalam perjalanan hidup biarawati dari kongregasi MSsR (Missionsschwestern vom Heiligsten Erlöser atau Suster-suster Misi Sang Penebus Mahakudus). Saat ini dia tinggal dan melayani di Vienna, Austria. Sebelumnya dia tinggal di Jepang.

Kariernya sebelum mengambil keputusan untuk menjadi seorang biarawati terbilang cukup cemerlang. Di Jakarta selama 15 tahun dia pernah menjadi aktris teater, jurnalis, grafik desainer. Dia juga sempat menjabat sebagai Artistic Coordinator, Training Manager dan Creative Manager di KidZania Jakarta.

Dia menyebut yang dia alami saat ini merupakan perwujudan dari impian-impian lamanya. “Saya pernah berdoa pada Tuhan memohon agar Tuhan membawa saya pergi jauh dari tanah kelahiran saya. Saya ingin tinggal di tempat yang tidak pernah saya kenal. Impian itu membutuhkan waktu panjang dan jalan yang tidak mudah untuk akhirnya sekarang terwujud,” ujar alumna STF Driyarkara Jakarta ini.

Bukan hanya itu, sejak remaja dia memiliki banyak impian yang kemudian terwujud setelah beberapa tahun. Misalnya ketika remaja, dia ingin sekali bisa berbahasa asing. Dia selalu minder karena jangankan bahasa asing lainnya, Bahasa Inggris saja dia sangat terbata-bata. Bekerja di perusahaan internasional, dengan kemampuan Bahasa Inggris terbatas, membuat dia tidak percaya diri. Di lingkungan keluarga pun seringkali dia minder karena kakak-kakaknya cukup pandai berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, seperti Bahasa Perancis atau Bahasa Jepang. “Bermodal” rasa tidak percaya diri itu, dia berupaya keras kursus Bahasa Spanyol. Untuk Bahasa Inggris dan Bahasa Italia saya belajar secara otodidak. Kini dia lancar berbahasa Jerman atau Jepang. Kedua bahasa yang terakhir ini ia pelajari sebagai salah satu tuntutan dasar bergabung dengan kongregasi MSsR.

BACA JUGA:  “Otak-otak Jumbo”, Blessing In Disguise di Balik Pandemi Korona
Sr. Bene Xavier dengan lukisannya di gerbang salah satu gereja di Austria.

Kekuatan Mimpi

Suster Bene percaya kekuatan sebuah mimpi, namun tidak berhenti di situ. Sebuah mimpi jelasnya harus disertai upaya dan doa. Jika demikian, yakinnya, Tuhan dan semesta akan ikut serta dalam mewujudkan mimpi itu. Sebagai contoh, sebelum bekerja di KidZania Jakarta, seorang kakaknya menyarankan untuk membeli sebuah tas dan sebuah pakaian kerja. Awalnya dia menolak, tapi kakaknya sedikit memaksa. Kata sang kakak, “Tidak apa beli dulu, sugesti ke diri sendiri akan segera mendapat pekerjaan baru. Dan benar saja, tidak lama setelah itu saya bekerja di KidZania Jakarta,” kata Bene mengulangi kata-kata kakaknya.

Pengalaman lainnya ketika nekad membuat passport, padahal saat itu dia tidak memiliki rencana ke luar negeri, kondisi keuangan pun sangat tidak memungkinkan. Ketika ditanya oleh petugas imigrasi alasan membuat passport, dia memberi “alasan palsu”: ingin ke Italia.

Apa yang terjadi? Ternyata setelah mempunyai passport, dia mendapat kejutan. Pemilik KidZania Jakarta mengirimnya ke Mexico untuk mengikuti pelatihan tentang company management. Sebelum ke Mexico dia juga menerima hadiah liburan ke London. “Sungguh sebuah kejutan luar biasa dalam hidup yang saya alami,” ungkapnya jakjub.

Kisah lain lagi. Suatu ketika dia perlu ke Spanyol. Di saat itu ada persyaratan harus menyediakan uang €2000 untuk bisa mendapatkan visa. Dia tidak memiliki uang sebanyak itu. Lalu dia mengambil selembar uang Rp 2000 dan menulis “euro” di belakang angka 2000. Uang itu dia pajang di dinding. Setiap hari dia berdoa “Tuhan, saya tidak tahu bagaimana saya bisa punya uang €2000, tapi izinkanlah saya ke Spanyol.” Sungguh mengejutkan! Dia menerima e-mail dari seseorang di Spanyol yang mengatakan, “Berangkatlah ke sini, semua kebutuhanmu kami penuhi. Jadilah saya ke Spanyol, dengan kebutuhan €2000 itu dibiayai seseorang di Spanyol,” ungkapnya gembira.

BACA JUGA:  Akhirnya Kerinduan Ibu Lusia Laun Dibaptis jadi Katolik Terwujud pada Usia 71 Tahun

Kisah-kisah tersebut aku Bene, hanya sebagian dari banyak “keajaiban” yang terjadi dalam kehidupannya. Sepintas tampaknya semua itu suatu keberuntungan. “Tapi tidak, saya mengimani semua itu sebagai kebaikan Tuhan. Semua sudah Tuhan rencanakan dalam hidup saya. Bukan suatu kebetulan atau sekadar keberuntungan. Saya mengimani seperti tertulis dalam Yohanes 3:27 Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga,” ungka lulusan SMA Gonzaga Jakarta ini.

Bagaimana Suster Bene meletakkan impian, hidup dan pelayanannya? Dia memiliki kiat tersendiri.

Mengutamakan Tuhan

Jelasnya, sebelum mengambil keputusan, dia selalu berdoa memohon penyertaan Tuhan agar tidak salah mengambil keputusan. Selain itu dia akan selalu menyediakan hari Minggu sebagai hari khusus untuk beribadah dan pelayanan di gereja atau kepada sesama dimana pun. Seandainya terpaksa harus ada yang dikerjakan di Hari Minggu, dia akan tetap memastikan untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.  Dia mengimani yang tertulis dalam Matius 6 : 33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Berdoa dan Berbuat Baik

Menurutnya, berdoa bukan untuk memohon saja, melainkan juga untuk memohon ampun dan bersyukur atas karunia kehidupan. Dia juga berusaha untuk  tidak menyesali peristiwa gembira, sedih, kecewa, marah yang alami dengan keyakinan, semua peristiwa baik untuk dijadikan pelajaran hidup. Dia memahami, perbuatan baik terhadap sesama sebagai ungkapan syukur atas karunia kehidupan. “Saya selalu mengupayakan kerja sebaik-baiknya, semaksimal yang saya bisa. Bukan untuk dinilai baik oleh atasan atau untuk mendapat gaji besar, melainkan itulah tanggung jawab dan kewajiban saya untuk bersyukur pada Tuhan. Sebab saya yakin sesungguhnya setiap manusia berkewajiban berbuat baik, seperti apa yang tertulis dalam Lukas 17 : 10 “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

BACA JUGA:  Siapa Sosok “Mother Mary” dalam Lagu “Let It Be” Paul McCartney "The Beatles"?

Manajemen Impian

Hal lain yang Suster Bene lakukan adalah visualisasi atas impian atau mimpinya. Biasanya dia membuat gambar dari impiannya dan menempelnya di dinding yang sering terlihatnya. Kemudian dia memandangi gambar tersebut sambil berdoa semoga Tuhan dan alam semesta merestuinya. Atau cara lain, menyiapkan benda-benda yang dirasa akan dibutuhkan saat nanti impiannya tercapai. Selanjutnya berdoa dan berusaha.

“Jadi, jangan pernah ragu bermimpi dan jangan pernah merasa tidak bisa untuk mewujudkannya. Selama kita mempersembahkan niat baik pada Tuhan, percayalah bahwa Tuhan akan mengabulkan segala niat baik kita demi kebaikan umat manusia. Sebab Dia adalah sumber segala kebaikan. Jangan ragu dengan kebaikan Tuhan, kekuatan mimpi dan restu semesta,” pungkas satu-satunya anggota MSsR dari Indonesia ini. (tD/EDL)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here