Tuhan Pemberi dan Sumber Kehidupan

129
Pater Remmy Sila, CSsR

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Redemptoris di Samoa, Provinsi Oceania

TEMPUSDEI.ID (27 JUNI 2021)

Hari Minggu ini kita diajak untuk kembali merenungkan Tuhan sebagai pencipta dan pemberi hidup di tengah bahaya kematian akibat Covid-19, bencana alam, para teroris, dan berbagai faktor penyebab lainnya.

Sebagai Sang Pencipta dan Pemberi hidup, Tuhan menghendaki kita hidup, sehat dan sejahtera baik secara jasmani maupun secara rohani. Oleh karena itu, “budaya kematian” yang dibanggakan dan dipromosikan baik secara perorangan maupun secara berkelompok oleh orang atau organisasi tertentu, sangatlah bertentangan dengan kehendak Tuhan Sang Pencipta dan pemberi kehidupan.

Bacaan pertama dari Kebijaksanaan 1:13-15. 2:23-25, mengingatkan kita bahwa Allah tidak menciptakan kematian dan Ia pun tidak bergembira atas kematian makhluk ciptaan-Nya. Hanya karena iri hati dan dengki dari setan, maka maut masuk ke dalam dunia. Dan hanya mereka yang dikuasai oleh setanlah yang suka mencari kematian atau maut. Kehendak Tuhan yang sama diwartakan juga oleh nabi Yeremia demikian: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29: 11).

Dan sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, rencana dan kehendak Allah bagi kita tidak pernah lekang dan memudar oleh waktu dan juga oleh kelemahan kita.

Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengubah rencana dan kehendak Tuhan bagi kita. Bahkan di saat-saat kita melupakan atau menjauhkan diri dari-Nya,Tuhan tetap mencintai kita dan tetap menghendaki agar kita tidak binasa dibawa kuasa setan. Maka Ia selalu mengundang kita untuk kembali kepada-Nya dan menikmati kehidupan bersama-Nya.

Hal ini dilandasi oleh kenyataan perjanjian dan kehendak Tritunggal Mahakudus untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa mereka sendiri. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…..” (Kej 1:26).

Oleh karena itu, sekali lagi, rencana dan kehendak Tuhan bagi kita tidak pernah berubah. Ia menghendaki kehidupan bukan kematian, kesehatan yang baik bukan penyakit, perdamaian bukan perang, persatuan bukan perpecahan, cinta bukan kebencian. Semua hal yang bertentangan dengan kehendak Allah tersebut itu disebabkan oleh manusia sendiri. Maka sebagai orang beriman kita hendaknya terus berjuang dan berusaha untuk menyelaraskan rencana dan kehendak kita dengan rencana dan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu pula, Santo Santo Paulus dalam 2 Korintus 8: 7. 9: 13 – 15, mengingatkan kita bahwa: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8 : 9). Tuhan bersedia melakukan apa pun termasuk merelakan Putera-Nya yang tunggal menjadi miskin dan mati di kayu salib demi menpertahankan dan menyelamatkan hidup kita.

Sementara Injil hari ini Markus 5: 21 – 24. 35 – 43, mewartakan kepada dua buah mukjizat dilakukan oleh Yesus. Mukjizat-mukjizat ini merupakan bukti nyata dari rencana dan kehendak Tuhan bagi kita.

Mukjizat-mukjizat juga mau menunjukkan kepada kita bahwa Yesus menghendaki agar kita dibebaskan dari segala bentuk belenggu. Ia juga menghendaki kita memiliki iman yang kuat sebagaimana dicontohkan oleh kedua orang dalam dua mukjizat hari ini.

Dalam kedua mukjizat ini, kita menyaksikan iman dalam tindakan. Wanita dalam Injil hari ini menunjukkan imannya yang hidup dalam usaha dan tindakan yang aktif. Dia telah berjuang dan tetap berharap selama 12 tahun menanggung penyakitnya. Ketika kesempatan itu datang, ia menerimanya dengan iman. Dia tidak takut atau malu dengan orang banyak. Reaksi dan tindakan balas dari Yesus, mengajarkan kepada kita untuk datang kepada Yesus dan memintatolong kepada-Nya, apa pun caranya, hendaknya dilandasi oleh iman yang hidup.

Demikian juga dengan Yairus, seorang kepala rumah ibadat, menunjukkan iman yang hidup, atas nama puterinya yang sakit keras dan hampir mati. Ia memohon kepada Yesus untuk menyelamatkan hidup puterinya. Baik si perenpuan maupun Yairus sungguh beriman bukan hanya dalam kata-kata, tetapi disertai dengan usaha dan tindakan yang nyata.

Pesan penting dari ketiga bacaan Sabda Tuhan pada hari ini adalah, pertama, Tuhan menghendaki agar kita hidup sejahtera baik secara jasmani maupun rohani tetapi kita juga berjuang dan berusaha dengan keyakinan iman yang hidup dan kuat. Kedua, kita juga diberi peran yang harus dijalankan berkaitan dengan rencana dan kehendak Allah bagi orang lain.

Itulah sebabnya Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus mengingatkan kita: “Jadi, jika kami telah menaburkan bench rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu?” (1 Kor 9: 11). Dengan kata lain, kalau Tuhan senantiasa mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan hidup kita, kita pun hendaknya terus mengusahakan dan memperjuangkan hidup dan kesejahteraan sesama.

Dan akhirnya, bersama Pemazmur, marilah kita memuji Tuhan dengan berseru: “Aku akan memuji Engkau ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas” (Mzm 30: 2).

Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.