Cerpen Septian: Hadiah Lebaran untuk Paijo

33
Septian

TEMPUSDEI.ID (14 JUNI 2021)

Paijo, pria lansia berumur 87 tahun yang tinggal seorang diri di kampungya di perbatasan Pekalongan, hanya menghabiskan harinya di ranjang reyot miliknya. Paijo memiliki istri yang telah meninggalkannya tujuh tahun yang lalu. Ningsih namanya. Paijo dan Ningsih dikaruniai lima buah hati yang cerdas dan mandiri. Noto, Herman, Ajeng, Arum, dan Anto. Semua anaknya telah sukses bekerja di berbagai penjuru negeri ini. Noto seorang hakim di Medan, Herman seorang arsitek di Jakarta, Ajeng menjadi seorang dokter di Bandung, sedangkan Arum dan Anto bekerja sebagai psikolog di Pontianak.

Tak seperti lelaki tua lainnya yang menghabiskan sisa hidupnya dengan berbincang dan bercerita dengan cucunya, Paijo hanya menghabiskan sisa hidupnya sendiri saja di rumah sederhana miliknya. Paijo juga tidak pernah merasakan suasana hari raya bersama anak dan cucu nya. Setiap lebaran Ia hanya disambangi oleh tetangga, dan sanak saudara istrinya. Kepergian Ningsih menjadi duka mendalam bagi Paijo. Ia tidak memiliki teman untuk bercerita, atau sekedar bersenda gurau. Ningsih adalah orang yang dikenal di kampungnya, karena itulah meskipun Paijo hanya hidup sendiri, Ia masih diperhatikan oleh tetangganya.

Anak-anak Paijo pun seolah tak bereaksi apa pun setelah kepergian ibunda mereka, tujuh tahun lalu. Setiap dikunjungi tetangganya saat hari raya, Paijo hanya bisa bertanya pada mereka “Ndhuk, anakku wes ngabari koe rung? Saiki lak riyaya to?” Ujar Paijo. Ia selalu menanyakan kabar anaknya pada tetangganya. Karena Ia sama sekali tidak bisa menghubungi mereka satu pun. Tetangganya hanya bisa membalas Paijo dengan senyuman miris. Bagaimana tidak, seorang lelaki tua berusia 87 tahun dan merasakan kesendirian yang amat sangat.

BACA JUGA:  Puisi Agust G. Thuru: Darah Merah Darah Putih

Usaha tetangganya pun selalu mendapat jalan buntu, karena meskipun mereka bisa menghubugi anak Paijo, mereka selalu berdalih ada pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan. Solusi anak Paijo hanya memberikan bantuan finansial yang hanya cukup untuk menyambung nyawa ayahnya itu.  Ruangan persegi 3×4 menjadi ruangan kesayangan Paijo. Pagi hari, ia hanya bisa menatap langit biru tanpa ditemani rengekan cucunya, atau guyonan anaknya. Siang sampai malam ia habiskan hanya untuk mengecek kondisi rumah sembari melirik halaman depan. Ia terus memastikan dan menunggu kepulangan anaknya.

Lebaran ke delapan setelah kepergian istrinya pun tiba. Ia masih dengan kebiasaannya menyiapkan tempat dan makanan untuk tetangga yang akan datang ke rumahnya. Kebiasaan lain yang tidak pernah lupa adalah Ia telah menyiapkan kamar-kamar untuk ditempati anaknya selagi tinggal di rumah. Ia membersihkan semua kamar yang ada di rumahnya, serta mencuci semua sprei yang Ia punya. Ia siapkan dengan penuh rasa sayang layaknya seorang ayah yang menunggu kepulangan anaknya. Ia selalu menunggu kepulangan anak-anaknya. Sampai pada akhirnya, ternyata ada mobil sedan hitam berhenti di depan rumahnya. Suatu kejadian yang tak pernah ia temui setelah kepergian istrinya.

Ia menatap dengan penuh heran dari dalam rumahnya. Ia pun berjalan lambat ke halaman depan rumahnya. Ia masih mengamati mobil itu dengan penuh keheranan. Namun, yang semakin membuat Paijo heran adalah ada satu mobil lagi yang mengikuti si belakangnya. Mobil yang cukup besar dan berwarna putih mengikuti mobil sedan hitam tadi. Tetangga nya pun ikut melihat apa yang terjadi di rumah Paijo. Tidak seperti hari raya biasanya yang sepi, rumah Paijo mendadak banyak orang datang. Tiba-tiba, seorang pria tinggi besar dan berkacamata hitam keluar dari mobil sedan itu. Sungguh kaget Paijo, suatu kejutan dan hadiah yang takkan Ia lupakan menghampirinya. Ia sangat mengenali sosok itu. “Noto, itu Noto, itu pasti Noto”. Teriak Paijo dengan penuh kegirangan. Setelah penantian bertahun-tahun, akhirnya anaknya masih ingat dengan dirinya.

BACA JUGA:  Puisi-puisi Romo Mudji Sutrisno SJ tentang Kematian dan Damba Doa

Namun Paijo kembali dibingungkan dengan sosok yang turun dari mobil putih itu. Ada dua wanita paruh baya mengikuti Noto, anaknya. Noto masih ingat ayahnya ternyata setelah tujuh tahun berpisah. Namun, Noto membawa “teman”. Paijo sontak bertanya pada Noto “Lha endi anak-bojomu? Iki sopo le?”. Noto dengan setengah sedih Ia menatap wajah ayahnya. “Pak, bapak sehat to?” Ujar Noto setengah bergetar. “Sehat le, aku dijawab sek, iki sopo?” Paijo semakin bingung. Noto lalu menatap kedua wanita paruh baya itu. Lalu mereka memperkenalkan diri pada Paijo. “Mbah, niki kula saking Panti Jompo Adiguna,” ujar sang ibu memperkenalkan diri mereka yang datang dari panti jompo dekat rumahnya. Paijo semakin kebingungan melihat kedatangan mereka. Ia mengira akan melihat senyum menantu dan cucu nya. Ia juga mengira makanan yang disiapkannya akan habis dilahap semua anak dan cucu nya. Kenyataan berkata lain, kehadiran sosok wanita paruh baya ini seakan menjadi jawaban penantiannya.

Ternyata, Noto beserta adik-adiknya telah sepakat untuk membawa Paijo ke panti jompo karena takut tidak terawat jika tetap di rumah saja. Harapannya, Paijo menjadi lebih terawat di sana. Paijo pun memandang Noto dengan penuh kesedihan. Ternyata selama ini, Ia hanya menunggu “hadiah” untuk meninggalkan rumahnya. Hadiah yang sungguh akan diingat Paijo di sisa hidupnya. Hadiah hari raya yang tak terduga yang diberikan anak-anaknya.*

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here