Jika Melakukan Sesuatu, Jangan Lupa Membawa Cinta

99
Gembiranya anak-anak membaca di Taman Bacaan Jari-jari Kasih

Bantulah kelompok literasi, jangan malah diremehkan. Untuk meningkatkan tingkat literasi, semua pihak harus turun tangan

TEMPUSDEI.ID (29 MEI 2021)

Kerja membangun literasi yang baik harus dikeroyok banyak pihak. Bukan monopoli pemerintah atau pemerintah daerah. Jangan remehkan komunitas literasi. Mereka adalah ujung tombak yang harus didukung. Dan dukungan terhadap mereka harus konkrit. Rangkul mereka dan biarkan komunitas-komunitas itu berjalan.

Hal tersebut terungkap dalam Webinar yang dilaksanakan oleh Lima Pilar Foundation, pada Sabtu (29/5) yang mengambil tema Literasi di Manggarai, Berada di Persimpangan Jalan. Webinar tersebut menghadirkan 150 peserta dan 4 (empat) narasumber, yakni Dr Mantovany Tapung (Unika St Paulus Ruteng), Dr. Frans Asisi Datang (UI), Tarsi Gantura, M.Pd (Pegiat literasi di jakarta) dan Mikael Ambong (pengelola Taman Baca Jari-Jari Kasih, Ruteng). Webinar dipandu oleh Sixtus Harson, wartawan UcaNews sekaligus founder Lima Pilar Foundation.

Kegelisahan Kelompok Literasi

Mereka rajin membaca di Taman Bacaan Jari-jari Kasih

Dr. Manto mengatakan bahwa komunitas literasi tidak muncul begitu saja. Di sana pasti ada kegelisahan dan keresahan untuk berbuat sesuatu atas kenyataan yang dilihat. Komunitas muncul sebagai respon terhadap kondisi rendahnya kualitas literasi. Mereka bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN).

Namun Manto mengamati, ada ancaman terhadap hadirnya komunitas ini karena ketergantungan pada pihak lain (sumber dana dan kontribusi lain), mudah putus asa karena merasa “kami tidak didukung”, minimnya inovasi dan kreatifitas, tidak memiliki alat ukur capaian dan melaksanakan kegiatan yang sekadar menyenangkan diri sendiri.

Namun Mikael Ambon dari Jari-Jari Kasih mengatakan bahwa tujuan awal, komitmen  dan genuitas (keaslian) gerakan harus menjadi spirit dalam setiap kegiatan. Apa pun pasti ada tantangan dan kesulitan. Tidak ada yang mudah.

“Komunitas Jari-jari Kasih tidak punya apa-apa dari awal sampai sekarang. Tapi saya mobilisasi semua jaringan saya di Jakarta untuk bersama-sama membangun dan mengembangkan literasi di tanah Manggarai ini. Beberapa sekolah di Jakarta menjadi mitra komunitas ini. Mereka mengirim buku-buku, tas, seragam dan lainnya. Saya membagikan semua itu secara gratis dengan anak-anak sekolah di sini. Anak-anak datang baca dan manfaatkan wifi gratis yang kita punya. Mereka senang, kita bahagia”, kisah Mikael.

Karena itu, menurut Mikael, kekuatan komunitas bukan pada modal finansial, tapi modal sosial yakni jejaring. Jejaring ini harus dioptimalkan. Saya percaya, setiap gerakan yang baik akan mendapatkan dukungan dari banyak pihak, siapapun itu, ujar pendiri Fidei Press ini.

Namun Mikael mengingatkan pentingnya ketersediaan buku yang sesuai dengan level usia dan kenginan anak. “Di sini ada banyak buku. Kita biarkan anak-anak untuk memilih sesuai dengan keinginan anak. Jangan paksa anak untuk baca buku yang kita suka. Dia harus membaca yang dia suka. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan membaca. Orang tua atau guru boleh datang menemani,” ungkap Mikael.

Karena pentingnya literasi baca ini, Tarsi sangat mengharapkan agar sekolah – sekolah juga dapat mengikuti pola yang dibangun oleh komunitas. Dalam pandangan Tarsi, sekolah saat ini bukan lagi tempat yang asyik untuk membaca. Anak-anak hampir tidak punya waktu sedikit pun untuk membaca di sekolah. Kurikulumnya tidak memberikan ruang itu. Mereka dijejali pelajaran dari pagi sampai siang.

Tarsi mengamati, sekolah tidak punya waktu khusus untuk membaca. Perpustakaan hanya untuk menumpuk buku pelajaran. Hampir tidak ada buku cerita di sana.

Karena itu, menurut Tarsi, sekolah-sekolah harus mendesain waktu khusus untuk membantu membangun kebiasaan membaca anak, sebagaimana kebiasaan di komunitas. Buku-buku cerita anak harus diadakan oleh sekolah-sekolah dan buku tersebut sesuai dengan konteks sosial-ekonomi anak.

“Buku-buku anak Jakarta atau Jawa secara umum tidak sesuai dengan anak-anak yang ada di Indonesia Timur. Kontekstualisasinya tidak masuk dalam pikiran dan imajinasi anak,” ujar Tarsi

Itu artinya, lanjut Tarsi, keinginan dan harapan akan literasi yang memadai menuntut kebijakan yang baik dari sekolah dan Pemerintah atau Pemda atau pengelola sekolah. Keberpihakan anggaran atau alokasi keuangan untuk pengadaan buku yang sesuai menjadi kebutuhan. Jangan bicara literasi kalau kebijakan anggaran tidak pernah pro kepada anak-anak atau komunitas literasi. Itu hanya slogan politik yang hanya berbuih sesaat.

Mengutip Paulo Coelho, novelis Brasil, Tarsi mengatakan, “Ketika mau melakukan sesuatu, jangan lupa membawa cinta.” (*/pan)