Puisi-puisi Simply da Flores untuk Generasi Pewaris Papua

178
Simply da Flores
Generasi Papua (sumber foto: warnasarimedia.blogspot.co.id)

TANYA DAN DOA GENERASI PEWARIS PAPUA

Ibu Panglima Kasuari
Lihatlah anak-anakmu
yang dicap sebagai monyet perusuh dan teroris
yang merana duka lara tak berdaya
yang luka dan berdarah
yang tertembak mati berguguran
yang tak pasti menentukan pilihan,
bahkan menggugat diri dengan tanya
mengapa harus terlahir di tanah Papua ?
berilah jawaban sakti dan solusi sejati yang merana duka lara menderita tak bertepi

Bapa Panglima Cendrawasih
manakah pesona surgamu
di manakah mantra sakti Raja Mentari
masikah ada seruling emas mandraguna
yang mengalunkan lagu kasih sayang Ilahi ?
Sudah hilangkah sarung sakral magis
untuk membalut harkat martabat putra-putri
pewaris tanah Papua,
Negeri Pantai Pasir Putih,
dengan seluruh kekayaan alamnya dan janji Kerajaan Ilahi

Masih berapa lamakah derita duka lara nestapa ini akan terjadi?
Haruskah anak-anak Papua binasa,
dan hilang lenyap dari Negeri Pantai Pasir Putih
demi kenikmatan serakah segelintir orang
yang merampok sumber daya alam tanah ini ?

Ibu Panglima Kasuari,
Bapa Panglima Cendrawasih dan
Para moyang seluruh Suku pewaris Papua,
jawablah kami putra-putri generasi!
Mohonkan mukjizat kuasa Sang Pencipta
untuk selamatkan hidup kami
dengan kedasyatan Keadilan Kasih-NYA sempurna

GENERASI SUKU MONI DI ILAGA

Wahai putra-putri pewaris Suku Moni, di Ilaga – Puncak Jaya, Tanah Papua,
lagumu penuh ceria
tapi kudengar penuh duka lara mengiris nurani jiwa

Kalian nyanyikan harapan,
pesona dan damba cita masa depan bahagia
bersahabat dengan temali pepohonan
dan sejuknya roh semesta
Lagumu warisan leluhur tanpa polusi
dan sampah zaman milenial
Namun dirimu dan tanahmu yang kaya
sedang dicengkram tangan besi maha kuat dan kejam
dalam hitungan angka dollar ketamakan
dan senandung digit keserakahan

Apakah kalian masih melihat matahari esok
dengan pepohonan hijau dan temalinya mengayunmu
dengan napas segar aroma doa leluhurmu
untuk menjadi pewaris tanah Papua yang kaya raya ?

Di tanah yang kalian tapaki,
sudah ada seribu lubang bagi jenazahmu
Di temali dan pepohonan yang merangkulmu
sudah menunggu butiran peluru pencabut nyawamu,
karena kalian dicap sebagai monyet perusuh dan teroris

Hanya doa leluhurmu Suku Moni,
para moyang di Ilaga Puncak Jaya Papua dan tujuh wilayah adat budaya Papua,
yang bisa diandalkan untuk bertemu Ibu Kasuari
dan Panglima Cendrawasih
Menitip doa harapanmi mendapat perlindungan sakti
dari Sang Raja Matahari:
Agar esok masih ada fajar menyingsing,
kalian masih punya hutan dan temali untuk bermain
besok bisa terobati lubang luka
di sekujur tubuh Ibu Kasuari
karena disobek kerakusan merampok kekayaan alamnya
besok tidak lagi terdengar desingan pekik peluru
mencabut nyawa tumpahkan darah,
karena kalian dicap sebagai anak-anak teroris dan monyet perusuh

Putra-putri pewaris generasi Suku Moni
di Ilaga, Puncak Jaya Tanah Papua!
Satukan doamu bersama sesama saudaramu
di seluruh tanah Papua
bunyikan Tifamu
bangunkan para moyang ketujuh wilayah adat budaya

Mari naik ke pelataran langit menghadap Sang Pencipta,
tanyakan pada Sang Pemilik Semesta:
Mengapa kami terlahir di tanah Papua
yang kaya raya ini,
hanya untuk dimangsa peluru karena dicap
sebagai monyet perusuh dan teroris,
demi kerakusan segelintir orang
untuk merampok kekayaan alam tanah ini?

Keraskan suaramu
tabuh tifamu
nyanyikan doa rindu dambamu,
merobek tirai istana Sang Pemilik Semesta,
agar segera datang menyatakan jawaban Kuasa Keadilan-Nya

Flores, 18-05-2021