Kardinal Ignatius Suharyo: Ilmu Teologi Harus Berguna untuk Publik

406
Christiano Reynaldo (moderator) dan Kardinal Ignatius Suharyo.

JAKARTA, TEMPUSDEI.ID (14 MEI 2021)

Ketika berbicara dalam Webinar bertajuk The Untold Story Winners in Pandemics pada 8 Mei 2021, Kardinal Ignatius Suharyo mengingatkan agar pemikiran-pemikiran atau refleksi Teologi selalu memiliki manfaat untuk publik.

“Kalau para ahli Teologi membuat diktat atau buku Teologi, ada akibat atau manfaat gak bagi kebaikan bersama? Kalau kita bicara tentang Tritunggal Mahakudus, sebetulnya kita bicara tentang Allah Mahakasih. Itu intinya. Kalau sudah sampai ke sini, menjadi konkret dan tidak sulit”.

Webinar tersebut diselenggarakan oleh Badan Pelayanan Keuskupan (BPK) Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk memperingati 45 tahun Pembaruan Karismatik Katolik di KAJ.

Uskup lalu memberi contoh tentang Teologi Publik dari pengalamannya sewaktu kecil. Saat itu, ibunya mengajarinya sebuah lagu yang sangat bermakna tentang seorang pengemis yang lapar. Sang anak melihat di luar ada pengemis yang datang, lalu melaporkan. Sang ibu menyiapkan makanan berupa nasi, lauk dan air lalu menyuruh anaknya memberikan kepada pengemis itu dengan pesan  agar sang anak menyuruh pengemis itu datang setiap hari Minggu. “Ini kan konkret. Kalau bicara tentang Tritunggal ini perdebatan yang tidak ada ujungnya karena tidak ada yang mengerti kan?” kata Kardinal retoris.

Di tahun kedua pandemi ini, Uskup menyampaikan keyakinan. Menurutnya, kata harapan, itu adalah bahasa iman dan harapan itu tidak sama dengan optimisme. “Optimisme menurut rasa bahasa saya, pertimbangan-pertimbangannya manusiawi. Contoh: saya yakin bahwa kalau kinerja KPK begini terus, maka lima tahun mendatang tidak ada korupsi. Itu optimisme. Lalu, kalau pada lima tahun mendatang korupsi tetap saja, maka optimisme itu hilang, berganti pesimisme.

Harapan itu lain. Landasannya adalah iman. Dasarnya, “Allah yang telah memulai karya yang baik, akan menyelesaikannya juga.” Itu artinya, ada harapan, entah kapan akan jadi kenyataan. Nah! Harapan atas dasar iman menjauhkan orang dari putus asa. “Kalau saya tidak berhasil, tidak berarti Allah gagal. Allah akan menyelesaikannya. Dan kalau saya berhasil, saya tidak sombong karena Allah yang telah memulai. Ia yang menyelesaikan,” urai Kardinal.

Berdasarkan prinsip tersebut lanjut Kardinal, entah menghadapi apa pun seperti pandemi, yang diperlukan adalah harapan. “Dengan harapan itu, kita bisa bekerja keras mencari jalan kreatif sehingga Allah yang memulai karya yang baik itu semakin tampak,” tambah Kardinal lagi.

Pada kesempatan ini, Uskup Suharyo mengingatkan audiens agar di dalam masa pandemi ini tetap menggerakkan daya kreasi sehingga tetap bisa membantu sesama.

Sementara itu, Mari Elka Pangestu (Managing Director of Development Policy and Partnership World Bank) membagikan pengalaman dan pergumulannya selama bekerja di Bank Dunia selama satu tahun lebih. Dia mengamati bahwa terjadi persaingan yang luar biasa antara Tiongkok dan Amerika. Dan dalam persaingan ini, kata Mari, kita harus berteman dengan keduanya sambil membawa inspirasi.

Tambah Mari, selama masa pandemi ini tidak ada magic formula untuk mengatasi situasi, tapi bagaimana menjaga kesehatan secara fisik maupun mental. Itu yang membuat orang kuat.

Chairwomen of PT Kalbe Farma Tbk Bernadette Ruth Irawati Setiady atau yang biasa disapa Ira juga berbagi bagaimana menerapkan cara-cara kreatif dan menusiawi dalam mengelola perusahaannya. Dia mengingatkan bahwa setiap perusahaan didirikan untuk mendapatkan profit, tapi jauh dari itu untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Menurut Ira, perusahaan harus selalu ingat visi dan misi perusahaan didirikan.  Hal inilah yang selalu menyertai langkah perusahaan farmasi yang dipimpinnya dan telah merambah ke berbagai negara ini. (tD)