Puisi-puisi Filsiane Mithan tentang Senja dan Perempuan Tungku

14
Filsiane Mithan
Senja menguning

SENJA

Aku masih di batas kota, menanti cinta yang kau bawa pergi
Ah, yang berat bukan rindu, tapi isi kepala tentang khabarmu kini
Aku habiskan senja sendiri, tanpa pesan dunia nyata maupun maya
Ah, kau dimana? Setiap senja,aku makin tak berdaya

Entah ini senja yang ke berapa…
Melihat dari uban di kepala, aku bahkan tak yakin bertahan sejauh ini,setia seperti ini.
Melodi cinta kugaungkan dalam hati, bagai paduan suara malaikat menggema nurani.
Entahlah, apa ini cinta yang agung itu? Menanti meski sendiri, menangis dalam hati.

Aku masih di batas kota, menunggu balasan surat darimu
Apa suratku salah alamat ataukah sudah termakan rayap?
Aku sadar cinta tak perlu syarat,meski logika berontak hati memilih menetetap
Adakah wanita semampuku, membujuk rindu dengan harap

Entah kapan Semesta merestui kita bertemu
Entah kapan senja yang teduh itu datang
Merindumu adalah alasanku menolak yang ingin bertamu
Menunggumu hingga usiaku senja, hingga hilang, aku mampu

Maumere, 2021

BUKAN PEREMPUAN TUNGKU

Siapa bilang aku hanya perempuan tungku
Lahir untuk memuja pria dan memberi makan anak?
Siapa bilang aku hanya bisa menunggu
Lalu gelisah menghitung hari sambil menggendong anak?
Aku memang perempuan tungku tapi tidak dungu
Aku memang perempuan tungku yang layak dipangku

Siapa bilang perempuan tungku lemah, bila air perigi bisa berpindah ke kumbang?
Aku perempuan tungku yang lelah, tapi aku tidak tumbang.
Siapa bilang perempuan tungku manja, bila tulang rusuk berganti tulang punggung?
Aku perempuan tungku yang sahaja, yang tetap berdiri tanpa panggung.

Hai kamu perempuan tungku tanpa sepatu, kakimu lebih berharga dari lantai istana.
Hai kamu perempuan tungku tanpa kerudung, rambutmu lebih mulia daripada mahkota emas para raja.
Di telapak kakimu ada jejak perjalanan
Di kepalamu ada kebebasan

BACA JUGA:  Puisi Agust G. Thuru untuk 53 Prajurit Nanggala 402

Hai kamu perempuan tungku yang selalu menyuguh tanpa mengeluh, tetaplah kuat.
Hai kamu perempuan tungku yang setia merawat dan melawat, kiranya tungku itu tetap hangat.
Agar perut anakmu tetap terisi dan tak berisik
Agar mereka tak menyodor tangan minta sedekah pada yang serakah.

Teruntuk wanita-wanita kuat di luar sana yang menjadi orangtua tunggal, kalian hebat
Maumere, 2021

Filsiane Mithan, lahir pada 30 Juni 1992 di Ende Flores. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores, Ende. Hobby membaca novel dan menulis puisi.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here