Tetap Bersatu dengan Yesus, akan Berbuah secara Berlimpah

45
Pater Remmy Sila, CSsR

TEMPUSDEI.ID (2 Mei 2021)

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR, Superior Misi Redemptoris di Samoa, Provinsi Oceania

Suatu malam Jack bermimpi. Dia melihat pohon anggur yang sangat besar merambat naik ke surga. Dia melihat juga malaikat sedang memberi instruksi kepada orang-orang. Masing-masing diberi kapur, dan mereka diberi tahu bahwa saat naik, mereka akan melihat dosa yang telah mereka lakukan selama hidup mereka. Setiap dosa akan menghentikan pendakian orang tersebut. Untuk melanjutkan pendakian, dia harus menandai pokok anggur dengan kapur untuk setiap dosa. Maka Jack pun mulai memanjat pohon anggur tersebut. Tidak lama berselang, dia melihat ayahnya turun kembali. Jack pun bertanya, “Mengapa bapak turun kembali?” Bapaknya menjawab, “Bapak butuh lebih banyak kapur, nak”

Kita semua pasti ingin naik ke surga. Mungkin berharap ada pohon-pohon anggur besar seperti mimpinya Jack, atau  ada semacam tangga dan  lebih bagus lagi kalau ada pesawat terbang jurusan ke surga. Sayangnya itu semua hanya mimpi. Bagi kita hanya ada satu jalan ke surga: Yesus. Dan hari ini, Dia memberikan  kita rumus untuk pergi ke surga. “Tinggalah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. …Akulah pokok anggur yang sejati, kamu adalah ranting-rantingnya. Barangsiapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia akan menghasilkan buah, karena tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15: 4-5).

Kita harus bersyukur bahwa  melalui Sakramen Pembaptisan kita dimasukkan ke dalam persekutuan Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja. Tetapi tahap ini belum menjamin. Yang menjamin adalah tetap bersama Yesus,  sebagai Pokok Anggur yang benar dan bersama Yesus kita kita dituntut untuk menghasilkan banyak buah iman.

BACA JUGA:  BAPTISAN TUHAN, BAPTISAN KITA

Bagaimana kita bisa melakukannya? Pertama, kita menaati semua perintah Tuhan. Dan perintah terbesar dari semuanya adalah kasih. Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13: 35).  Kedua, kita menaati kehendak Tuhan dalam hidup kita. Kita tidak boleh mengikuti keinginan atau kehendak kita sendiri. Seperti Bunda Maria, kita harus menanggapi kehendaki Tuhan dengan rendah hati. “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ketiga, kita hendaknya menerima Sakramen secara teratur, terutama Sakramen Ekaristi dan Tobat.

St. Alfonus de Ligouri, pendiri CSsR mengatakan demikian, “Ketika Juruselamat kita yang terkasih meninggalkan dunia ini, Dia tidak ingin meninggalkan kita sendirian, dan oleh karena itu Dia menemukan cara untuk tetap bersama kita di sini di bawah ini kita bisa menimati kebersamaan-Nya yang manis.” Dalam Ekaristi kita sungguh-sungguh menjadi satu dengan Yesus. Menurut Paus Benediktus XVI, “Menerima Ekaristi berarti menyembah Dia yang kita terima.”

Melakukan ketiga hal di atas akan memberi Rahmat Pengudusan, kasih karunia yang dengannya kita berbagi kehidupan Tuhan, kita menjadi serupa dengan gambar/citra Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan kekudusan sejati. Dan Yesus berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15: 7). Tetapi Rahmat Pengudusan ini, hilang saat kita jatuh dalam dosa besar. Meskipun kita mungkin tidak selalu menyadarinya, ini sering terjadi dalam hidup kita. Kita sering kehilangan hubungan kita dengan Tuhan. Kita seperti ranting yang terputus dari pokok anggur. Kita seperti ranting yang mati dan kering dan siap untuk dilemparkan ke dalam api dan dibakar.

BACA JUGA:  Jangan Hanya di Bibir, Kawan!

 Kita beruntung bahwa telah dimasukkan ke dalam persatuan dengan  Kristus melalui Baptisan. Tetapi karena dosa-dosa kita, terutama karena kesombongan dan keakuan, kita sering disingkirkan dari-Nya. Maka kita harus selalu merasa membutuhkan untuk menerima Sakramen Tobat agar bisa didamaikan kembali dengan Tuhan dan mendapatkan kembali Rahmat Pengudusan.

Tetapi perlu diingat bahwa Yesus tidak hanya berbicara tentang tetap tinggal di dalam Dia.  Yesus juga berbicara tentang soal menghasilkan  buah. Sebuah ranting tidak dapat terus mendapatkan makanan dari pokok anggur tanpa menghasilkan buah. Yesus juga  tidak hanya berbicara tentang menghasilkan buah, tetapi menghasilkan banyak buah. Dan ini terjadi melalui tindakan pemotongan dan pembersihan ranting. “…Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah” (Yoh 15: 1b-2).

Ranting dan daun yang tidak diperlukan harus dipotong dan dibersihkan dari ranting anggur agar nutrisinya tidak terbuang percuma tetapi bisa langsung disalurkan ke bagian yang menghasilkan buah. Tindakan ini tentu merupakan sebuah langkah yang menyakitkan tetapi harus dilakukan.

Dalam konteks permenungan kita hari ini, tindakan penting ini berkaitan dengan penyangkalan diri, pelepasan dan pengorbanan dari dari pihak kita sebagai ranting pokok anggur yang yang benar. Ada banyak ranting dan daun yang harus dilepaskan dari hidup kita agar hidup kita lebih banyak berbuah dan menjadi berkat bagi sesama.

Banyak kebiasaan buruk atau tidak sehat yang harus dilepaskan, misalnya merokok, mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, berjudi, bergosip, dan sebagainya. Menghabiskan banyak waktu untuk bermain game, menonton sinetron atau drama Filipina dan Korea, bermain facebook, dan sebagainya. Sering kita tidak menyadari bahwa semua kebiasaan buruk atau tidak sehat inilah yang membuat kita tidak menghasilkan buah-buah iman yang berlimpah dalam hidup kita.

BACA JUGA:  MELAYANI - Mengabdi dalam Sunyi

Bulan Maria

Sejak kemarin kita sudah memasuki bulan Mei, yang bagi kita orang Katolik merupakan bulan untuk menghormati secara khusus bunda Maria. Kita menghormatinya dengan mempersembahkan bunga yang harum dan lebih khusus melalui doa Rosario.

Dengan berdoa Rosario kita memandang Bunda Maria sebagai teladan sempurna dari ranting pokok anggur yang sehat dan senatiasa menghasilkan buah berlimpah. Dia tinggal bersama Yesus sepanjang hidupnya dengan ketaatan total kepada kehendak Tuhan. Semoga kehidupan Bunda Maria, sang wanita suci sederhana dari Nazareth menginspirasi kita selalu tinggal dalam Kristus Pokok Anggur yang benar dan dengan demikian menhasilkan buah yang berlimpah dalam hidup kita.

Tuhan memberkati.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here