Dosa Manusia dan Kerahiman Ilahi

55
Pater Remmy Sila, CSsR

TEMPUSDEI.ID (11 APRIL 2021)

Oleh Pater Remmy Sila, CSsR  Superior Redemptoris di Samoa, Provinsi Oceania

 

Peristiwa kebangkitan Yesus telah memulihkan harapan kita akan hidup baru dalam keabadian setelah kematian. Maka dalam kegembiraan Paskah marilah kita memuji Yesus Tuhan dan Penebus kita karena harapan baru ini. Harapan baru itu pertama-tama dialami oleh para murid-Nya melalui peristiwa-peristiwa penampakan-Nya setelah kebangkitan-Nya. Penampakan-penampakan-Nya  kepada murid-murid-Nya baik secara perorangan maupun secara kelompok dimaksudkan untuk meyakinkan mereka bahwa Dia benar-benar telah bangkit seperti yang telah dikatakan-Nya.

Injil hari ini mewartakan kepada kita peristiwa penampakan pertama dan kedua kepada para rasul-Nya, yang masih mengurung diri dalam ruangan sebuah rumah karena takut akan orang-orang Yahudi (Yoh 20: 19-31).

Yesus menampakan diri tidak sekadar untuk menghalau dan mengusir ketakutan mereka. Dia juga hadir di tengah-tengah mereka untuk memberdayakan mereka dengan kuasa Roh Kudus untuk melanjutkan misi-Nya dalam mendamaikan manusia dengan Allah. “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan  jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20: 22-23). Dengan kata-kata ini Yesus menetapkan Sakramen Rekonsiliasi untuk pengampunan dosa dan pada saat yang sama Dia mempercayakan kuasa untuk melanjutkan tugas rekonsiliasi yang dipercayakan Bapa bagi-Nya, kepada para rasul-Nya. Tugas pengampunan dan pendamaian itu selanjutnya sampai sekarang dipercayakan  kepada para uskup dan para imam, yang dikenal dengan istilah Alter Christus atau Kristus yang lain.

Seorang imam adalah Alter Christus, Kristus yang lain berdasarkan penahbisan dan karena itu ia bertindak in persona Christi, yaitu imam bertindak dalam Nama dan Pribadi Kristus. Kekuatan ini secara jelas berasal dari mandat Yesus yang kita dengarkan dalam bacaan Injil hari ini kepada para rasul-Nya: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20: 21). “Mengutus” berasal dari kata Yunani: apostelo. Dan para rasul adalah mereka yang ditahbiskan dan diutus untuk mewakili Sang Guru.

BACA JUGA:  Anda dan Saya Dipanggil untuk Menjadi Kudus

Hari Minggu II Paskah ini, kita rayakan sebagai hari Minggu Kerahiman Ilahi. Oleh karena itu, pada hari Minggu Kerahiman Ilahi ini, Yesus yang Maharahim mengingatkan kita bahwa belaskasihan dan kerahiman adalah inti dari misi-Nya. Untuk itu, Dia tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita dan mengajari kita untuk mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, tetapi Dia juga menetapkan sakramen Rekonsiliasi, di mana setiap orang dapat menemukan belaskasihan dan kerahiman Allah.

Sakramen Rekonsiliasi ini ditetapkan-Nya pada penampakan-Nya kepada para Rasul-Nya pada malam, pada hari pertama dalam minggu setelah kebangkitan-Nya (Yoh 20: 19). Dia memberikan kuasa untuk mengampuni dosa dan mendamaikan manusia dengan Tuhan kepada para Rasul-Nya dan para pengganti mereka,  selama dunia ini berlangsung. Adanya Sakaramen Rekonsiliasi ini tentu saja tidak dimaksudkan  untuk mendorong kita agar terus jatuh dalam dosa, tetapi sebuah cara untuk meyakinkan orang-orang berdosa bahwa Tuhan masih mencintai mereka dan mengundang mereka untuk bertobat dan kembali kepada-Nya untuk menikmati kerahiman ilahi-Nya dan akhirnya memililiki hidup yang kekal.

Oleh karena itu, setelah kita menyadari kasih dan kerahiman Tuhan yang selalu dengan tangan dan hati terbuka menerima kembali orang berdosa yang mau bertobat, kita hendaknya tidak menunda waktu untuksegera kembali kepada-Nya. Dan seperti sang ayah yang penuh belas kasihan kepada anaknya yang hilang dalam injil Lukas 15: 11-32, Tuhan selalu mengambil inisiatif untuk mengulurkan tangan kasih-nya terlebih dahulu kepada kita anak-anak-Nya para pendosa yang kembali kepada-Nya.

Semoga perayaan hari Minggu Kerahiman Ilahi ini membangkitkan kerinduan dalam diri kita untuk senantiasa mencari dan menemukan belaskasihan dan kerahiman Tuhan sepanjang hidup kita, merasakan-Nya dengan penuh syukur dan  selalu siap untuk menunjukkan belaskasihan dan kerahiman Allah tersebut kepada semua orang di sekitar kita terutama mereka yang telah menyinggung dan melukai hati kita. Hanya dengan cara itu kita akan mengalami pembebasan dari beban dosa dan perdamaian dengan Allah dan sesama secara penuh dan membahagiakan.

BACA JUGA:  Pikiran Bukan untuk Merancang Kebohongan, dan Hati Bukan untuk Menimbun Kebencian

Selamat Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Tuhan Yesus memberkati.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here