MELAYANI – Mengabdi dalam Sunyi

32
Cinta itu menghidupkan

 

Oleh Romo Albertus Herwanta, O. Carm

TEMPUSDEI.ID (29 MARET 2021)

Romo Albert

Panggung politik kerap penuh dengan gaduh. Dunia digital diramaikan oleh budaya viral. Keduanya sering dipakai untuk mencari perhatian, dukungan dan ketenaran. Prestasi dan pengabdiannya belum tentu bermutu, tapi ingin dianggap nomor satu.

Dalam dunia yang demikian, mereka yang bekerja tanpa banyak suara dianggap tidak ada. Para pelayan yang berkarya dalam sunyi dinilai sebagai sepi. Orang kecil dan miskin masuk kategori kurang kontribusi.

Tidak demikian Allah berkarya. Dia memilih hamba-Nya yang berkarya dalam sunyi. “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan” (Yes 42: 2). Hamba itu  memperhatikan yang lemah dan miskin. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya” (Yes 42: 3). Memberi harapan.

Hamba itu sangat mengandalkan Tuhan. “Aku percaya kepada-Mu, Tuhanlah pengharapanku. Tuhan, pada-Mu kuberserah, dan mengharap kerahiman-Mu.” Demikian ungkapan imannya.

Di tengah dunia yang ingar-bingar, hamba demikian kurang mendapat tempat. Hanya yang memiliki kepekaan dapat mengenali dan mengapreasi. Maria, saudari Lazarus adalah salah satunya. Dia mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Sang Hamba itu dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah (Yoh 12: 3). Itulah ungkapan kasih dan hormat kepada-Nya (Yoh 12: 7); abdi sejati yang taat kepada Allah dan mengabdi manusia.

Sebaliknya, Yudas Iskariot , orang Yahudi dan imam-imam kepala. Yudas menganggap bahwa apresiasi kepada abdi sejati itu pemborosan. Sedang orang Yahudi dan imam kepala malah mau membunuh Dia. Yudas dibutakan oleh uang dan yang lain mabuk kepentingan.

BACA JUGA:  Keluarga Kudus dan Sehat

Sang Abdi membiarkan itu terjadi. Dia sadar bahwa semua langkah dari mereka yang melawan-Nya akan sia-sia, karena Dia melaksanakan kehendak Allah. Dia tidak perlu melawan mereka dengan teriakan, karena suara keras tanpa kekuatan Allah akan sia-sia. Pelayan ilahi bekerja tanpa “koar-koar” sana-sini. Dia itu abdi dalam sunyi.

Senin, 29 Maret 2021

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here