AIR, JOKOWI, DU’A TORU: Menyambut Peresmian Bendungan Napun Gete, Maumere

1221
Bendungan Napun Gete, ketika dalam kondisi 80 persen pembangunannya. (ist)

Oleh GF Didinong Say, Pengamat sosial dan pelayanan publik, tinggal di Jakarta

TEMPUSDEI.ID (14 FEBRUARI 2021)

“Air su dekat….” adalah sebaris kata-kata yang cukup tenar dalam sebuah iklan televisi beberapa tahun silam. Saat itu, ada bagian iklan ini yang membuat sebagian orang  NTT cukup tersinggung walau iklan tersebut sebenarnya cukup jujur dan realistis. Ekpose atas kondisi NTT yang kekeringan, kurang air, tidak subur, jarang mandi dan lain-lain  serta merta menimbulkan rasa malu. Konsumsi visual seperti iklan tersebut  bisa saja membentuk generalisasi negative mindset terhadap wilayah dan masyarakat NTT.

Pada sisi lain, keadaan geografis terkait curah hujan minim, kontur geologis dan topografis pulau-pulau vulkanis dan berkarang di NTT,  luasan hutan yang terus menciut oleh ulah manusia, serta infrastruktur penangkap atau penyaluran air yang terbatas menjadi faktor patetis ketersediaan air  di NTT selama ini. Padahal, air merupakan sumber kehidupan bagi manusia.

Hari Selasa, 16 Februari 2021, setelah beberapa kali tertunda, Presiden Jokowi dijadwalkan akan datang ke Maumere, Flores untuk meresmikan salah satu dari 7 bendungan air yang sudah dan atau sedang dibangun di NTT. Bendungan ini sesuai nama setempat disebut Napun Gete (Sungai Besar). Terletak di wilayah Tana Ai, desa Ilin Medo, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka.

Prioritas Jokowi

Agaknya sudah sejak awal, penyediaan air di NTT menjadi prioritas utama Jokowi. Ini termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Pengelolaan teknis yang efektif dan efisien pada Bendungan Napun Gete yang berkapasitas 11,2 juta meter kubik air ini tentu akan membawa banyak manfaat dan multiplier effects secara berkelanjutan bagi masyarakat  NTT, khususnya di kawasan Maumere dan sekitarnya.

BACA JUGA:  Selembar Doa dan Harapan dari Flores untuk Jalan Dialog bagi Masalah di Papua

Tak pelak lagi,  bendungan ini merupakan suatu upaya konkret pembebasan NTT dari ketertinggalan dan keterbelakangan stigmatis selama ini.

Nomenklatur Bendungan

Tana Ai, di mana bendungan Napun Gete itu terletak adalah wilayah paling tertinggal dalam banyak hal di Maumere. Di masa lalu wilayah dan komunitas masyarakat Tana Ai  sering dikaitkan dengan hal hal mistis dan olok-olok sosiologis maupun kultural di kalangan masyarakat Maumere lainnya.

Rentang kendali dan pelayanan pemerintah di wilayah bagian timur Maumere, Kabupaten Sikka yang berbatasan dengan Larantuka itu barangkali baru mulai efektif setelah tahun 1980-an. Modernitas seperti listrik, akses transportasi umum dan lain-lain untuk wilayah Tana Ai pedalaman bahkan masih merupakan masalah sampai saat ini.

Du’a Toru, Wanita Pejuang

Namun sejarah mencatat bahwa dari wilayah terisolir ini pernah dilahirkan seorang pejuang wanita bernama Du’a Toru.  Di awal abad ke-20, pihak kolonial Belanda bersama kaki tangannya mulai merambah ke Tana Ai.

Masuknya kekuasaan Belanda berikut perangkat pajak dan upeti yang memberatkan masyarakat Tana Ai tersebut menimbulkan resistensi dan aksi perlawanan dalam bentuk pemberontakan bersenjata.

Pemimpin pemberontakan  adalah sang pejuang wanita, Du’a Toru. Pemda Sikka telah mengakui sejarah dan nilai perjuangan Du’a Toru tersebut.

Semboyannya heroik:  “A’u Dua Toru, mout ganu ular uta, panan ganu ohu tawan” (Saya Du’a Toru, cepat seperti piton, lincah seperti ular lidi). Du’a Toru selanjutnya menjadi simbol inspiratif perlawanan masyarakat Tana Ai terhadap penindasan dan penjajahan. Perjuangan Du’a Toru  tersebut  sekaligus menjadi basis historis bagi kesatuan persatuan komunitas sosial kultural Tana Ai sampai hari ini.

Masyarakat Tana Ai inilah pihak prinsipal adat yang pada akhirnya siap sedia melepaskan hak ulayat mereka atas kawasan Napun Gete  demi pembangunan bendungan sebagai upaya pembebasan dari keterbelakangan dan ketertinggalan wilayah Maumere, Flores, dan NTT pada umumnya.

BACA JUGA:  Terima Kasih untuk Nikita, Irjen Fadil dan Jenderal Dudung

Jokowi memiliki kapasitas sebagai pemimpin visioner sarat nilai dan simbol. Kehadiran Jokowi di Maumere dan kehadiran Bendungan Napun Gete di wilayah Tana Ai  jangan menjadi sekadar monumen seremoni dan perubahan fisikal.

Momentum peresmian bendungan Napun Gete kiranya perlu diwarnai oleh pembangunan self confidence masyarakat setempat. Bangga, rasa memiliki, bertanggunjawab dan berjuang dengan nilai dan simbolnya sendiri.

Perlu diusulkan agar bendungan yang akan diresmikan Jokowi tersebut kelak dapat dinamai Bendungan Du’a Toru Napun Gete.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here