Jalan-jalan Tikus Menjadi Wartawan dalam Kegembiraan, Harapan dan Kecemasan

65
Ternyata tidak bisa pindah ke lain hati

TEMPUSDEI.ID (9 Februari 2021)

Jalan tikus menjadi wartawan

Mumpung Hari Pers Nasional, saya ingin sharing sedikit tentang alasan saya menempuh “jalur jurnalistik”, jalur yang sebenarnya tidak pernah saya bayangkan, tapi jujur, saya sungguh bersyukur berada di sini. Kadang saya malah berkata, “Kalau saya tidak di jalur ini, entah saya jadi apa” sebab rasa-rasanya saya tidak punya kemampuan lain. Memang begitulah cara Tuhan mengirim manusia ke mana saja Dia mau.

Ketika masih kecil, kecuali pernah mendengar kata “wartawan”, saya tidak pernah menjumpai sesosok pun wartawan. Ketika mendengar, kata “wartawan” ini, banyak cerita-cerita mengherankan, membius, juga menakutkan dan ngeri-ngeri sedap yang menyertai. Wartawan itu tergambarkan sebagai orang yang misterius, penyelamat, tidak banyak omong, tidak menonjol, sederhana – cenderung tidak punya apa-apa kecuali otak, alat rekam, pulpen dan notes. Namun tidak terjelaskan bagaimana jalan yang harus ditempuh untuk menjadi wartawan. Seakan-akan seseorang itu tiba-tiba saja menjadi wartawan dan hebat. Lekap sudah kemisteriusannya.

Pada masa itu, tidak ada keinginan untuk menjadi wartawan dalam diri saya. Yang ada hanya perasaan penasaran. Pokoknya, kalau mendengar seseorang yang menjadi wartawan, sekian banyak predikat tersebut langsung terbayang-bayang. Sesekali gambaran itu membuat saya tidak bisa membayangkan hidup dan pekerjaan seorang wartawan itu, tapi sesekali tergoda untuk memikirkan, namun otak saya tidak kuat membayangkan pribadi dan cara kerja wartawan itu.

Pelan-pelan, muncul juga keinginan untuk menjadi orang “misterius” seperti tergambarkan tersebut. Namun sekali lagi, sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjadi.

Baru ketika di bangku SMA bayangan tentang sosok seorang wartawan mulai agak jelas. Itu karena ada seorang guru kami, yakni Pak Frans Wora Hebi yang juga wartawan. Entah Pak Frans waktu itu menjalani pekerjaan guru sambil menjadi wartawan atau menjadi wartawan sambil menjadi guru. Tapi dugaan saya, yang benar adalah yang pertama. Saya sendiri tidak pernah menanyakan. Pokoknya, kami terkagum-kagum ketika FWH bercerita tentang kerja jurnalistiknya yang seringkali menyelamatkan orang dari situasi genting. Mulai ada perasaan tertarik, namun sambil lalu saja.

BACA JUGA:  OBITUARI: Daniel Dhakidae, dari Hiperbolisme Menggapai Kejernihan

Kerja di Majalah Berbahasa Jawa

Keinginan untuk menjadi wartawan baru benar-benar konkret ketika meninggalkan candradimuka bernama Wisma Sang Penebus Yogyakarta. Bersamaan dengan itu saya meninggalkan pula bangku kuliah di Fakultas Teologi Wedhabakti Universitas Sanata Dharma. Di fakultas ini, pada tiga tahun pertama kami banyak belajar filsafat selain belajar Kitab Suci, Sejarah Gereja dan lain-lain.  Perjalanan belum apa-apa, saya sudah “ngacir” lalu banting setir belajar jurnalistik di sebuah kampus mungil bernama Akademi Komunikasi Yogyakarta, tentu di Yogyakarta juga. Entah! Kampus itu masih ada atau bagaimana, saya kurang update.

Sambil kuliah, karena kiriman uang dari keluarga yang seret, “terpaksa” tapi dengan senang hati berusaha mencari peluang untuk menulis di media atau malah bekerja di media sebagai wartawan kecil-kecilan. Maka jadilah saya mulai berani meliput (tanpa ada penugasan) untuk Majalah HIDUP di Jakarta, Majalah BAHANA di Yogya, dan sejumlah media lain. Namanya juga tanpa penugasan, media “tidak wajib” memuat. Malah lebih banyak yang tidak dimuat daripada yang dimuat. Menyesal nan menyerah? Tidak! Menyerah berarti tidak punya uang. Bisa dibayangkan kalau seorang mahasiswa tidak punya. Meski penghasilan menulis itu tidak seluruhnya bisa menutupi kebutuhan hidup, namun sangat berarti. Malah selain mencukupi kebutuhan perut, penghasilan itu juga memenuhi kebuthan batin. Ada kepuasan karena bisa menghasilkan uang. Selain itu ada juga teman-teman yang kagum dan puji-puji sedikit.

Hal yang paling membanggakan dan tidak terlupakan, saya pernah menjadi wartawan Majalah PRABA, sebuah majalah yang tadinya utuh berbahasa Jawa, tapi kemudian menjadi dwi bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa). Saya mengerjakan bagian yang berbahasa Jawa. Di sini saya “dipaksa” berkreasi untuk merancang isi majalah mulai dari Laporan Utama, Peristiwa dan rubrik-rubrik lain. Bekerja seorang diri. Status sebagai “Redaktur Pelaksana”, tapi bertindak sebagai apa saja dengan gaji yang sangat minim. Bayaran setiap tulisan mulai dari 7.500 rupiah sampai 25 ribu rupiah.

BACA JUGA:  IN MEMORIAM Pater Wilhelm Waneger, CSsR (1933-2020) Ketika Kepergian Harus dalam Sunyi

 Di PRABA saya belajar banyak hal sambil juga mengirim tulisan ke koran-koran nasional seperti KOMPAS, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, BERNAS, Kedaulatan Rakyat, dan lain-lain. Sekali lagi, jauh lebih banyak yang tidak dimuat daripada yang dimuat.

Sejak lepas kuliah, saya bekerja pada beberapa media secara berganti-ganti, dan sampai saat ini tetap saja jadi wartawan. Mungkin ini yang disebut “tak bisa ke lain hati”.

Sambil menjadi wartawan, saya dapat peluang menulis beberapa buku sederhana. Setidaknya dengan itu, saya sudah bisa sedikit memenuhi “sabda” tokoh legendaris Pers Indonesia Jakob Oetama si “Presiden Republik Kompas” bahwa “Buku adalah Mahkota Wartawan”. Tampaknya, ke depan saya akan tetap jadi wartawan dengan segala kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasannya.

Selamat Hari Pers Nasional!

Emanuel Dapa Loka

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here