Pikiran Bukan untuk Merancang Kebohongan, dan Hati Bukan untuk Menimbun Kebencian

238

Romo John Kota Sando, dari Merauke

Karena tubuh kita adalah Kenisah Roh Kudus, maka pakailah tanganmu untuk melayani dan hatimu untuk mengasihi—Mother Teresa

Terkisahkan, ketika Perang Dunia II terjadi, seorang tentara memasuki sebuah gedung gereja yang hancur terkena bom. Di dalamnya ia menemukan corpus (tubuh) dari salib. Corpus itu tidak lagi memiliki kepala, tangan dan kaki. Dia tertegun cukup lama, lalu mengambil papan mimbar yang tersisa dan menulis di atas papan itu, “Siapakah yang rela menyumbangkan kepala, kaki dan tangannya untuk Tuhan Yesus?”

Jika direfleksikan, kata-kata tersebut mengandung pesan penting, bahwa dengan mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus, setiap kita mengambil peran sebagai  “kepala, tangan dan kaki Yesus”   dalam menghadirkan Kerajaan Allah dan buah-buahnya kepada dunia dan sesama kita.

Panggilan ini membutuhkan ketulusan dan kejujuran hati untuk siap dan rela melaksanakan tugas perutusan tersebut. Tanpa ketulusan dan kejujuran hati, kita akan bekerja setengah- setengah dan acuh tak acuh. Dan orang yang bekerja setengah hati akan sulit berkorban dan sulit keluar dari kelekatan diri dan zona nyamannya untuk melayani Tuhan dan sesama. Bagaimana  seseorang dapat dikatakan sebagai pengikut Kristus, jika ia tidak tulus dan jujur dalam menjalankan tugas perutusan Yesus untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan buah-buahnya kepada dunia dan sesama?

Ada ungkapan yang mengatakan, “never do things by halves” (jangan pernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah). Atau ada ungkapan Latin yang mengatakan, “brevis esse labora, obcurus fio” (anda akan menjadi orang yang tidak jelas, jika anda hanya berusaha sedikit). Itu artinya orang akan gagal membangun masa depan dan misi kehidupannya, jika ia bekerja setengah hati. Kegagalan dalam membangun rumah tangga yang harmonis dapat terjadi kalau cinta itu cuma “separuh jiwa”.

BACA JUGA:  Hidup kita adalah Pelangi

Pastor, biarawan-biarawati dapat gagal dalam menjalankan misi pelayanannya, jika mereka tidak total dan tulus dalam menghayati panggilannya. Para pejabat dan wakil rakyat akan menjadi pengkhianat rakyat, jika mereka bekerja setengah hati untuk rakyat. Kebahagiaan, keberhasilan, kedamaian dan kesejahteraan hanya dapat terjadi, jika orang melakukan sesuatu dengan ketulusan dan kejujuran hati.

I Sam 3:3b-10.19 berbicara tentang bagaimana seseorang bersikap tulus dan jujur di hadapan Tuhan. Jawaban Samuel kepada Allah, “Bersabdalah, Ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan” (I Sam.3:10) mengungkapkan sesuatu yang berkaitan dengan ketulusan dalam mendengar dan kejujuran dalam bertindak. Samuel begitu tulus mendengarkan suara Tuhan yang memanggilnya dan beberapa kali terbangun untuk memastikan dari mana suara itu dengan bertanya kepada Elia, “ya bapa, bukankah bapa memanggil aku?”, juga mengungkapkan kejujuran hatinya untuk rela dan siap melaksanakan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya sebagai nabi, hakim dan pemimpin bangsa Israel. Segala berkat dan penyertaan Tuhan ada padanya karena ia adalah orang yang tulus dan jujur dalam menjawab panggilan dan tugas perutusan Tuhan di tengah bangsanya sendiri.

Apa yang diceritakan dalam bacaan Injil Yoh.1:35-42 juga berbicara tentang ketulusan dan kejujuran hati para murid Yesus dalam menjawab panggilan dan tugas perutusan Yesus ke tengah dunia ini. Mereka hanya dapat disebut sebagai murid Yesus yang sejati, jika mereka dengan tulus dan jujur mencari Dia, bertemu dengan Dia, bersatu dan tinggal dengan Dia serta siap sedia melaksanakan tugas perutusan-Nya. Masuk ke dalam diri, seringkali kadar keimanan dan semangat pelayanan kita sebagai murid Yesus menjadi lemah bahkan luntur karena kita tidak tulus dan jujur mencari Dia, bertemu dengan Dia, bersatu dan tinggal di dalam Dia. Kita menjadi pendusta di hadapan Tuhan, karena ketika kita menyebut Dia sebagai Jalan, kita justru mengikuti jalan kita sendiri. Kita menyebut Dia sebagai Terang,  tetapi tidak “melihat” Dia yang selalu hadir dalam keseharian hidup kita. Kita menyebut Dia sebagai Guru, tetapi kita tidak mendengarkan Dia. Kita menyebut Dia sebagai Kebenaran, tetapi kita tidak sungguh percaya kepada-Nya. Kualitas dari integritas pribadi kita hanya dapat terukur dengan baik, jika kita tulus dan jujur mengimani dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Tanpa hal tersebut kita menjadi orang Kristen yang selalu hidup dalam kepura-puraan. Kepura-puraan itu tidak saja mencederai kemuliaan Tuhan, tetapi juga merugikan diri sendiri dan menghancurkan kehidupan orang lain.

BACA JUGA:  Ebiet G. Ade dan "Nyanyian Suara Hati" di Tengah Pandemik

Bacaan dari I Kor.6:31c-15a.17-20 mengingatkan kita supaya senantiasa sadar akan martabat diri kita sebagai citra Allah, yang harus menggunakan tubuh kita untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi saluran kebaikan bagi sesama. Betapa berharganya diri kita di hadapan Allah sampai Ia menjadikan tubuh kita sebagai kenisah kediaman-Nya, bait Roh Kudus (bdk.I Kor.6:19).

Kesadaran inilah yang membuat Bunda Teresa dari Calcutta mengatakan, “karena tubuh kita adalah Kenisah Roh Kudus, maka pakailah tanganmu untuk melayani dan hatimu untuk mengasihi”. Pantaskah kita berdusta di hadapan Allah dengan hidup keagamaan yang penuh dengan kepura-puraan? Pantaskah kita menjawab panggilan Tuhan dan melaksanakan tugas perutusanNya dengan setengah hati?

Kita perlu berefleksi dan berintrospeksi diri, apakah kita sudah sungguh menggunakan anggota tubuh kita sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan? Apakah kita sudah sungguh menggunakan anggota tubuh kita sebagai saluran kebaikan bagi sesama? Apakah kita sudah sungguh bertanggungjawab terhadap kesehatan tubuh kita? Apakah kita memoles dan memperindah tubuh kita dengan tujuan untuk memegahkan diri, bukan sebaliknya memegahkan Tuhan? Atau mungkin saja kita menjadikan anggota tubuh kita sebagai senjata kelaliman (bdk. Rm.6:13)?

Karena itu janganlah kita memakai otak kita untuk merancang kebohongan dan merencanakan kejahatan. Janganlah memakai hati kita untuk menimbun kebencian, amarah dan dendam kesumat. Janganlah memakai mulut kita untuk berbicara tidak sopan, menghardik, menghakimi, melecehkan dan memfitnah orang lain. Jangan memakai mata kita untuk melihat keburukan orang lain, lalu lupa melihat keburukan diri sendiri. Jangan memakai tangan dan kaki kita untuk membunuh, mencuri, menindas dan melakukan kekerasan. Jangan memakai telingan kita untuk mendengar gosip murahan, tetapi pakailah untuk mendengar Sabda Allah.

BACA JUGA:  Jangan Hanya di Bibir, Kawan!

Saudara-saudariku, tidak setiap hari selalu baik, tetapi akan selalu ada kebaikan di setiap harinya. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi Tuhan menjadikan manusia sungguh berharga di mata-Nya dan menjadikan tubuhnya sebagai tempat kediaman-Nya, anggota Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Maka jadilah pribadi yang tulus dan jujur di hadapan Tuhan dan sesama. Dari sanalah mengalir berkat berlimpah atas kehidupan kita. Tuhan memberkati.

Merauke, 16 Januari 2021.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here